Membandingkan Rengginang di Khong Guan dengan Solo: A Star Wars Story
Sumber gambar: vulture.com
in

Membandingkan Rengginang di Khong Guan dengan Solo: A Star Wars Story

UGETUGET – Lebaran sebentar lagi. Iklan-iklan berbau kemenangan mulai menyebar di berbagai media. Sayang iklan sirup marjan hilang. Namun tak mengapa, karena menurut saya, hilang satu muncul yang lain. Begitu juga lebaran tahun ini, liburan akan terasa lebih menyenangkan karena bertepatan dengan peluncuran film prequel (atau sequel atau ada istilah –quel yang lain mungkin?) dari favorit generasi 90-an sedunia: Star Wars.

Film berjudul “Solo: A Star Wars Story” ini cukup mendapatkan momentumnya. Setelah kesuksesan sequel sebelumnya yang berjudul Star Wars: The Last Jedi dan Rogue One: A Star Wars Story, seakan tidak mau berhenti, Disney terus menggenjot produksi frachise besutan George Lucas ini. Hasilnya, sama seperti saat Anda menemukan rengginan di toples Khong Guan ketika silaturahmi lebaran. Kekecewaan, harapan yang tumbang, dan berbagai bentuk emosi lain.

Tidak bermaksud pseudo-akademis ataupun sok intelektuil, karena, secara sensasi begitulah yang saya rasakan. Sebagai penikmat, penggemar, dan penonton setia Star Wars sejak sekolah dasar, saya sangat memahami dan berharap akan kejutan-kejutan baru yang dibawa di setiap film baru produksi Star Wars. Bagaimanapun, lewat Star Wars, saya tertarik untuk mengenal antariksa. Cukup untuk menggambarkan kedekatan saya, bukan?

Lalu, Anda mungkin bertanya, kekecewaan macam apa yang saya dapatkan dari film ini? Buktinya? Oke saya uraikan untuk Anda, pembaca yang budiman.

Rengginang

Secara pendapatan, film “Solo” bisa dibilang jauh lebih sedikit daripada kedua sequel sebelumnya. Dilansir dari guardian.com, terdapat penurunan sejumlah 65 persen untuk penonton film ini jika dibandingkan film franchise Star Wars yang lain. Lain negara, lain penontonnya, di Inggris memang sempat terjadi penurunan drastis, namun akibat liburan musim dingin dari pelajar Inggris, sebagian besar menghabiskan waktunya untuk menonton film. Akibatnya, terjadi kenaikan sebanyak 35% dari total penonton keseluruhan bioskop di Inggris. Tentu saja kenaikan ini tidak akan bertahan lama, mengingat tanggal 6 Juni besok menjadi hari peluncuran franchise Jurassic Park berjudul “Jurassic World: The Fallen Kingdom”

Yang menjadi catatan adalah, penurunan tren penonton bisa dibaca sebagai bentuk ketidakpuasan atau keengganan penonton atas seri terbaru ini. Meski memang belum ada data statistik resmi yang mengisyaratkannya, bukankah dengan membaca angka penonton dari negara ke negara, kita bisa sedikit mengambil kesimpulannya?

Membandingkan Rengginang di Khong Guan dengan Solo: A Star Wars Story
Sumber gambar: vulture.com

Selain masalah penonton, tampaknya tim pasca produksi film “Solo” tengah mencoba strategi marketing baru, yang terbukti gagal menjaring penonton. Tidak seperti marketing film lain, yang benar-benar mengupayakan berbagai lini digital untuk memperkenalkan dan mempromosikan filmnya, kita jarang sekali mendapati promosi film Solo. Saya terutama. Jarang saya melihat promosinya di berbagai media sosial. Sangat kontras jika membandingkan promosi film Solo dengan promosi film sequel Star Wars lain. Apa yang salah?

Yang terakhir dan tak kalah penting, Disney benar-benar memaksa Star Wars untuk menjadi kuda pacuan dan terus mempertandingkannya. Terhitung baru 6 bulan sejak sequel film terakhir “The Last Jedi”, sudah disusul dengan kemunculan side story lain. Penonton pusing, kaka~

Kesimpulan

Tentang cerita? Ah, sudahlah. Anda bisa menikmati sendiri ceritanya. Saya tidak mau menjadi spoiler pun memaksa pembaca yang budiman mempercayai hasil saya menonton. Dalam tulisan ini saya hanya otak-atik gatuk. Kajian di sini adalah untuk menyuarakan ketidakpuasan para penggemar Star Wars pada umumnya, dan saya pada khususnya , akan kehadiran film yang terlihat sangat dipaksakan kehadirannya ini. Jika bayi lahir secara caessarea akan mengundang simpati dan belas kasihan, sedang jika karya lahir secara cessarea hanya mengundang umpatan. Begitu pula film ini.

Untuk menutup tulisan ini, saya ingin menyarankan Anda agar langsung menontonnya. Setidaknya bukan untuk membuktikan perkataan saya, melainkan lebih menghabiskan waktu luang bersama keluarga, kekasih, atau orang-orang terdekat Anda. Bagaimanapun, film ini akan terlihat bagus, bagi mereka yang tidak mengikuti perkembangan franchise ini dari awal. Tabik.

Written by Biru Samudra

Penikmat film, sastra, musik dan penyuka bola musiman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Viral Foto Gadis Cantik Peluk Presiden Jokowi

Viral Foto Gadis Cantik Peluk Presiden Jokowi

Sejarah THR, Kamu Tau?

Sejarah THR, Kamu Tau?