Lirik Dalam Musik, Apakah Sekadar Kata-Kata Biasa?
Sumber gambar: bmi.com
in

Lirik Dalam Musik, Apakah Sekadar Kata-Kata Biasa?

UGET UGET | Terkadang ketika mendengarkan musik pasti tidak akan luput dari yang namanya lirik. Lirik ini seperti penegas dalam setiap musik ya walaupun ada juga musik yang tidak menggunakan lirik sebagai penegas. Tapi lucunya ketika lirik dilepas dari musik mungkin cuman akan menjadi kata-kata biasa atau hanya akan menjadi puisi, atau juga cuman menjadi orasi para aktivis di jalanan.

Walaupun begitu pengembangan lirik juga agak menarik untuk dibahas. Dari sisi saya sendiri mungkin bisa dianggap benar atau mungkin dianggap salah. Sebenarnya pengembangan lirik berasal dari omongan-omongan setiap hari, mungkin dari teman yang curhat masalah hubungan, mungkin dari kondisi ekonomi dan politik suatu negara, mungkin dari ngerasani tetangga, bahkan mungkin dari obrolan yang tidak penting.

Sebenarnya saya juga agak bingung dengan penulisan lirik, kalau Bahasa Inggris tulisannya ‘Lyric’, tapi saya tidak ambil pusing, jadi ambil kebiasaan sehari-hari saja yaitu lirik. Lucunya kata ‘lirik’ di wikipedia itu muncul menjadi nama kecamatan di Riau. Sebenarnya apa sih korelasinya antara kata lirik dari Bahasa Inggris dan Kecamatan Lirik Di Riau?

‘Penipuan’. Kenapa saya punya hipotesa sebagai penipuan? Karena menurut saya sendiri lirik ialah penipuan yang digunakan setiap musisi agar menyentuh kalbu dari pendengar dan meyesuaikannya dengan kalbu musisi.

Dimensi-dimensi yang ditipu oleh lirik juga beragam, ada dimensi sosial, dimensi ekonomi, dimensi  politik, dan dimensi budaya. Apabila ditarik dari dimensi sosial, penipuan terjadi ketika lirik tidak berbanding lurus dengan kenyataan sosial di masyarakat dan di suatu daerah tertentu. Bisa dikatakan lirik tidak relevan dengan kenyataan sosial yang berlaku.

Seperti ketika banyak lirik-lirik lagu perlawanan dengan keadaan sosial yang damai atau pascarevolusi sehingga tidak relevan. Apabila diteruskan akan menjadi pembuangan energi massa yang sia-sia dan tidak terkoordinasi denga baik. Walaupun pada kenyataannya yang tidak relevan justru memiliki penggemar yang banyak.

Apakah Sekadar Kata-Kata Biasa?
Sumber gambar: 8tracks.com

Memasuki dimensi budaya, penipuan terjadi ketika lirik yang dibawa hanya translate dari lirik budaya lain atau ambil saja negara lain. JKT48 adalah salah satu Idol Girls hasil dari dimensi budaya ini, karena setiap lirik JKT48 hanya terjemahan dari AKB48 di Jepang, dengan penyesuaian nada dan intonasi di Indonesia.

Tidak hanya lirik saja yang ditiru akan tetapi dari sikap penggemar, manajemen, dan cara njoget juga adaptasi dari AKB48 walaupun tidak murni semua diadaptasi. Tetap ada beberapa penyesuaian budaya.

Lucu kiranya melihat beberapa contoh di atas tentang ‘penipuan’ di setiap lirik. Mungkin ini hanya pemikiran dari saya tapi saya memiliki beberapa konsep yang bagus untuk dibahas tentang lirik. Mungkin kalian pernah mendengar pengajian tentang ‘apa yang kalian omongkan harus berbanding lurus dengan apa yang dilakukan’. Biasanya omongan itu ditujukan kepada para jama’ah Jum’at di masjid.

Mungkin agak menarik ketika kata-kata di atas diterapkan kepada para musisi sekarang. Apabila lirik tidak berbanding lurus dengan apa yang dilakukan, apakah bisa dikatakan itu ‘penipuan’?

Sebenarnya pencegahan apa yang harus dilakukan tentang penipuan-penipuan lirik ini? Mungkin menurut saya sendiri harus dibentuk asosiasi anti penipuan lirik, yang di dalamnya ada beberapa pengamat, penikmat, dan ahli analisa musik. Atau undang-undang, seperti RUU Permusikan yang sedang viral. Sehingga akan mencegah terjadinya penipuan-penipuan lirik.

Walaupun apabila terbentuknya asosiasi ini akan menyebabkan musik menjadi tidak merdeka, dan kehilangan roh di setiap liriknya. Karena lirik ialah harapan dari musisi atau bisa juga kritikan dari penulis lagu.

Sebenarnya penipuan ini hanya karena menyepelekan makna dalam lirik musik. Apabila setiap musisi memiliki kesadaran akan lirik, maka tidak akan terjadi tentang penipuan lirik. Walaupun begitu pada kenyataanya audiens atau pedengar musik hanya bisa mendengarkan setiap lirik tanpa tahu tendensi tentang lirik tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Tengok Lagi Cara Berpakaianmu, Seragamkah?

Tengok Lagi Cara Berpakaianmu, Seragamkah?

mie ayam boncel

Mie Ayam Boncel, Mie Ayam yang Wajib Kamu Kunjungi Saat di Jogja