Teknomotif

Manusia Terbang Impian Icarus Telah Menjadi Kenyataan

UGETUGET — Ribuan tahun lalu di tanah kelahiran filsafat, konon pernah hidup seorang manusia terbang (walaupun tidak lama) bernama Icarus. Ia abadi dalam khasanah pengetahuan dunia lantaran memiliki sebuah mimpi ambisius: terbang seperti burung. Ia tewas saat berjuang mewujudkan ambisi itu, tetapi ambisinya terus hidup.

Buku-buku mengisahkan: Icarus menciptakan sayap dengan menempelkan cukup banyak bulu burung di lengan dan kakinya, terjun dari sebuah tebing tinggi, dan sempat terbang beberapa jenak. Tapi, ia terbang terlalu dekat dengan matahari. Perekat pada bulu-bulunya meleleh, sayap berguguran, dan sang manusia terbang Icarus pun terbanting hingga mati dari udara tinggi.

Kini, sebagaimana yang terlihat dalam video di bawah ini, para ahli penerbangan modern telah membuktikan ambisi Icarus itu bukan ambisi yang mustahil. Manusia kini bisa terbang hampir seperti burung. Ajektif “hampir” ini perlu ditekankan karena tetap ada perbedaan antara cara terbang manusia terbang modern dan burung.

Tiga orang pilot berpengalaman melompat dari helikopter dengan mengenakan pakaian khusus dan rangkaian mesin canggih di punggung. Lalu mereka benar-benar menjadi manusia terbang dan bergabung dengan formasi yang dibentuk oleh sebuah armada pesawat bermesin jet. Para manusia terbang ini terbang bersama pesawat, bukan di dalam pesawat.

Perangkat yang mereka kenakan jauh lebih kecil dan sedikit dari mesin-mesin terbang lain, seperti pesawat atau balon udara, tetapi dengan demikian juga jelas jauh lebih canggih. Kendati begitu, para manusia terbang ini tidak bisa dikatakan terbang seperti burung — sekali lagi, “hampir” adalah ajektif yang tepat.

Perbedaan paling jelas: burung terbang dengan mengepakkan sayap yang dikaruniakan kepadanya oleh evolusi jutaan tahun. Manusia terbang modern juga punya sayap, tetapi dengan fungsi yang berbeda — bahkan, jika sayap itu dikepakkan, mungkin sang manusia terbang akan bernasib sama dengan Icarus.

Sayap pada manusia terbang ini berfungsi sebagaimana sayap pada pesawat, yaitu mengarahkan aliran udara yang mengangkat badan pesawat. Tentu, sayap pada manusia ini jauh lebih kecil ketimbang sayap=sayap pesawat jet yang diiringinya.

Perbedaan kedua adalah cara mereka tinggal landas. Secara alamiah dan naluriah, burung bisa tinggal landas tanpa ancang-ancang, dari mana saja, dan kapan saja. Tetapi, para manusia terbang ini masih harus mengawali penerbangan dengan melompat dari sebuah helikopter.

Yang menakjubkan adalah rekayasa mesin terbang itu. Dengan bentuk sekecil itu, tentu bahan bakar yang bisa dibawa juga terbatas. Selain itu, daya dorong yang dihasilkan oleh kerja mesin dan bahan bakar tentu cukup kuat sehingga bisa menerbangkan beban badan manusia.

Dan mereka tak perlu khawatir terbang terlalu dekat dengan matahari.

Filsafat pada masa Icarus belum secanggih filsafat Renaisans dan sesudahnya, yang mampu melahirkan sistem pemikiran ilmiah, yang pada gilirannya memberikan pemahaman kepada manusia tentang gravitasi, permesinan, dan komputer.

Jadi, bisa dimaklumi jika ibu dari semua ilmu itu, pada masanya, belum bisa memberi Icarus ilmu dan pengetahuan yang diperlukan manusia agar benar-benar bisa terbang. Baru setelah balon udara dan pesawat dibikin, orang benar-benar bisa terbang — tentu saja, tidak seperti burung karena manusia terbang di dalam suatu kendaraan.

Sebelumnya, orang hanya bisa memuaskan ambisi untuk bisa terbang itu melalui cerita fantastis karpet terbang Sinbad, atau mitos-mitos tentang manusia yang mampu menunggang burung raksasa, atau, pada orang Jawa, sosok Gatotkaca, ksatria satu-satunya yang bisa terbang dalam keluarga Pandawa.

Terlepas dari ajektif “hampir” itu, para ahli penerbangan modern telah menyumbangkan lompatan besar dalam teknologi penerbangan. Suatu saat nanti, mungkin kita akan benar-benar bisa terbang seperti burung, dengan mesin yang jauh lebih kecil, praktis, dan murah, tanpa perlu memasuki badan sebuah pesawat, helikopter, atau balon udara.

Meet the people flying with planes

A post shared by Futurism (@futurism) on

Bagikan artikel ini:

Leave a Comment

Pingin konten seru tiap hari?

Dapetin konten menarik di emailmu

Makasih bro, tunggu konten dari kami ya

Ada kesalahan, coba ulangi lagi