Mahakarya Guruh Gipsy Elegan Luar Dan Dalam
Sumber gambar: Kompasiana.com
in

Mahakarya Guruh Gipsy Elegan Luar Dan Dalam

UGETUGET | Guruh Gipsy merupakan sebuah judul album eksperimental, hasil kolaborasi Guruh Soekarno Putra dengan grup Gipsy. Album ini muncul tahun 1976 dengan jargon “Kesepakatan Dalam Kepekatan”. Generasi milenial mengenalnya tidak ya?

Meski hanya sempat merilis satu album saja, peran dari kehadiran album ini sangat penting di belantara musik Indonesia. Konstruksi musik yang digarap Guruh dan grupnya ini mempertemukan musik etnik Bali yang berpola nada pentatonik dengan kultur Eropa klasik berpola nada diatonis.

Uniknya sisi mistis dalam lagu-lagu yang termuat di album masih terasa kental. Contoh pada lagu “Chopin Larung”, terlihat bagaimana kepiawaian Guruh dalam mencipta. Apalagi pemahamannya untuk menyatukan kedua harmonisasi dari kedua sisi budaya.

Persilangan ini memberi rangsangan kepada Guruh Gipsy untuk mengeksploitasi bebunyian hingga ke titik maksimal.

Lagu Chopin Larung menceritakan tentang kemurkaan Dewa Laut. Chopin diceritakan kebingungan karena tidak memahami jika bangsanya merusak seni budaya.

Tentu ini merupakan refleksi terhadap tercemarnya seni budaya Bali oleh kehadiran budaya asing yang dikiaskan kepada Frederych Franciszek Chopin, komponis asal Polandia yang menginvasi budaya Bali.

guruh gipsy formasi
Sumber gambar: dennysakrie63.wordpress.com (Formasi Guruh Gipsy).

Album Guruh Gipsy adalah hasil kolaborasi Guruh Sukarno Putera dan grup Gipsy dengan formasi Chrisye (vokal, bass), Odink Nasution (gitar), Abadi Soesman (keyboard), Roni Harahap (piano) serta Keenan Nasution (drum). Cikal bakal grup ini sudah lahir pada tahun 1966 dengan nama Sabda Nada. Grup ini pun telah mengalami pergantian personel berulang kali.

Kritik Musik yang Konstruktif

Album ini langsung mendapat kritik keras dari para pemusik tradisional Bali. “Musik Bali telah dirusak!” demikian menurut pendapat mereka. Dan meskipun gagal dalam pemasaran, banyak hal baru yang terjadi dalam proses pembuatan album ini.

Namun bagi kritikus musik, Denny Sakrie, menilai album ini merupakan mahakarya sebab dalam pencapaian artistik, album ini mampu menginspirasi generasi selanjutnya.

cover album guruh gipsy
Sumber gambar: Kompasiana.com

Album ini elegan luar dalam. Cover album ini sangat fenomenal dengan menampakkan kaligrafi Dasa Bayu. Kongkritnya berupa rangkaian 10 aksara Bali yang memiliki arti dan makna tertentu.

I-A berarti kejadian dan keadaan, A-Ka-Sa berarti kesendirian dan kekosongan, Ma-Ra berarti baru, La-Wa berarti kebenaran dan Ya-Ung berarti sejati.

Sejak zaman dahulu, simbol tersebut dimaknai sebagai suatu keadaan hampa atau kosong yang kelak akan berubah menjadi kebenaran yang hakiki. Nampaknya dari sinilah inspirasi untuk jargon album diperoleh.

Mahakarya ini sangat memukau. Menampilkan bahwa kemampuan musisi Indonesia sejak dulu perlu dipertimbangkan. Bagaimana, apa generasi milenial tertarik untuk mendengarkannya?

Written by Budi

Sehat selalu.

Relawan Palang Merah Indonesia

Relawan Palang Merah Indonesia

Persebaya: Penghancur Para Tim Pemegang Kans Juara

Persebaya: Penghancur Para Tim Pemegang Kans Juara