Merapi Meletus Lagi, Semoga Tidak Terjadi Apa-Apa
Sumber gambar: news.detik.com
in

Merapi Meletus Lagi, Semoga Tidak Terjadi Apa-Apa

UGET UGET – Pagi ini, 11 mei 2018 Merapi kembali mengeluarkan wedhus gembel atau asap tebal. Kira-kira pukul 08.00 pagi, jendela rumah saya tiba-tiba bergetar. Ada gemuruh suara di udara. Saya kira itu adalah pesawat terbang. Saya tunggu-tunggu suara tersebut tidak kunjung mereda. Akhirnya dengan cemas saya keluar rumah, takut terjadi gempa. Suaranya memang menyeramkan, seperti gempa yang berada di kejauhan, kemudian datang mendekat.

Ternyata itu adalah suara letusan Gunung Merapi. Saya baru tahu kalau itu adalah letusan gunung dari salah satu grup WhatsApp. Jarak Gunung Merapi dari rumah saya sekitar 30 km, dan gemuruhnya sampai di sini. Saya tidak membayangkan bagaimana seramnya suasana di sekitar Gunung Merapi yang hanya berjarak beberapa kilometer.

Ternyata letusan ini bukanlah letusan yang besar. Istilah geologinya adalah letusan freatik. Saya tidak tahu secara teknis apa itu letusan freatik dan bagaimana proses terjadinya. Menurut beberapa sumber yang ada di internet letusan freatik adalah letusan yang dipicu oleh terbentuknya uap air secara mendadak. Air itu bisa berasal dari air hujan ataupun air dari dalam tanah.

Kemudian komposisi letusan yang terdiri dari uap air bercampur dengan material yang sudah tertimbun di sekitar kawah Merapi. Kejadian ini mengingatkan saya ketika terjadi ledakan yang cukup hebat pada tahun 2006. Yang membuat saya merinding waktu kejadian hampir sama yaitu pukul 08.00 pagi.

Merapi Meletus Lagi, Semoga Tidak Terjadi Apa-Apa

Ketika tahun 2006, saat itu saya sedang mengendarai sepeda motor pergi ke tempat kerja. Tepat pada saat itu Merapi mengeluarkan asap tebal yang membumbung sangat tinggi. Posisi saya saat itu berada di sekitar Jalan Kusumanegara, dan asapnya benar-benar terlihat jelas. Bahkan saya sampai mendongak agar bisa melihat asap tebal secara keseluruhan.

Kemudian peristiwa selanjutnya adalah gempa di Jogja, Mei 2006 yang mengubah seluruh wajah kota Yogyakarta dan Bantul. Saat itu kami mengira bahwa gempa itu disebabkan oleh letusan Gunung Merapi, tetapi sumber yang dapat dipercaya sumber gempa berasal dari Laut Selatan. Sungguh, sewaktu berlari menghindari runtuhan bangunan tua di Kotagede, saya mengira bahwa Gunung Merapi sedang meletus sedahsyat-dashyatnya.

Sekarang ini bulan Mei, saya merinding untuk melanjutkan menulis. Semoga tidak ada bencana yang menimpa Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya.

Written by Bimo

Web developer, menggunakan CakePHP sebagai inti pengembangan situs dan wordpress untuk bermain blog. Kadang-kadang menulis, coding. Suka bersepeda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Hubungan Putus Nyambung? Mungkin Ini Masalahnya

Hubungan Putus Nyambung? Mungkin Ini Masalahnya

Makan Sendirian Bisa Tingkatkan Risiko Kematian

Makan Sendirian Bisa Tingkatkan Risiko Kematian