Sebuah Parodi dan Mimpi Yang Terbengkalai Superhero
Sumber gambar: www.amazon.com
in

Sebuah Parodi dan Mimpi Yang Terbengkalai Superhero

UGET UGET – Sedari awal, superhero diciptakan oleh kreatornya hanya sekedar untuk awal dari angan-angan sebuah dunia yang utopis. Dimana semua kejahatan dapat diselesaikan oleh kebenaran, meskipun kejahatan yang terus berkembang dan berkembang. Namun selalu kekuatan dari para superhero (kebaikan) yang mampu untuk mengembalikan suasana dalam keadaan semula.

Berangkat dari hal ini, mulai banyak bermunculan karakter-karakter superhero dalam dunia komik Amerika Serikat. Hingga akhirnya, banyak dari superhero tersebut mendapat sebuah tugas moral dari negara. Yaitu untuk mewujudkan “mimpi Amerika” dimana Amerika mampu memimpin dunia dari kejahatan dengan bantuan para superheronya.

Telah diketahui bersama, dimana Spiderman mampu menjadi ikon utopis dari American Dream hingga mampu membuat sebuah euforia terhadap masyarakat untuk suatu kedamaian. Namun setidaknya, perlu kita ingatkan sekali lagi, bila American Dream hanyalah sebuah mimpi yang berangkat dari ego besar Amerika sebagai negara besar yang berkeinginan untuk mewujudkan perdamaian yang besar.

Dengan menggunakan alur maju dan mundur yang dicampur secara acak. Film ini mampu memberikan gambaran yang benar-benar nyata tentang sosok Mr. Comedian, sosok superhero dengan segala ego besarnya. Satu tokoh yang menjadi sentral cerita dan masalah dalam film ini. Yang mampu membuat film ini menarik, adalah bagaimana sutradara mampu memberikan cerita dengan menggambarkan superhero adalah juga sebagai sosok yang manusiawi. Satu sosok yang mempunyai ego, emosi, dan terkadang lalai untuk mendengarkan suara nurani.

Inilah satu poin dimana mampu merubah pikiran-pikiran umum yang selalu beranggapan bahwa semua tokoh yang bernama “superhero” adalah tokoh sejenis dewa yang mampu menolong setia orang dari segala kesulitannya. Namun tidak hanya itu yang menarik.

Mungkin dapat kita ingat, bagaimana “gagalnya” Transformer 3:The Dark Side of Moon. Dimana cerita itu benar-benar menggambarkan suatu propagandis militer Amerika. Dan juga kepahlawanan superhero yang dilatarbelakangi bendera Amerika.

Haruskah kita mempertanyakan lagi, tentang eksistensi superhero seperti yang dilakukan Christopher Nolan pada film Batman yang digarapnya menjadi terlalu eksistensialis. Mungkin itu memang diperlukan. Untuk mempertanyakan, adakah suatu relasi antara penciptaan karakter-karakter superhero seperti yang dilakukan para creator DC Comics dan Marvel.

Dengan penciptaan suatu “mimpi Amerika” yang terasa dinilai terlalu utopis jika pada kenyataannya, Amerika hanyalah menjadi sebuah negara yang memiliki angan-angan dan ego yang besar. Sehingga akan menghalalkan segala cara agar “title” Negara Adidaya tidak lekang dari setiap pikiran seluruh umat manusia.

Dan inilah yang ditunjukkan secara gamblang oleh Zack Snyder melalui film Watchmen. Dengan memberikan penggambaran jelas bagaimana egoisme dari para superhero. Dan yang dirasa cukup menggelitik adalah bagaimana Zack menggambarkan ironi dari setiap adegan yang ada dengan cara memberikan suatu latar musik yang tidak menggambarkan adegan tersebut.

Bila dipikir lebih lanjut. Terasa seperti gaya-gaya dari Quentine Tarrantino dalam penyampaian gayanya. Seperti yang terlukiskan dari film Inglorious Bastards. Secara kesuluruhan, film ini mampu dinikmati bukan hanya sebatas bahan hiburan, namun juga sebagai bahan hiburan.

Sumber gambar: www.amazon.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Pasangan Kakek Nenek, Antonio dan Rosa yang Bercerai di Usia Senja

Pasangan Kakek Nenek, Antonio dan Rosa yang Bercerai di Usia Senja

Wangi Tubuh Jadi Kriteria Mutlak yang Disyaratkan Perempuan

Wangi Tubuh Jadi Kriteria Mutlak yang Disyaratkan Perempuan