Tanggapan Untuk Lampu Lalu Lintas Dengan Ikon Pria Wanita Berpasangan di Taiwan
Sumber gambar: www.telegraph.co.uk
in

Tanggapan Untuk Lampu Lalu Lintas Dengan Ikon Pria Wanita Berpasangan di Taiwan

UGET UGET – Lampu lalu lintas biasanya identik dengan warna merah, kuning, dan hijau. Biasanya lampu hanya dihiasi pola berupa titik-titik atau hanya warna polosnya saja. Namun berbeda dengan Kabupaten Pingtung yang ada di daerah selatan Taiwan ini. Lampu penyeberangan jalan menggunakan ikon bergerak pasangan pria dan wanita.

Ikon ini merupakan bentuk kelanjutan rencana Petugas kepolisian Kabupaten Pingtung, Taiwan untuk menambahkan figur wanita di lampu lalu lintas pejalan kaki. Kalau di Taiwan pada umumnya lampu merah menunjukkan ikon seorang pria yang sedang berjalan yang tandanya para pejalan kaki boleh menyeberang. Namun kali ini, pria itu tak sendirian lagi.

Saat lampu hijau menyala, pasangan ikon itu akan berjalan bergandengan tangan. Ini menandakan pejalan kaki boleh menyeberang. Sedangkan saat lampu merah menyala, sang pria akan berlutut melamar kekasihnya sekaligus menandakan pejalan kaki harus berhenti. Wah para pejalan kaki semacam disuguhkan adegan romantis dua ikon ini, haha. Selain itu, ikon bergerak juga semakin terlihat menarik.

Dilansir okezone, penggunaan ikon ini bukan pertama kalinya dilakukan di dunia. Sebelumnya tahun lalu di Wellington, Selandia Baru, siluet Kate Sheppard, seorang pejuang hak perempuan pernah digunakan sebagai simbol lampu penyeberangan pejalan kaki.

Begitu pula yang terjadi di kota Utrecht, Belanda yang memilih jalur aman dengan memasang ikon Mifty. Mifty adalah karakter kartun kelinci lokal yang digunakan sebagai pengganti ikon perempuan agar tak terlalu frontal sekaligus terhindar dari perdebatan publik atas isu yang sama.

Sedangkan di kota Ulan Bator, Mongolia ikon lampu merah diilustrasikan dengan seseorang yang sedang menunggang kuda sebagai cerminan hobi sebagian besar masyarakatnya. Ikon ini bisa bermacam bentuknya disesuaikan dengan momen atau kekhasan suatu daerah.

Di Indonesia, lampu merah disebut sebagai Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas (APILL). Mayoritas lampu APILL di Indonesia masih berbentuk polos dengan menampilkan warna saja. Namun ada beberapa titik yang menyertakan ikon orang berdiri tegap untuk lampu merah dan ikon orang menghadap samping dengan tangan melenggang untuk lampu hijau.

Sejauh ini, lampu APILL cenderung berorientasi pada pengendara kendaraan bermotor, bukan kepada pejalan kaki. Lampu APILL pun diarahkan di depan muka para pengendara motor. Ini yang menurut saya justru memunculkan arogansi dalam berkendara. Ini pula yang mungkin menjadi alasan penggunaan ikon tidak terlalu dibutuhkan.

Kalau ikon lebih ditujukan pada pengendara kendaraan bermotor, ikon tidak sempat dinikmati dalam waktu yang cukup lama. Berbeda dengan ikon yang ditujukan untuk pejalan kaki, mereka bisa memandangi ikon lampu tersebut sembari berjalan.

Di Indonesia biasanya juga dipasang timer waktu pergantian dari lampu merah ke lampu hijau (seharusnya kita memandangnya sebagai pergantian dari lampu hijau ke lampu merah, apa bedanya?) Ya beda, itu artinya hak berada pada pengendara kendaraan, bukan mengedepankan para pejalan kaki. Lihat saja realitasnya sekarang. Orang akan memacu lebih kecepatannya kala lampu merah akan datang. Pengendara kendaraan bermotor semakin tidak memedulikan waktu lain yang dimiliki pengguna jalan lain.

Padahal jalan raya tidak hanya digunakan untuk pengendara kendaraan saja, melainkan ada pula pejalan kaki. Adanya zebra cross pun tak begitu memperbaiki rasa hormat pengendara kendaraan bermotor terhadap pengguna jalan lain, seperti pejalan kaki, mungkin ada tukang asongan yang mendorong gerobaknya, penjaja makanan keliling, penjual jasa sol, dan sebagainya. Jalan raya milik bersama. Ini yang perlu ditekankan pada esensi adanya lampu merah.

Penggunaan ikon perempuan tersebut sekaligus menunjukkan adanya kesetaraan gender di jalan raya. Bahwasanya jalan raya juga digunakan baik oleh laki-laki maupun perempuan. Fenomena-fenomena sepele seperti ini yang perlu kita cermati sebagai hal yang kurang sensitif gender. Mengapa gambar standar harus laki-laki?

Pada intinya jalan raya harus digunakan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya. Para penggunanya harus tertib dan berperilaku beradab.

Sumber gambar: www.telegraph.co.uk

https://www.youtube.com/watch?v=-3n0jHriENM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Asbes Material Bahan Bangunan yang Berbahaya Bagi Kesehatan

Asbes Material Bahan Bangunan yang Berbahaya Bagi Kesehatan

Menonton Film Romantis yang Bikin Terharu Ternyata Juga Seru

Menonton Film Romantis yang Bikin Terharu, Ternyata Juga Seru