Mengikisnya Akhlak dan Moral Remaja, Salah Siapa?
Sumber gambar: psikindonesia.org
in

Mengikisnya Akhlak dan Moral Remaja, Salah Siapa?

UGETUGETPada zaman kini di seluruh media massa, baik di cetak, maupun elektronik. Hampir seluruhnya kita terus-menerus mendengar dan melihat hal-hal yang krisis tentang akhlak dan moral, khususnya remaja.

Dari kasus pemerkosaan, tawuran, mabuk massal, dan sebagainya. Tetapi, kalian pasti ingat dengan kasus kekerasan murid terhadap gurunya.

Pak Guru itu yang menjadi korban itu bernama Budi. Ia tewas setelah dipukul berkali-kali oleh muridnya sendiri. Ia tewas selang beberapa jam kemudian di sebuah rumah sakit karena mengalami patah di bagian leher.

Sumber gambar: http://ciputrauceo.net/ (Akhlak dan Moral Remaja yang Mulai Terkikis)
http://ciputrauceo.net/blog/2016/9/2/perbedaan-budi-pekerti-moral-dan-etika

Seorang siswa harus menghormati gurunya. Sebab, guru bisa disebut sebagai orang tua kedua. Sebagai pengganti ayah dan ibu ketika di sekolah.

Meskipun pada kenyataannya, siswa masa kini lebih menganggap guru sebagai sahabat atau temannya. Lebih dari itu, bahkan ada murid yang tidak menganggap guru sebagaimana mestinya. Bahkan mempermainkannya dengan berlaku keras dan kasar.

Tidak bisa serta-merta kita menyalahkan remaja yang statusnya sebagai murid tersebut. Pengaruh-pengaruh dari lingkungan sekitar dan media massa sangat mungkin terjadi. Sebab, terkikisnya akhlak remaja pasti ada pengaruh dari faktor-faktor yang telah disebutkan.

Lingkungan Pendidikan

Lingkungan sekitar adalah lingkungan di mana seorang remaja itu hidup menjalani perannya sebagai manusia.

Di situlah remaja sedang bersemangat mencari jati dirinya. Maka, ia perlu mengikuti kata hatinya dengan melakukan tindakan. Seperti berteman dengan sebayanya, bermain sesuai hobinya, berkumpul di sebuah organisasi, dan sebagainya. Asalkan itu mengarah ke positif tidak apa-apa. Justru, yang dicemaskan adalah melakukan tindakan yang negatif.

Lingkungan keluarga adalah faktor yang terpenting untuk melindungi remaja dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Meskipun lingkungan keluarga tidak bisa melindungi dan mengawasi sepenuhnya. Di sini keluarga dapat mengarahkan si anak remaja ke hal positif atau bermanfaat.

Misalnya dengan memberitahu hal-hal apa yang baik dan apa yang buruk terhadap anaknya. Alangkah lebih baik dengan memperlihatkan suatu teladan, lalu mengajaknya menuju apa yang dikehendaki oleh orang tua.

Akan tetapi, media massa seperti internet dan televisi tidak mungkin dapat dihindari dalam kehidupan sehari-hari. Di dalam internet dan televisi ini mengandung banyak pemandangan yang tidak patut dikonsumsi oleh usia mereka.

Misalnya, adegan kekerasan dalam film, rekaman video seksual, umpatan murid nakal yang berani pada gurunya, dan sejenisnya. Dikhawatirkan mereka akan menirunya secara mentah-mentah tanpa adanya pertimbangan yang matang.

Sungguh mengerikan jika memang para remaja benar-benar telanjur terkikis akhlaknya.

Selanjutnya coba saja kita lihat, dengar dan rasakan apa yang terjadi di masa kini. Akhir-akhir ini, segala sesuatunya tentang akhlak para remaja kian mengkhawatirkan.

Banyak kasus yang mencuat di permukaan tidak hanya terjadi di kota-kota besar saja. Bahkan sampai ke kota-kota kecil dan juga pelosok desa.

nilai atau ilmu
Sumber gambar: wawasanpengajaran.blogspot.com

Pada kenyataannya akhlak para remaja kini semakin menjadi-jadi. Terutama yang kecanduan teknologi. Menyebabkan mereka semakin malas dan menuruti hawa nafsunya.

Sehingga ketika mereka semakin malas, mereka semakin tidak dapat berpikir jernih. Dan cenderung marah-marah, liar, dan egois.

Barangkali jiwa mereka sudah tenggelam dalam teknologi yang digunakan itu. Juga tidak terbantahkan mereka kehilangan keseimbangan jati dan kendali diri.

Urgensi Pendidikan Agama

Maka berdasarkan hemat saya, perlu adanya pendidikan agama pada usia dini. Di mana hal ini akan menjadi sebuah gerak langkah yang dapat mengubah akhlak para remaja.

Pendidikan agama pada masa sekarang mulai berangsur memudar entah ke mana. Pendidikan Agama hanya dilakukan secara informal saja. Misalnya, di TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an), Madrasah Diniyyah, dan sejenisnya. Juga di gereja, vihara, dan pura. Tidak di pendidikan formal seperti di SD, SMP, SMA dan sederajatnya.

Pada hakikatnya, pendidikan agama berupa ajaran-ajaran Tuhan dan Rasulnya, serta kitab sucinya yang diimplementasikan dalam kehidupan sehari-sehari. Remaja yang statusnya sebagai siswa dapat menjadikannya sebagai pedoman untuk dibawa ke dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Apabila rencana ini membuahkan hasil. Maka tidak mustahil remaja yang diharapkan sebagai satu-satunya generasi penerus dapat melanjutkan peradaban bangsa dan negara ini menuju zaman keemasan.

Semoga itu menjadi kenyataan yang dapat diwujudkan dan tidak hanya mimpi di siang bolong yang dibangunkan oleh petir yang menyambar kepala.

Written by Arief

Kedamaian batin dan ketenangan pikiran adalah segalanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Wakamaru Robot Humanoid Pelindung Rumah Jadi Pengin Bawa Pulang

Wakamaru Robot Humanoid Pelindung Rumah, Jadi Pengin Bawa Pulang

Memulai Karier di Garasi, 5 Tokoh ini Menuai Kesuksesan!

Memulai Karier di Garasi, 5 Tokoh ini Menuai Kesuksesan!