Pentingnya Menjadi Pribadi Resilien dan Pemaaf Bagi Penderita Odapus
Sumber gambar: www.pesli.org
in

Pentingnya Menjadi Pribadi Resilien dan Pemaaf Bagi Penderita Odapus

UGET UGET – Penderita penyakit lupus − yang biasa disebut dengan Odapus cenderung menjadikannya cemas, minder, dan gelisah akibat penurunan dan perubahan kondisi fisik − ketika harus bergaul dengan orang lain. Untuk itu perlu penanganan psikologis untuk membantu penderita Odapus supaya berpikiran optimis untuk bertahan hidup.

Biasanya Odapus memiliki karakter menonjol yang cenderung mengontrol segala sesuatu agar berjalan sebagaimana mestinya. Ini seringkali membuat mereka hilang arah dan merasa tak berarti. Menurut penjelasan psikiater dr. Mega Dhestiana, SpKJ, MSc. dalam Seminar Psikoterapi “REBORN: Resiliency ‘I am’,” seorang Odapus terbiasa memendam emosi negatif dalam dirinya daripada berusaha untuk mengungkapkannya. Ini dilakukan sebab mereka tak ingin membebankan masalah pribadinya pada orang lain.

Reaksi tersebut sejatinya muncul sebagai bentuk adaptasinya. Namun, sikap tersebut justru berisiko pada kejiwaannya, terutama karena faktor stress dan depresi. Sebaliknya, apabila adaptasinya positif, mereka dapat mencapai resiliensi yang optimal. Pola asuh, pengalaman masa kecil, dan hubungan kedekatan dengan orang tua dan saudara kandung berpengaruh besar pada semangat hidup Odapus.

Sebelumnya dr. Mega menjelaskan pengertian resiliensi, yakni kapasitas untuk mempertahankan kemampuan, agar dapat berfungsi secara kompeten dalam menghadapi berbagai stressor kehidupan. Resiliensi optimal akan dapat dicapai ketika seseorang masih bisa menemukan sisi positif atau kebaikan dalam dirinya dalam situasi tertekan, sehingga dia mampu untuk bertahan.

Seminar yang diselenggarakan oleh Relawan Lupus Indonesia (RELI) pada Sabtu (25/11) tersebut dihadiri para penderita Odapus, Demensia, Leukimia, tim medis, beberapa kelompok pendamping, dan juga terbuka untuk umum. Menurutnya proses memaafkan penting untuk mengganti emosi negatif menjadi emosi positif.

Dr. Mega juga memaparkan bahwa pada tahun 2020, depresi psikologis bisa menjadi penyakit utama mematikan dibandingkan gangguan jantung atau penyakit mengancam jiwa lainnya. Dia menegaskan, tidak ada kesehatan tanpa kesehatan jiwa. Karenanya tak hanya pada penderita Odapus, penting untuk membukakan pintu maaf pada orang yang telah membuat hati kita terluka.

Proses memaafkan menghasilkan motivasi untuk tidak melepaskan dan membalas emosi negatif. Emosi negatif akan otomatis tergantikan dengan sikap positif, welas asih, dan kebajikan. Dalam seminar tersebut, kita semua diajarkan untuk menggali komponen resiliensi dalam diri masing-masing yang sekiranya bisa dijadikan sebagai harga diri (self esteem).

Kompenen tersebut meliputi; I have, I am, dan I can. I have meliputi kepercayaan, cinta, inisiatif, role model positif, inisiatif personal, perhatian, perlindungan. I am berusaha menilik kembali apakah kita dicintai, dihargai, memiliki empati, tanggung jawab, dan percaya diri. Sedangkan I can berupa upaya kita dalam berkomunikasi, mengontrol diri, menyelesaikan masalah, meminta bantuan, membuat keputusan yang tepat.

Mengutip kalimat Rutter, RELI berpesan pada kita semua, “Tidak ada individu yang terlalu muda yang dapat menantang risiko apapun, dan tidak ada individu yang terlalu tua yang terlambat untuk mencegah terjadinya risiko apapun.”

Ya, kita semua memiliki risiko masing-masing. Hal yang perlu kita lakukan adalah memperkuat resiliensi agar dapat hidup penuh semangat dan optimisme. Sebab individu yang resilien akan lebih baik dalam menjalankan tugas-tugas perkembangannya.

Sumber gambar: www.pesli.org

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Banjir bandang di Yogyakarta: Musibah Membawa Berkah

Banjir bandang di Yogyakarta: Musibah Membawa Berkah

Festival Film Jepang Akan Segera Digelar di Yogyakarta

Festival Film Jepang Akan Segera Digelar di Yogyakarta