Bertamasya ke Panggung Hiburan Masa Hindia Belanda
Sumber gambar: thetab.com
in

Bertamasya ke Panggung Hiburan Masa Hindia Belanda

UGET UGET – Apa jadinya panggung hiburan yang belum mengenal industri teknologi yang sedemikian maju seperti hari ini? Di zaman Hindia Belanda, hiburan dinikmati lewat panggung-panggung keliling dan gedung teater yang sangat terbatas. Suasananya seperti layar tancap yang masih bisa kita temui beberapa dekade lalu. Hiburan untuk rakyat, semua bisa menyaksikan.

Para Penghibur yang ditulis oleh Fandy Hutari adalah risetnya yang mendalam dari peristiwa-peristiwa hiburan yang terjadi di zaman Hindia Belanda. Posisi artis di dalam masyarakat, persaingan kelompok-kelompok panggung keliling, hingga konsep go international yang juga sudah dikenal di zaman itu.

Dunia hiburan modern di Indonesia selaras dengan masuknya penjajahan. Dia diperkenalkan, lalu digubah dengan selera pasaran masyarakat Indonesia kala itu. Menurut Fandy, setidaknya dunia hiburan diisi oleh tiga macam pementasan: film, sandiwara (dahulu disebut tonil), serta musik.

Menurut Fandy, embrio tonil muncul pada 1891. Dimulai oleh, “Seorang Indo-Prancis, August Mahieu, menampilkan sebuah pertunjukan opera Barat dengan bahasa Melayu. Ia membentuk rombongan sandiwara keliling yang diberi nama Komedi Stamboel di Surabaya. Cerita-cerita yang dimainkan mengangkat legenda 1001 Malam.”

Selain komedi, ada pula Opera Stamboel, Opera Permata Stamboel, Indera Ratoe Wilhelmina, Sinar Bintang Hindia, Indera Bangsawan, dan Opera Bangsawan. Mereka melakukan banyak pementasan dan pertunjukan kesenian, sebagiannya diselingi dansa-dansa Barat yang tengah populer; ceritanya diperkaya dengan cerita-cerita realis yang sedang terjadi, seperti “Si Tjonat”, “Njai Dasima”, dan “Oie Tam Bah Sia”, juga yang bersumber cerita-cerita Barat, seperti “Hamlet”, “Soeatoe Saoedagar dari Venetie”, dan “Penganten di Sorga”.

Pementasan-pementasan itu bermuara pada 17 artis yang kehidupannya diteliti oleh Fandy. Tan Tjeng Bok, Roekiah, Kartolo, Annie Landouw, Pak Wongso, Fifi Young, Syech Albar, Ratna Asmara, Astaman, Djoemala, Raden Mochtar, Dahlia, Wolly Sutinah, Miss Dja, Miss Riboet, S. Abdullah, dan Andjar Asmara. Tujuh belas orang yang ditulis Fandy seringkali berhubungan satu sama lain, misalnya pernah terlibat dalam rombongan tonil atau film yang sama. Sehingga, penuturan kisah satu orang bisa melengkapi kisah yang lain.

Industri hiburan zaman itu merupakan wilayah bisnis yang baru dan sangat menjanjikan. Apalagi jika berhasil bergabung dengan dua kelompok besar bernama Miss Riboet Orion dan Dardanella. Lumrah bagi keduanya saling membajak artis. Bahkan Fandy menulis keduanya juga melibatkan dukun dalam persaingan mereka.

“Menurut Dja, Miss Riboet Orion menyewa dukun dari Jawa Tengah untuk bisa mengalahkan Dardanella. Sedangkan Dardanella kabarnya juga menggunakan jasa dukun dari Cirebon.” (hal. 134-135).

Bukan hanya dengan dukun, persaingan keduanya juga kelihatan dari tur-tur yang mereka lakukan. Untuk yang satu ini, Dardanella unggul. Rombongan ini menggelar pertunjukan lintas benua pada 1935. Namanya diganti jadi The Royal Bali Dancers, kemudian diganti lagi menjadi Devi Dja’s Bali-Java Dancers. Pertunjukan Dardanella ke Singapura, India, Burma, Semenanjung Malaya, beberapa negara Eropa, hingga Amerika Serikat, menunjukkan bahwa sejak dulu, konsep go international selalu bergengsi buat pelaku kesenian tanah air.

Apa yang ditulis Fandy hanyalah sketsa-sketsa singkat dari riwayat 17 artis masa itu. Memang sejarah kita terbentur dengan sedikitnya buku-buku yang merekam peristiwa-peristiwa keseharian di zaman penjajahan. Lebih banyak tentu mengenai politik dan pemberontakan, dan hal-hal yang serius. Berbekal tiga buku utama, Sejarah Film 1900-1950; Bikin Film di Jawa karya Misbach Yusa Biran. Buku lain yang digunakan sebagai pijakan adalah buku Katalog Film Indonesia 1926-2005 karya JB Kristanto.

Namun kita bisa menarik kesimpulan, betapa para penghibur di masa Hindia Belanda berkreasi, diterima masyarakat luas dari lokal sampai internasional. Penuh karya dan dedikasi, bukan sekadar mengangkat nama lewat isu-isu kontroversial. Buku ini dapat menambah pengetahuan, terutama hal-hal yang telah hilang ditinggal modernitas zaman.

Sumber gambar: thetab.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Keberuntungan Sedang Berpihak Pada Perbuatan Baik Evoni Williams

Keberuntungan Sedang Berpihak Pada Perbuatan Baik Evoni Williams

Gumuk Pasir Di Pantai Parangkusumo

Gumuk Pasir Di Pantai Parangkusumo