Motivasi Kerja Dalam Lagu Religi Sepohon Kayu - Wafiq Azizah uget uget

Motivasi Kerja Dalam Lagu Religi Sepohon Kayu – Wafiq Azizah

UGETUGET – Agama mampu menjadi motivasi kerja dan merupakan perekat struktur masyarakat karena agama sendiri menjelma menjadi institusi sosial. Agama memuat norma dan aturan layaknya institusi lain, seperti keluarga, ekonomi, pemerintah, pendidikan, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, agama mendefinisikan secara khas sekaligus melandasi persatuan suatu kelompok masyarakat.

Kepercayaan sejumlah besar masyarakat terhadap suatu agama membentuk suatu kelompok dengan tujuan tertentu. Mereka secara sukarela mempercayai dan menerapkan dalil-dalil agama yang mereka yakini dalam kehidupan sehari-hari. Artinya, kepercayaan terhadap suatu agama dapat membuat seseorang meyakini bahwa doktrin agamanya adalah rasional untuk diterapkan dalam kehidupan nyata.

Kepercayaan akan suatu agama dirasa mampu mendukung pengembangan institusi sosial lain. Ini dapat dilihat secara konkret pada kehidupan kelompok agama puritan atau protestan yang hidup saleh pada abad ke-16 dan ke-17 di Inggris. Mereka menganggap bahwa kemewahan dan kesenangan adalah dosa.

Berawal dari etika protestan dan semangat kapitalisme tersebut, Webber (dalam Farihah, n.d, hal. 1) menyebutkan agama adalah salah satu alasan utama perbedaan antara budaya barat dan timur. Seiring dengan perkembangan zaman, kerja keras seringkali dianggap sebagai bentuk perwujudan pengabdian kepada Tuhan.

Max Webber (dalam Farihah, n.d, hal. 1) dalam teorinya berasumsi mengenai kaitan antara doktrin-doktrin agama yang bersifat puritan dengan fakta-fakta sosial terutama dalam perkembangan industri modern telah melahirkan corak dan ragam nilai, di mana nilai itu menjadi tolak ukur bagi perilaku individu itu sendiri.

Kepercayaan seseorang terhadap agama harus tampak dalam aktivitas konkret kesehariannya, terutama dalam hal bekerja. Dengan kata lain, bekerja adalah ibadah karena di dalamnya terkandung nilai-nilai moral, seperti kesalehan.

Kasih Tuhan diwujudkan dalam keselamatan terhadap orang yang memunyai etos kerja yang baik. Dalam hal ini, lirik lagu religi Sepohon Kayu mencerminkan bagaimana Tuhan akan mencintai umatnya yang rajin bekerja.

Beberapa penggalan lirik lagu tersebut mengatakan, “Kami bekerja sehari-hari untuk belanja rumah sendiri, walaupun hidup seribu tahun bila tak sembahyang apa gunanya.” Begitu pula dengan, “Kami sembahyang fardhu, sembahyang sunahpun ada bukan sembarang, supaya Allah menjadi sayang. Kami bekerja hatilah riang.”

Mereka meyakini bahwa doa akan selalu mengiringi aktivitas kesehariannya. Dengan kata lain, kualitas iman dapat mengembangkan kualitas hidup.

Penggalan lirik lagu tersebut sekaligus menunjukkan bahwa bekerja memiliki dimensi ritual dan sosial (Luth, 2014, 1 Januari). Pada dimensi ritual, bekerja merupakan niat ikhlas yang muncul dari dalam diri seseorang semata-mata karena Tuhan. Keuntungan lain dari kerja keras bukan menjadi prioritasnya dalam bekerja.

Hal ini jelas ditunjukkan dalam penggalan lirik, “Walaupun hidup seribu tahun bila tak sembahyang apa gunanya.” Sedangkan untuk dimensi sosial, bekerja dianggap dapat membawa kemanfaatan bagi diri sendiri dan banyak orang. Ini ditunjukkan dalam penggalan “Kami bekerja sehari-hari untuk belanja rumah sendiri,” juga “… supaya Allah menjadi sayang, kami bekerja hatilah riang.”

Ini sesuai dengan analisis Webber bahwa bekerja dapat mendatangkan perubahan yang sifatnya positif dan konstruktif.

Dalam hal ini, bekerja dinilai baik untuk kemajuan diri pribadi yang secara tidak langsung juga berdampak positif bagi lingkungannya, mulai dari lingkup keluarga hingga lingkup negaranya.

Kerja keras pada awalnya memang dilakukan dengan orientasi ilahi untuk memeroleh keselamatan. Namun, ternyata di sisi lain itu dapat mendatangkan akumulasi modal yang sifatnya duniawi.

Agama dapat dijadikan dasar bagi perubahan sosial yang berkelanjutan. Dalam hal ini, agama dipandang sebagai institusi sosial yang benar-benar manjur dalam mendatangkan kemaslahatan. Itu dikarenakan agama menyangkut kepercayaan seseorang yang sifatnya mengakar sehingga ajarannya sulit untuk tak dihiraukan.

Perubahan sosial dapat terwujud hanya jika esensi dari bekerja itu sendiri tidak bertabrakan dengan norma-norma yang didalilkan agamanya. Artinya, bekerja harus dijiwai sebagai bentuk ibadah. Oleh karenanya, bekerja harus dilakukan dengan cara-cara legal sehingga hasilnya bukan merupakan sesuatu yang haram.

Salah satu kecenderungan seseorang memegang teguh pekerjaan yang halal adalah karena itu termuat dalam ajaran agamanya.

Kondisi akhirat dalam ajaran agama Islam pun digambarkan dalam lirik lagu Sepohon Kayu, seperti “Hidup di kubur yatim piatu, tinggalah seorang dipukul dipalu. Dipukul dipalu sehari-hari, barulah ia sadarkan diri. Hidup di dunia tiada berarti, akhirat di sana sangatlah rugi.” Oleh karena itu, output dari aktivitas duniawi manusia akan lebih baik bila diiringi dengan aspek agama.

Rujukan:

  • Farihah, A. (n.d). Identifikasi teori tentang agama. Diakses dari Academia.edu.
  • Luth, T. (2014, 1 Januari). Membangun etos kerja agamis. Diakses dari Lecture.ub.ac.id.

Sumber gambar: citylightroanoke.com

No Responses

Show all responses