Nada Berbicara Bisa Jadi Sumber Prasangka Buruk
Sumber gambar: www.kerygmateenz.com
in

Nada Berbicara Bisa Jadi Sumber Prasangka Buruk

UGET UGET – Hati-hati dengan nada berbicara. Sesuatu yang tidak buruk bisa saja dianggap buruk dan menimbulkan masalah hanya karena nada kita dalam berbicara tidak pas. Bahkan mungkin banyak kesalahpahaman muncul akibat nada berbicara yang dianggap berkonotasi negatif.

Terkadang kita berbicara  tanpa ada kemarahan, tapi karena nada kita tinggi, kita justru dianggap sedang marah. Padahal, mungkin saja maksud kita hanya untuk memperjelas sesuatu atau memberikan penekanan pada hal-hal tertentu. Tapi orang lain menganggapnya keliru.

Prasangka lain juga timbul ketika kita sebenarnya tidak bermaksud menyinggung orang lain, namun saat berbicara, nada bicara kita tidak tepat, pada akhirnya bisa saja orang lain merasa terluka. Meskipun sebenarnya kita tidak pernah bermaksud melukainya. Ini bisa menjadi kesalahpahaman yang fatal.

Masih tentang kesalahpahaman, terkadang bagi kita yang tidak bermaksud apa-apa namun berbicara dengan suara lembut, bisa saja dianggap menarik perhatian orang lain. Dalam tanda kutip “menggoda”. Sama halnya saat kita mengeluarkan nada bicara yang santai, tapi dianggap manja. Prasangka buruknya, kita dituduh cari perhatian juga. Kalau sudah begini, bisa berabe urusannya.

Untuk itu, kita harus hati-hati dalam berbicara. Selain pemilihan kata yang diucapkan harus benar, nada yang digunakan juga harus tepat, sehingga tidak menimbulkan prasangka dari orang lain yang mendengarkannya.

Selain kita harus bisa menjadi penutur yang baik, kita juga harus dapat mengerti maksud dari lawan tutur dengan baik pula. Jangan sampai terlalu cepat tersinggung bila kita menemukan nada bicara yang tinggi atau menusuk. Coba hadapi dengan positif. Jangan mudah berprasangka kepada orang lain. Dengan begitu, setidaknya kita dapat memperkecil kemungkinan kesalahpahaman yang ada.

Terjadinya kesalahpahaman dalam berkomunikasi memang sudah menjadi sesuatu yang kerap dijumpai. Tapi itu bukan berarti kita dapat menganggapnya wajar dan harus dimaklumi.

Komunikasi yang baik harus bisa menghindari kesalahpahaman atau pun meminimalkan multi tafsir yang dihasilkan dari kata-kata yang terucap. Jadi, sudah sewajarnya kita membenarkan cara berbicara kita, guna memperkecil prasangka buruk yang ada dalam setiap tuturan yang dihasilkan.

Sumber gambar: www.kerygmateenz.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Selebrasi Gol Minta Gendong Favorit Punggawa Liverpool

Selebrasi Gol Minta Gendong Favorit Punggawa Liverpool

Ibu Melahirkan Anak, Ibu Melahirkan Kecerdasan

Ibu Melahirkan Anak, Ibu Melahirkan Kecerdasan