Sumber gambar: parstoday.com
in

Mari Kita Petakan Minat Baca Kita, Mulai Dari Aksara

UGETUGET |¬†Rahayu… Bagaimana minat baca kita? Kawan-kawan yang suka dengan huruf bersyukurlah karena huruf hadir di kehidupan kalian.

Hal paling mendasar dalam huruf ialah bentuk yang menampung huruf tersebut. Apabila dulu ditampung dalam sebuah batu yang dipahat, kemudian berkembang dengan kulit kasar, lalu kulit tersebut disamak hingga halus.

Sedangkan masyarakat yang tinggal di negara tropis menggunakan lontar. Kemudian oleh revolusi industri diganti dengan kertas.

Mari kita syukuri juga beragam huruf di dunia, dari Latin seperti ini, dari aksara Jawa, huruf Arab, huruf Sansekerta, dsb. Kita ketahui semua huruf tersebut cuman media yang menuntun ke bahasa, dan bahasa menuntun ke makna atau kepentingan.

Di era milineal sekarang, dengan adanya teknologi digital visual, kita bisa membaca di sebuah layar. Walaupun kenyamanan membaca tidak bisa lepas dari sebuah kertas tapi penulis percaya bahwa beberapa generasi akan menghasilkan digital visual yang kenyamanannya mendekati kertas.

Untuk sekarang saya mungkin mengapresiasi Amazon dalam memproduksi Kindle Paperwhite yang hasil visual layarnya mendekati kertas.

Kita sudah membahas panjang lebar tentang sebuah media yang menampung huruf. Dari hal tersebut akan membawa kita ke bahasa dan mengantarkan ke makna.

Mari Kita Petakan Minat Baca Kita
Sumber gambar: kompasiana.com

Baiklah mari kita ambil makna sebagai keajaiban manusia. Dari makna tersebut kita memiliki niat membaca atau minat baca. Kenapa bisa begitu?

Kita tengok saja rak buku di toko. Pastinya di rak buku penulisnya bukan hanya orang indonesia dengan huruf latin, pasti ada yang dari luar indonesia, dengan huruf yang mungkin tidak latin.

Tetapi karena diterjemahkan ke dalam bahasa kita yang sama, kita mengetahui isi buku tersebut. Makna bermain dalam perubahan bahasa tersebut.

Menurut saya, tahap pertama minat baca bisa dibagi berdasarkan dalam dua basis. Pertama ialah komposisi visual lebih banyak dibandingkan dengan huruf. Kedua ialah komposisi huruf lebih banyak dibandingkan dengan visual.

Biasanya buku yang diambil ialah buku yang memiliki komposisi yang diinginkan seperti yang di atas.

Setelah itu tahap kedua ialah jenis teks (genre). Pastinya kawan-kawan sudah mengenal beberapa diantaranya di sekolah yaitu, teks sastra dan teks non sastra. Biasanya buku yang dibeli berdasarkan jenis teks seperti penjelasan di atas.

Setelah itu tahap ketiga ialah sumber informasi dalam memperkuat bangunan ide kita. Memasuki tahap ketiga ini secara tidak langsung kita sudah melepaskan dari tahap kesatu dan kedua.

Apa yang dicari di tahap ketiga ialah mengisi dahaga informasi dan memperkuat ideologi yang sudah ada. Biasanya buku yang dicari ialah berdasarkan nama penulis, karena si penulis mendekati ideologi yang dianut.

Nah, kira-kira kawan-kawan masuk ke tahap manakah?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Mencermati Sebentar Tentang Virus, Bukan Virus Cinta Loh

Bunga Bangkai, Bunga yang Jarang Kena Sinar Matahari