Mohamed Ayyash, Seorang Anak dengan Kisah Haru di Balik Topeng Bawangnya
Sumber gambar: www.aljazeera.com
in

Mohamed Ayyash, Seorang Anak dengan Kisah Haru di Balik Topeng Bawangnya

UGET UGET – Suatu saat masyarakat Palestina berbondong-bondong melakukan aksi protes di dekat perbatasan Gaza-Israel. Mereka beraksi menuntut pengembalian hak tanah bagi para pengungsi Palestina. Dari semua itu ada sebuah pemandangan menarik, terlihat ada seorang anak laki-laki menggunakan masker berwarna putih dengan sebatang daun bawang menyembul dari dalamnya.

Mungkin saja melihatnya, kita bisa menganggapnya remeh hingga tertawa geli. Mungkin saja kita menganggap itu sebagai sebuah lelucon di tengah kuatnya gesekan kepentingan yang sedang berlangsung di sana. Namun ternyata, kisah di baliknya tak sebercanda itu.

Si anak berbaju tank top ini mengenakan masker bawang karena suatu alasan. Kisah yang haru untuk diceritakan. Kabarnya si anak ini bernama Mohamed Ayyash. Membaca dari grid.id (13/4), Ayyash sengaja menggunakan masker bawang sesuai dengan yang disarankan ayahnya.

Demonstrasi itu merupakan tindak lanjut dari peristiwa berdarah akhir Maret kemarin, di mana 100 penembak jitu dikerahkan militer Israel menembaki demonstran Palestina. Ada sekitar 18 orang tewas dan 1.000 lainnya terluka. Dan ayah Ayyash menjadi salah satu korban luka. Dari situlah Ayahnya menceritakan mengenai topeng bawang.

Masker bawang itu dipercaya Ayahnya dan Ayyash mampu mengurangi efek gas air mata dan membantu menjaga ketenangan. Dan benar saja, Ayyash berdiri di garda depan saat demonstrasi itu berlangsung, lengkap dengan topeng bawangnya.

Bocah berusia 9 tahun yang seharusnya bisa hidup tenang dan aman, namun ikut berdemonstrasi memperjuangkan haknya. Sebuah keberanian yang besar untuk anak seumur itu, menghadapi tentara dan senjata, menghadapi amukan dan teriakan yang membabi buta. Sungguh mengerikan.

Tujuan Ayyash begitu mulia. Dia mengatakan keikutsertaannya dalam demonstrasi dengan alasan demikian, “Tujuan saya adalah mengambil kembali tanah saya, tanah kakek nenek saya, dan kenangan keluarga saya,” tukasnya. Mungkin saja di sana, Ayyash menggantikan posisi Ayahnya yang sedang terluka, ikut bersama membantu warga Palestina lain yang bernasib sama.

Saya tak bisa membayangkan. Mungkin ketika seumur itu, saya hanya duduk tenang dalam rumah sembari menggambar di atas kertas warna. Pastinya, jauh dari hiruk pikuk kekerasan dan demonstrasi, tak seperti yang dialami Ayyash.

Sumber gambar: www.aljazeera.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Comments

comments

Mengandalkan Smartphone Bukan Berarti Kebiasaan Buruk Kok

Mengandalkan Smartphone Bukan Berarti Kebiasaan Buruk Kok

Menanggapi Indonesia Bebas Budaya Pacaran 2024

Menanggapi Indonesia Bebas Budaya Pacaran 2024