Kekaisaran Orang-Orang Kerdil di China
Sumber gambar: mytechnologyworld9.blogspot.co.
in

Kekaisaran Orang-Orang Kerdil di China

UGET UGET – Di tengah pertumbuhan ekonomi China yang menakjubkan, dengan gemerlapnya pusat-pusat metropolitan baru, terdapat sisi kelabu yang ganjil dan bahkan tak masuk akal. Bayangkan saja, di China terdapat sebuah taman pariwisata yang dihuni oleh 100-an orang-orang kerdil (cebol).

Setiap hari mereka menyanyi dan menari untuk menghibur para wisatawan. Di atas panggung pertunjukan, mereka tampil begitu indah layaknya dunia fantasi. Namun di balik layar panggung, kehidupan mereka begitu mengharukan.

Pemandangan semacam itu tentu aneh bagi kita, meski kita punya masalah sosial dan ekonomi yang hampir sama dengan China: kesenjangan sosial yang tinggi telah melahirkan kemiskinan dan ketersisihan sebagai “sub-kultur” bagi mereka yang tidak memiliki kualifikasi dalam sistem ekonomi modern, entah disebabkan kurangnya keterampilan atau keterbatasan fisik, seperti orang-orang cebol di China.

Meskipun begitu, bagi kita mengumpulkan orang-orang cebol dalam sebuah taman wisata tetaplah terasa aneh dan ganjil. Tampaknya rasa aneh kita lebih disebabkan oleh perbedaan budaya daripada kemiskinan dan ketersisihan yang “sama wajarnya” dengan di China.

Hal itu pula yang dirasakan oleh fotografer Sanne De Wilde ketika berkunjung ke taman itu yang terletak di pegunungan China Selatan, tepatnya di kawasan baru kota Kunming. Melihat kehidupan di taman itu, De Wilde seperti tengah menyaksikan sebuah pemandangan dari zaman Victoria di Inggris.

Kekaisaran Orang-Orang Kerdil di China
Sumber gambar: mytechnologyworld9.blogspot.co.

Orang-orang cebol itu menari dan bernyanyi di atas panggung, dalam pertunjukan fantasi yang rumit dan indah, dengan dipimpin oleh seorang kaisar dan permaisuri. Sebuah “Kerajaan Orang-orang Cebol” (The Dwarf Empire), De Wilde memberi judul bagi buku kumpulan foto tentang kehidupan taman itu,atau menyebutnama resminya: “Taman Botani Kupu-kupu” (Eco Garden of Butterflies).

Kunjungan De Wilde bermula pada tahun 2011. Ketika itu ia melihat foto seorang turis China tengah berpose dengan orang-orang cebol. “Itu cukup mengejutkan saya, tapi sekaligus membuat saya penasaran,” ujar De Wilde, yang lahir di Belgia dan sejak muda menetap di Amsterdam, sebagaimana dikutip oleh The Guardian.

Tak lama kemudian ia pun melakukan perjalanan ke China untuk mengunjungi The Dwarf Empire. Tapi sesampainya di sana ia merasa ada sesuatu yang aneh. Apa yang ia lihat adalah sebuah kehidupan menyedihkan yang jauh berbeda dengan gambar dan informasi di brosur wisata yang layaknya kehidupan di taman modern.

Orang-orang datang dan mengeluarkan uang untuk menyaksikan lagu, tarian, dan berfoto dengan orang-orang cebol. “Di Barat, hal semacam ini mungkin akan dianggap sebagai gejala voyeuristik.

Voyeuristik adalah gejala psikologis berupa rasa ingin tahu berlebihan yang disebabkan adanya dorongan terhadap orang lain untuk mengintip, mengambil gambarnya dan memandanginya secara obsesif.

De Wilde tidak ingin menjadi bagian dari masalah voyerisme tadi, tapi memilih sebagai fotografer yang ingin melihat kehidupan di tempat itu lebih dalam, mengungkap kontradiksi dan paradoks di taman pariwisata itu, antara citra fantasi pada brosur wisata dengan kehidupan yang sebenarnya dari orang-orang cebol itu.

Awalnya De Wilde menyewa seorang penerjemah, tapi ia melihat ada masalah di situ. “Saya menyadari bahwa ia (penerjemah) tidak mengajukan pertanyaan yang saya berikan dengan selalu berkata, ‘Tidak, kita tidak perlu pergi ke sana.’”

Maka De Wilde mencari cara lain untuk memotret. Ia tidak ingin orang-orang itu selalu melihat ke arah kamera. Ia memotret segala sesuatunya, termasuk perabotan, sambil berjongkok. ”Praktis secara konseptual itu proyek yang sangat sulit, terutama karena saya harus mempertanyakan diri saya sendiri sepanjang waktu,” ujarnya.

Bagian tersulit adalah saat ia berinteraksi dengan para wisatawan. Di taman itu banyak dari mereka yang memperlakukannya sebagai orang asing. “Seolah-olah saya begitu tinggi, putih, berambut pirang layaknya Putri Salju. Mereka juga ingin memotret saya terus-menerus. Orang-orang akan mengambil (gambar) saya dan mendorong saya ke arah kamera, memaksa saya masuk ke dalam bingkai. Pada satu titik, saya tidak bisa bernapas, jadi saya berlari ke belakang dan bersembunyi bersama orang-orang yang telah akrab dengan saya.”

Dalam buku koleksi fotonya De Wilde akan memasukkan foto-foto yang diambil sendiri oleh mereka. “Untuk memberi mereka ruang yang mengartikulasikan apa yang mereka rasakan sebagaimana dalam kehidupan mereka sehari-hari.”

Ia melihat banyak dari mereka tampak merasa bosan dan lesu dengan kehidupan di taman itu. Namun, ketika De Wilde menanyakan beberapa hal, termasuk pasangan yang telah meninggalkan The Dwarf Empire, mereka menganggap tempat itu sebagai “tempat yang indah dan bahkan semacam surga”.

Bagi mereka tempat itu memberi “bukan hanya lingkungan sosial, tapi juga rasa memiliki”. Ketika ia bertanya apakah mereka merasa senang hidup di tempat itu, mereka cenderung tidak mengerti maksud pertanyaannya. “Di Barat, orang terobsesi pada kebahagiaan, tapi bagi mereka, karena bagi kebanyakan orang China, kebahagiaan tidak masuk di dalamnya. Ini adalah soal bagaimana mesti bertahan hidup.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Ini 5 Penemuan Muslim Mengubah Dunia

Ini 5 Penemuan Muslim yang Mengubah Dunia

Replika Surga itu Adalah Segaran

Replika Surga itu Adalah Segaran