Manfaat dan Efek Samping Imunisasi DPT untuk Anak
Sumber gambar: mediskus.com
in

Manfaat dan Efek Samping Imunisasi DPT untuk Anak

UGET UGET – Imunisasi DPT merupakan salah satu dari lima imunisasi yang diwajibkan oleh pemerintah. DPT merupakan singkatan dari penyakit difteri, pertusis dan tetanus, yang merupakan tiga penyakit yang berbeda namun masing-masing berbahaya dan bisa mengakibatkan kematian. Oleh karena itu, jangan sampai Anda melewatkan imunisasi DPT untuk buah hati.

Imunisasi DPT berbeda dengan imunisasi pada umumnya. Sebab dalam satu vaksin mengandung tiga virus yang berbeda. Sehingga, efek samping dari imunisasi ini juga lebih tinggi dibanding imunisasi pada umumnya. Jadi sebelum Anda membawa anak untuk imunisasi, ada baiknya memerhatikan beberapa hal.

Manfaat Vaksin DPT, Jenis dan Jadwal Pemberian

Vaksin DPT adalah gabungan dari tiga vaksin yang berbeda, yakni toksoid (sejenis racun) untuk difteri, bakteri pertusis dan tetanus. Vaksin ini digabungkan untuk mengurangi jumlah suntikan pada tubuh bayi jika ketiga vaksin ini disuntikkan dalam waktu yang berbeda.

Bakteri difteri adalah bakteri yang menular dan menyerang selaput lendir dalam hidung beserta tenggorokan. Bakteri ini mampu memperbanyak lendir pada tenggorokan, sehingga membuat anak yang terinfeksi susah untuk makan dan bernapas. Jika tidak diobati, lendir yang dihasilkan bakteri difteri bisa menyebabkan kelumpuhan serta gagal jantung.

Pertusis lebih dikenal dengan nama batuk rejan atau batuk 100 hari. Bakteri pertusis menular dari satu penderita, menyerang jaringan sistem pernapasan yang menyebabkan batuk parah dan tak berkesudahan. Jika menyerang balita di bawah usia satu tahun, bisa menyebabkan penyakit pnemonia, kejang, kerusakan fungsi otak, yang bisa mengakibatkan kematian.

Sementara tetanus adalah bakteri yang tidak menular seperti difteri dan pertusis. Bakteri ini masuk ke dalam tubuh, menyebabkan kelumpuhan tubuh, kejang, serta membuat otot kejang.

Pemberian vaksin DPT dilakukan secara bertahap sebanyak lima kali antara usia 2 bulan sampai 6 tahun. DPT pertama diberikan pada usia 2 bulan, lalu 4 bulan, dan 6 bulan. Setelah itu, DPT keempat diberikan pada usia 18-24 bulan, dan terakhir pada umur 5 tahun. Setiap penyuntikan diberikan satu dosis yang sama. Selanjutnya, dianjurkan untuk melakukan imunisasi lanjutan setiap 10 tahun sekali dengan vaksin TD (Tetanus Difteri).

Kini, vaksin DPT diproduksi dalam dua varian. Hal ini berdasarkan pada reaksi tubuh yang terlalu tinggi karena kemasukan tiga vaksin sekaligus. Varian pertama adalah DPwT (whole cell pertusis) dengan komponen lengkap protein pertusis. Varian ini yang sering menimbulkan demam tinggi setelah imunisasi.

Sementara varian kedua adalah DPaT (acellular), yang mengandung sedikit protein pertusis. Anak yang disuntik vaksin DPaT mungkin merasakan demam, tapi tak setinggi demam DPwT. Vaksin DPaT lebih mahal dibanding DPwT, namun tetap terjangkau dan disediakan oleh pihak puskesmas.

Efek Samping Imunisasi DPT

Sepertinya imunisasi DPT merupakan imunisasi yang paling tinggi efek samping karena reaksi yang begitu tinggi dari badan. Beberapa anak malah alergi terhadap vaksin ini, dan dianjurkan untuk tidak lagi melanjutkan vaksinasi. Adapun tanda-tanda alergi vaksin DPT adalah sebagai berikut:

1. Anak mengalami gangguan otak dan sistem saraf setelah tujuh hari penyuntikan.
2. Muncul gejala alergi pada kulit dan raksi yang terlalu tinggi dari tubuh.

Bila mendapatkan reaksi di bawah ini, sebaiknya sang anak dibawa ke dokter:

1. Panas badan di atas 40 derajat celcius.
2. Sang anak terus menangis lebih dari 3 jam.
3. Sang anak sampai pingsan atau kejang setelah penyuntikan.

Jika sang anak tidak mengalami gejala di atas, dan hanya gejala biasa sebagaimana imunisasi lainnya, maka tak usah cemas, sebab gejala tersebut tidaklah berbahaya bagi buah hati.

Sumber gambar: mediskus.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Moms, Malam Minggu Liburan ke Redbase, Yuk

Moms, Malam Minggu Liburan ke Redbase, Yuk

Menulis Cara yang Dianjurkan untuk Berefleksi Atas Kegagalan

Menulis: Cara yang Dianjurkan untuk Berefleksi Atas Kegagalan