Masjid Besar Jamia, Rekonstruksi Awal Kebesaran Arsitektur Islam
Sumber gambar: id.pinterest.com
in

Masjid Besar Jamia, Rekonstruksi Awal Kebesaran Arsitektur Islam

UGET UGET – Keindahan arsitektur Islam terletak pada kekayaan dan kedalaman makna dari setiap garis yang tercipta. Kedalaman tersebut tentu tidak tercipta begitu saja, melainkan hasil akumulasi dari 1.400 tahun pengalaman manusia dalam mencipta yang tertuang dalam wujud peradaban-peradaban besar, seperti Arab, Turki, Asia Tengah, Persia. Kesemuanya, disatukan ke dalam satu semangat keagamaan sehingga menghasilkan apa yang disebut karakter Islami.

Masjid Besar Jamia di Kota Bahria, Lahore, merupakan salah satu percobaan di abad 21 atas asumsi di atas. Didesain menggunakan semangat konstruksi Islam Indonesia, dengan tradisi arsitektur “Lahor” sebagai inti inspirasinya. Sekilas, pengunjung bisa menyaksikan esensi dari semangat Islam yang digabungkan dengan elemen-elemen modern. Masjid ini berhasil menjadi penanda dalam perkembangan kebudayaan Lahore.

Transendensi Surgawi

Pondasi bangunan setinggi 6,5 meter dari permukaan tanah, dengan atap setinggi 24 meter dan Kubah Besar terletak di pusat, seakan-akan menegaskan kemegahan dari mahkota yang dikeliling oleh 20 kubah berukuran kecil. Menara masjid setinggi 50 meter, perbandingan yang terbilang ekstrim antara tinggi Kubah dengan tinggi menara, menjadi ciri khas tersendiri yang dimiliki masjid ini. Pemandangan yang mencolok tersebut memberi tambahan keagungan bagi para pendatang.

Keotentikan dari arsitektur Masjid Besar Jamia tersusun dari bahan bangunan yang seluruhnya merupakan produk asli daerah, merefleksikan esensi dari arsitektur Islam Indonesia yang dicampur dengan beberapa bahan-bahan modern.

Keunikannya terdapat pada keberhasilan arsitek dalam membentuk susunan bata yang dipadukan dengan dekorasi seni mosaik yang mencampuradukkan warna-warna glamor dan sendu. Keseluruhannya ditampilkan dalam motif geometris dan bunga. Susunan mosaik tersebut menghabiskan 4,5 juta keramik buatan tangan, yang dikerjakan oleh satu tukang saja dan menghabiskan waktu 4 tahun.

Upaya arsitek dalam menghadirkan keindahan surgawi, yang digambarkan penuh dengan keselarasan dalam berbagai hal yang bertentangan, tidak hanya diwujudkan dalam susunan tembok dengan keramik yang disusun secara mosaik.

Gambaran surga juga dimanifestasikan dalam susunan halaman belakang yang didesain dengan gaya “Charbagh”, taman gaya Persia yang banyak terdapat di masjid-masjid wilayah Persia. Berbentuk segi empat dengan sudut-sudut tajam, halaman ini dihiasi dengan air mancur tepat di tengahnya. Menambah kesan surgawi yang kerap digambarkan dalam lukisan-lukisan Abad Pertengahan Eropa.

Sebelum kemunculan Islam, gambaran tentang surga biasanya mengambil bentuk dari peninggalan bangsa Mughal. Halaman biasanya difungsikan juga sebagai tempat berdoa, selain sebagai pintu masuk menuju ke dalam. Taman ini dipenuhi dengan tumbuhan, menambah keasrian dari gerbang menuju kediaman.

Selubung Arsitektur Islam

Arsitektur Islam kerap dipersamakan sebagai selubung arsitektural, dan Masjid Besar Jamia merupakan salah satu manifestasi dari anggapan tersebut. Apa yang terlihat dari luar sebagai struktur yang sederhana dan elegan, berubah menjadi perjalanan mistik dari seni Islam dan ketenangan yang menyerap pengunjung menuju inti dari keindahan dan kesunyian.

Keagungan interior tampak menonjol pada siang hari dan menjadi kemeriahan pesta selama sore hari seiring bertambahnya cahaya dari lilin-lilin “Shamada”, lilin yang diimpor dari Turki. Seakan-akan menegaskan dan mengajak setiap pengunjung untuk menyambut naiknya Bulan dengan penuh suka cita.

Bagian dalam dari Kubah Besar, tepat di Mihrab, dipenuhi dengan dekorasi seni mosaik yang berhasil menyatukan warna-warna tajam, dan menghasilkan perubahan warna dari yang semula tampak biasa menjadi elegan.

Di sebelah kanan Mihrab, terletak Mimbar yang tentu saja didesain sedemikian rupa sehingga menjadikan Imam bisa terlihat oleh seluruh jamaah, bahkan saat jamaah memenuhi ruangan. Mimbar setinggi 4 meter diletakkan tepat di mana produksi suara dari sang Imam saat khotbah mampu bergema ke empat sudut ruangan, menciptakan gema alami yang terus-menerus berputar di seputar ruangan.

Sumber gambar: id.pinterest.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

DE MATA TRICK EYE MUSEUM

DE MATA TRICK EYE MUSEUM

Derby Manchester Ini bukan tentang Gelar, ini tentang Gengsi

Derby Manchester: Ini bukan tentang Gelar, ini tentang Gengsi