Tak Mau Ketinggalan, Nenek Si Pemulung Gemar Bawa Ponsel
Sumber gambar: kimkentongan.blogspot.co.id
in

Tak Mau Ketinggalan, Nenek Pemulung Gemar Bawa Ponsel

UGETUGET – Pernahkah melihat seorang nenek pemulung rongsokan gemar bawa ponsel? Padahal, usianya  sudah memasuki masa senja, sekitar 65 tahun, tapi tak mau ikut ketinggalan.

Benarkah usia bukan menjadi pembatas penggunaan ponsel? Benarkah pula pekerjaan sebagai pemulung rongsokan bukan menjadi penghalang untuk bisa melek teknologi?

Ponsel atau sering kita sebut handphone, kini sudah mampu mengubah gaya hidup seseorang. Selain harganya yang murah, barangnya juga mudah didapat.

Kisah seorang nenek asal Karang Singosaren, Banguntapan, Bantul yang melek handphone, membuka mata dunia untuk melihat sejauh mana teknologi mampu mengubah gaya hidup masyarakatnya.

Gaya hidup saat ini terlihat jauh berbeda dengan gaya hidup zaman dulu. Seolah-olah handphone pada zaman sekarang ini sudah menjadi kebutuhan khusus. Hal ini tidak bisa dipungkiri bahwa perkembangan teknologi saat ini semakin meroket dengan didukung fasilitas yang mudah dan murah.

Keterbatasan usia dan pekerjaan sang nenek sebagai pemulung rongsokan bukan menjadi pembatas untuk memiliki handphone. Sang nenek memiliki alat itu sejak dua tahun yang lalu, setelah sang suami membelikannya.

Sang suami rela menjual kambing miliknya demi membelikan istrinya sebuah alat komunikasi sederhana itu. Hasil dari penjualan kambing sebesar lima ratus ribu rupiah, mampu ia belikan dua buah handphone. Satu untuk dirinya dan satu lagi untuk istrinya.

Lantas, untuk apa sang nenek memiliki handphone? Padahal, pekerjaan sehari-harinya hanyalah sebagai pemulung rongsokan yang pendapatan sehari saja tidak menentu, yaitu sekitar Rp 20.000. Itupun tergantung jumlah rongsokan yang dijual.

Selain itu, ia juga harus menunggu kira-kira seminggu lamanya, barulah barang rongsokan itu bisa dijual kepada juragan rongsok yang setiap kali mengangkut barang rongsokannya di rumah.

Setiap hari ketika mengais rongsokan, sang Nenek harus menunggu terlebih dahulu di bawah pohon yang dipenuhi tumpukan sampah daun dan ranting kering, di samping sebuah bak berukuran sekitar 2 x 2 meter dengan bau khas sampah yang menyengat.

Ia menunggu kurang lebih setengah sampai satu jam, barulah petugas kebersihan sekolah negeri di daerah Banguntapan datang dengan mengangkut barang-barang yang sudah tak terpakai.

Setelah petugas kebersihan itu datang, barulah si nenek masuk ke dalam bak sampah. Dengan kedua tangannya yang berselimut kulit keriput, ia mengorek-orek barang rongsokan yang masih layak dijual. Barang rongsokan yang dipilihnya seperti botol-botol plastik atau kaca, berbagai jenis kertas yang mulai ditumbuhi jamur, dan lain-lainnya.

Semua barang rongsokan yang telah dipilih, kemudian ia masukkan ke dalam karung plastik berukuran kurang lebih satu meter. Walaupun tidak penuh satu karung, bagi sang nenek itu sudah lebih dari cukup daripada tidak dapat sama sekali.

Usai sang nenek mengais barang rongsokan, barulah ia mengeluarkan handphone. Bukan maksud untuk pamer atau gaya-gayaan ikuti trend, tetapi ternyata sang nenek yang kerap disapa Mbah Misni ini menggunakan handphone untuk meminta jemput suaminya di tempat itu.

Keadaan kaki kiri Mbah Misni yang pernah dijahit akibat jatuh saat latihan naik sepeda mengharuskan Mbah Misni untuk diantar jemput oleh sang suami, sehingga untuk menghubunginya, ia harus menelepon. Sejak itulah, sang nenek mulai memiliki handphone.

Namun, tidak sekadar alasan itu yang membuat Mbah Misni menggunakan handphone. Melepas kerinduannya kepada anak dan cucunya yang tinggal jauh darinya, memaksa ia juga harus menggunakannya.

Mbah Misni hanya tinggal berdua dengan sang suami, sedangkan anak, menantu, dan cucunya tinggal di Temanggung. Sekali dalam setahun saja tidak mesti anaknya menengok keadaan mbah Misni. Justru ia mengatakan bahwa ia dan sang suami yang harus datang ke rumah anaknya, dengan alasan keadaan ekonomi sang anak yang tidak mencukupi untuk kembali ke rumah mbah Misni.

Fakta bahwa usia bukan menjadi pembatas untuk bisa memiliki sekaligus mengoperasikan handphone, memang dirasakan Mbah Misni. Walaupun umurnya telah dilewati selama kurang lebih 65 tahun, untuk mengoperasikannya tidaklah sulit. Ia mampu menekan setiap tombol telepon dan menunjuk nomor telepon yang ada di kontaknya. Hanya saja, Mbah Misni tidak bisa menulis pesan singkat atau SMS. Ia hanya mampu menelepon saja.

Mulutnya yang kemerah-merahan karena susur yang selalu dikunyahnya, tiada henti-hentinya menceritakan kisah hidupnya. Sejak kehadiran alat inilah, perjalanan kisah hidup Mbah Misni terasa lebih mudah. Ia bisa dengan mudah bertukar cerita dengan sang anak, walaupun terpisah jarak antara Jogja – Temanggung, meminta jemput sang suami, sekaligus meminta juragan rongsok untuk mengambil barang rongsokannya di rumah.

Bagi Mbah Misni, kegemarannya membawa ponsel bukanlah bentuk ajang pamer, melainkan sebagai salah satu cara penunjang pekerjaan di hari tuanya. Mbah Misni juga menjadi bukti bahwa usia dan pekerjaan apapun bukan menjadi pembatas seseorang untuk melek teknologi.

Sumber gambar: kimkentongan.blogspot.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Tulus Mengguncang GOR Amongrogo Yogyakarta

Tulus Mengguncang GOR Amongrogo Yogyakarta

Sepak Bola Sebuah Permainan yang Tidak Main-main

Sepak Bola: Sebuah Permainan yang Tidak Main-main