Pasar Keroncong Kotagede 2017 Inilah Bentuk Neo Keroncong

Pasar Keroncong Kotagede 2017: Inilah Bentuk Neo Keroncong

UGET UGET – Pasar Keroncong Kotagede 2017 untuk kali ketiga akan digelar Sabtu (9/12) mulai pukul 19.00 sampai 24.00 WIB di seputaran pasar Kotagede. Gelaran ini akan diramaikan oleh lebih dari 12 grup, lima di antaranya berasal dari Kotagede, sedangkan lainnya dari luar Yogyakarta.

Kesemuanya 70% didominasi musisi muda, sedangkan 30% sisanya musisi yang sudah sepuh. “Inilah neo keroncong, keroncong zaman baru, zaman now, dan dengan interpretasi baru,” ucap Djaduk Ferianto, mewakili Tim Kreatif Pasar Keroncong 2017 pada temu media di Kedai Kolega, Jogjatorium, Dagadu Djogja, Rabu (6/12).

Pasar Keroncong dijadikan sebagai ajang interaksi pelaku dan penikmat musik keroncong. Nantinya akan ada tiga panggung yang menyemarakkan acara ini, yakni Panggung Loring Pasar di utara pasar Kotagede, Panggung Kajengan di sebelah utara Masjid Perak, dan Panggung Sopingen bertempat di halaman Pendopo Sopingen.

Dengan tagline ‘Gotong Keroncong Bebarengan,’ melalui acara ini diharapkan kaum muda bisa ikut menyukai dan melestarikan musik keroncong. Tak lupa juga untuk merawat jiwa gotong royong sebagai living heritage dalam rangka mewujudkan masyarakat yang guyub.

Pasar Keroncong Kotagede 2017- Inilah Bentuk Neo Keroncong

Foto: Elisabet Selsyi – ugetuget.com

Djaduk Ferianto mewakili Ketua Panitia ajang ini, Natsir Dabey yang berhalangan hadir, mengungkapkan tagline tersebut sekaligus merefleksikan kesiapan warga Kotagede dalam membangun Indonesia mutakhir. Djaduk bersama teman-teman melihat tradisi gotong royong sudah mulai sedikit merenggang di masyarakat.

“Ajang ini adalah salah satu usaha menyadarkan kembali bagaimana kekuatan dan kebersamaan untuk menciptakan sesuatu bagi bangsa melalui hal kecil, khususnya seni keroncong,” ucap Djaduk. Semangat gotong royong begitu nampak pada persiapan anak muda Kotagede dalam menata artistik, membuat proposal, dan mencari sponsor sejak bulan Juli kemarin.

Para penampil nantinya tidak semuanya memiliki basis keroncong tetapi menggilai betul seni keroncong. Djaduk menyebutkan para penampil yang terpilih sudah melalui tahap kurasi yang sangat selektif. Mereka adalah pemusik profesional yang memiliki kualitas yang bagus. Dia menginginkan, keroncong tidak hanya berhenti pada klangenan (kesenangan) saja. “Tapi sebagai medium untuk berekspresi, mendekatkan pada publiknya yang lebih in,” tegasnya.

Sejalan dengan itu, Rose Sutikno selaku Sekretaris Dinas Pariwisata DIY juga mengharapkan ajang ini dapat menjadi sarana melestarikan budaya keroncong Kotagede. “Selama ini keroncong seolah-olah diasosiasikan sebagai musiknya orang tua, tapi dengan event ini keroncong juga untuk kaum muda.”

Kotagede yang dikenal memiliki beragam budaya, melalui acara ini sekiranya dapat mendunia. “Wisatawan akan berdatangan sehingga bisa mengenal lebih jauh Kotagede,” tutup Rose.

Sumber gambar: nationalgeographic.co.id

No Responses

Show all responses

Write a response