Inilah Pelayan Manusia di Masa Depan: Otomat Sally
Sumber gambar: Food and Wine Magazine
in

Inilah Pelayan Manusia di Masa Depan: Otomat Sally

UGETUGET – Namanya Sally. Sehari-hari ia bekerja membuat 1.000 jenis salad yang ajaibnya hanya berbahan dasar 21 macam sayuran saja. Fantastis, bukan? Sally bisa membuat salad dalam waktu 1 menit dan yang paling mengagumkan, khusus bagi mereka yang berniat membuka usaha kuliner, Sally tidak membutuhkan upah ataupun honor bagi pekerjaannya. Yah, Sally adalah sebuah robot. Sebuah otomat Sally. Itulah mengapa Sally tidak membutuhkan upah.

Dilansir dari Futurism.com, Startup Chowbotics, pencipta dan perancang robot salad Sally, yakin bila Sally akan mendapat tanggapan positif dari masyarakat. Ke depan, Sally akan menjadi pramusaji dan koki yang setia kepada penyajian makanan sehat. Menjadi sahabat yang tak pernah bosan mengingatkan pentingnya gaya hidup sehat.

Di tempat Sally, para pembeli akan disodori menu yang dirancang khusus oleh koki eksekutif Google yang pertama, chef Charlie Ayers. Namun, bagi pembeli dengan kreatifitas lebih, chef Charlie juga mempersilahkan pembeli untuk merancang sajiannya sendiri dengan bahan baku.

Pemimpin Chowbotics Deepak Sekar menjelaskan, Sally lahir dari harapannya untuk menyajikan makanan cepat saji yang sehat bagi para pekerja dengan jam kerja yang padat. Tahun depan, Chowbotics akan menguji coba kemampuan Sally dengan menempatkan 125 robot di area perkantoran yang berada di kota San Fransisco.

Zaman Otomat Sally

Inilah Pelayan Manusia di Masa Depan: Otomat Sally
Sumber gambar: Food and Wine Magazine

Sally adalah permulaan. Adalah tanda dan sebuah testimoni dari perjumpaan manusia dengan Zaman Otomat.  Dan menjadi batu pijakan yang mengabarkan, bahwa di masa depan yang tidak jauh, kita akan menjumpai semakin banyak robot dan semakin sedikit manusia.

Saat ini Sally masih membutuhkan campur tangan manusia untuk beroperasi. Bahan baku untuk meracik salad yang ditempatkan pada sebuah tabung perlu diisi ulang menggunakan tangan manusia. Meskipun menggunakan tenaga manusia untuk mengoperasikannya, tetap saja ada perbedaan rasa dari dilayani robot dan dilayani manusia. Ada komunikasi yang hilang dan kerap mengisi warung-warung makan atau restoran cepat saji dengan canda tawa, pertukaran informasi dan terkadang perasaan.

Bagaimana otomatisasi dapat memicu pemutusan kerja skala besar memang tengah didiskusikan secara gencar. Mulai dari Lembaga Swadaya Masyarakat, Pemerintah, Akademisi, dan bahkan hingga warung-warung kopi. Namun sedikit yang membahas bagaimana kemungkinan kita, manusia, yang juga akan turut berubah seiring kemajuan ini.

Jika manusia ditempatkan dalam kondisi yang menjadikannya jarang berjumpa langsung atau berkomunikasi dengan manusia lain, bagaimana pengaruhnya? Biarlah pertanyaa-pertanyan itu dijawab oleh para pengambil kebijakan di atas sana. Kita sebagai masyarakat, baiknya agar selalu siap sedia, untuk menghadapi tantang demi tantangan dari setiap perubahan di masa depan.

Written by Biru Samudra

Penikmat film, sastra, musik dan penyuka bola musiman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Fahrenheit 451: Tentang Karya yang Melampaui Zaman

Fahrenheit 451: Tentang Karya yang Melampaui Zaman

Jangan Larut dalam Kesedihan Ketika Kamu Ditinggal Sidang Skripsi Oleh Temanmu

Jangan Larut dalam Kesedihan Ketika Kamu Ditinggal Sidang Skripsi Oleh Temanmu