Pantai Wohkudu di Gunung Kidul Cocok Jadi Tempat Camping

Pantai Wohkudu di Gunung Kidul Cocok Jadi Tempat Camping

UGET UGET – Pantai Wohkudu, pantai pasir putih yang dijaga oleh belasan anjing hitam dan coklat, cocok buat tempat camping. Tentunya, karena suasananya jauh dari keramaian.

Sebelum tahu lebih lanjut tentang suasana pantainya, yang perlu diketahui terlebih dahulu adalah belasan atau mungkin puluhan anjing-anjing di sana bukanlah anjing liar. Anjing-anjing tersebut sengaja dipelihara oleh pemiliknya. Dibiarkannya berkelana di sepanjang jalan menuju pantai. Bahkan, naik turun bukit hanya sekadar mencari sisa-sisa makanan dari pengunjung.

“Tenang saja, anjing-anjing itu tidak akan menggigit manusia, tapi nggigit monyet,” ujar Mbok Waji, satu-satunya pedagang di pantai Wohkudu.

Menariknya, di sana tidak hanya terdapat anjing saja, tetapi terdapat puluhan monyet yang berkeliaran. Ukuran monyetnya beragam. Ada monyet yang berukuran kecil sampai besar. Hanya saja monyet-monyet itu bersembunyi di atas bukit.

Setiap puluhan monyet yang turun dari bukit langsung menyerbu ladang milik petani. Tak perlu tebang pilih, semua tanaman diambil dan dimakan oleh monyet-monyet itu. Akhirnya, rusak semua tanaman milik petani.

Tak perlu waktu yang lama. Ketika anjing-anjing itu melihat ada monyet yang turun ke ladang, mereka akan mengejarnya hingga dapat. Seketika, puluhan monyet berbondong-bondong naik ke atas bukit.

“Pernah dulu ada yang ketangkap monyetnya, langsung mati,” kata Mbok Waji. Itulah kenapa sebagian besar petani di pantai Wohkudu memelihara anjing.

Sepenggal kisah unik di atas mengawali bagaimana keunikan pantai Wohkudu yang tentunya belum pernah atau tidak banyak orang yang tahu.

Pantai Wohkudu terletak di Kampung Nglaos, Dukuh Wiroso, Desa Girikerto, Kecamatan Panggang, Gunung Kidul. Cukup satu jam perjalanan dari Bantul menuju pantai Wohkudu. Tidak jauh dari lokasi pantai ini, terdapat pantai tebing Kesirat. Tempat tersebut hanya berjarak 600 meter dari Pantai Wohkudu.

Lokasi wisata Pantai Wohkudu belum banyak terjamah orang. Bahkan, belum sepenuhnya diberdayakan oleh pemerintah setempat.

Dilihat dari tiket masuk pantai ini terbilang di bawah harga tiket masuk pantai lain, seperti pantai Indrayanti atau Pantai Krakal. Harga tiket di pantai Indrayanti dan Krakal dibandrol dengan harga sepuluh ribu rupiah per orang. Belum ditambah jasa parkir.

Berbeda dengan pantai Wohkudu, cukup dengan uang tiga ribu rupiah per motor ditambah jasa parkir dua ribu rupiah per motor. Jadi, cukup uang lima ribu rupiah saja bisa menjelajah pantai Wohkudu sekaligus pantai tebing Kesirat.

Sampai di tempat parkir, harus dipersiapkan dahulu bekal minuman untuk perjalanan menuju pantai. Di sana, pengunjung harus jalan kaki terlebih dahulu untuk menuju pantai dengan menuruni bukit. Hanya sekitar sepuluh menit sudah sampai tujuan.

Di tengah perjalanan menuruni bukit, disuguhkan pohon-pohon tinggi yang hijau subur. Jalannya hanya setapak dan berbatu. Jika turun hujan, jalan bakalan licin. Diusahakan untuk memakai sepatu, ya.

Ada pula satu rumah bambu beratap rapak. Ternyata itu kandang sapi milik salah satu warga. Nah, jarak kandang sapi dengan rumah warga bisa mencapai sekitar 1,5 km. Uniknya, si pemilik sapi percaya jika sapi-sapi itu tidak akan dicuri.

Sepuluh menit telah berlalu. Mata pengunjung akan langsung dihidangkan kilauan pasir putih yang dikelilingi tanaman bunga berwarna ungu yang membentuk jalan setapak. Tanaman bunga yang tumbuh itu seakan menghantarkan pengunjung ke tepi laut.

Saat gelombang air surut tiba, ombak sudah tak berani lagi menerjang karang. Dibiarkannya kaki-kaki yang belum dikenalnya mendaki karang yang tak bertuan. Duduk di atasnya sambil mencuci mata yang telah lama kering dan haus akan keindahan.

Tak cukup bersantai ria saja di atas karang. Pengunjung biasanya mengubah posisi berdiri atau duduk yang pas untuk berfoto dengan gaya trendy, asal tetap happy.

Pukul 12.00 WIB gelombang air pasang mulai tiba. Ombak akan mengejar kaki-kaki itu hingga kurang lebih 50 meter sampai melewati bibir laut. Saat itulah, kaki-kaki itu tak bisa lagi menginjak karang. Sebagian pengunjung hanya bisa berteduh di bawah bukit. Kemudian, sebagian dari mereka lagi memilih untuk berteduh di warung milik Mbok Waji.

Warung Mbok Waji adalah warung satu-satunya yang berada di Pantai Wohkudu. Warung itu dibuatkan oleh suaminya yang dibantu oleh salah satu pengunjung yang kerap kemah di sana dengan izin pemerintah desa.

Dinding warungnya hanya terbuat dari batang pohon yang ditata rapi. Kemudian, diselimuti asbes pada setiap bagian dinding dan atapnya. Ukuran warungnya pun hanya sekitar 2,5 m x 2,5 m. Lebih dari cukup untuk menaruh semua dagangannya.

Mbok Waji juga menyediakan tempat sholat di samping gubugnya. Tempatnya sederhana karena hanya beralaskan satu karung yang berukuran sekitar 1m x 0.5m. Untuk airnya, ia mengambil dari rumahnya yang kemudian ditampung dalam tempayan dan digunakan untuk wudhu.

Ia tidak mematok tarif untuk wudhu dan sholat. Hanya seikhlasnya saja. Tidak heran, jika sebagian pengunjung akrab dengan Mbok Waji. Terlebih, sikapnya yang kerap menyapa pengunjung.

Keindahan dan keunikan Pantai Wohkudu seakan menjadi pesona bagi wisatawan. Pantai yang belum banyak terjamah orang ini seakan menjadi panggilan alam bagi mereka yang ingin menikmati pesona pantai tanpa khawatir akan terusik. So, jadikan wisata Pantai Wohkudu sebagai pilihan wisatamu.

Sumber gambar: anekatujuanwisata.com

1

Yuk, Dapetin Konten Keren di Email

Kita pilihkan konten yang pasti kamu suka. Masukkan emailmu