Komunikasi Verbal Anak Dan Orang Tua Perlu Dibiasakan ugetuget

Komunikasi Verbal Anak Dan Orang Tua Perlu Dibiasakan

UGETUGET – Perkembangan teknologi berbanding terbalik dengan komunikasi verbal anak. Hal ini dialami dan dirasakan hampir oleh berbagai kalangan usia, tak terkecuali anak-anak.

Gawai (gadget) menawarkan berbagai kecanggihan yang semakin memudahkan berbagai aktivitas, sehingga tak jarang kita temui orang begitu tergantung pada gawai. Kecanduan gawai dapat mengganggu perkembangan dan hubungan berelasi seseorang. Maka, peran orang tua penting dalam memantau dan membimbing langsung penggunaan gawai terlebih di usia anak-anak.

Sebagai orang tua, perlu ada kepedulian dan tanggung jawab untuk mengawal akses informasi melalui gawai. Sama halnya dengan yang dilakukan ibu dua anak ini, Rina Novianti. Menurutnya, gawai biar bagaimana pun penting untuk dikenalkan pada anak agar anak tidak ketinggalan zaman.

Komunikasi Verbal Anak Dan Orang Tua Perlu Dibiasakan uget uget

Foto: Elisabet Selsyi – ugetuget.com

Meskipun begitu, ia mengakui tantangan mendidik anak zaman sekarang telah jauh berbeda. Namun, ia menekankan untuk tetap mengakrabkan anak dengan dunianya. “Bagaimana agar anak tetap on control, di rumah langganan majalah anak, baca komik, mungkin nanti kalau beranjak remaja baca tabloid teenager”.

Menurutnya, orang tua perlu mencontohkan dengan bijak keperluan sekaligus batasan penggunaan gawai. “Mama hanya pakai gadget untuk untuk hal apa, oh yang sifatnya cari info, jaga komunikasi, kita beri arahan anak akan mengerti,” ujar wanita berusia 36 tahun ini.

Anaknya, Revalita (3 SD) dan Oriana (5 SD) diberikan satu gawai untuk mempermudah komunikasi antar anggota keluarga, juga menjalin relasi dengan teman sekolahnya. “Baru-baru ini saya kenalkan gadget saat kelas 4 SD untuk standby komunikasi, paling yang digunakan Whatsapp, permainan,” ujarnya.

Tak hanya itu, Rina, begitu sapaannya bercerita, penggunaan gawai biasanya untuk mengeksplorasi hobi anak. Anak bungsunya suka membaca, sedangkan yang sulung suka membuat origami. “Biasanya Oriana cari di google bentuk-bentuk origami gitu, kalau yang kecil ini saya kasih aplikasi buku dongeng anak”.

Menurutnya, anak tidak perlu diberikan gawai yang terlalu mumpuni dengan kuota internet yang terlalu banyak. Di sisi lain menyortir kecanggihan gadget, menurutnya dapat mengurangi ketergantungan gawai pada anak. Pun anak dapat memilih hal apa yang dapat mendukung kesukaannya. “Biasanya memori handphone juga akan memengaruhi, misal kenikmatan saat main game, sehingga anak bisa pilih mana yang paling dia sukai”.

Padatnya rutinitas anak di sekolah, masyarakat, dan organisasi keagamaan juga dirasa dapat berimplikasi pada intensitas penggunaan gawai. Rina mengaku, kebetulan anaknya aktif di berbagai kegiatan ekstra kurikuler, les, bimbingan belajar, dan aktivitas di organisasi keagamaan. “Mereka jarang sekali pegang HP, paling hanya 30 menit sampai satu jam selepas pulang sekolah”.

Penggunaan gawai pun tidak mengganggu aktivitas baik belajar maupun waktu tidur. “Di sekolah ada rambu-rambu tidak boleh bawa HP kecuali mendesak, nah terus jam 9 atau setengah 10 malam sudah saya ajak tidur.” Begitu pula kala akhir pekan tiba. Mereka gunakan Hari Sabtu dan Minggu untuk quality time dengan keluarga, mengingat jarang sekali mereka bisa berkumpul bersama.

Sebagai orang tua, ia bersama suaminya mengaku perlu awareness untuk memantau akses anak pada gawai. Ini dilakukan melalui riwayat pencarian dan daftar spam. Rina menilai akses anaknya pada gawai masih tergolong wajar, bahkan mereka masih cenderung mempercayai sumber informasi konvensional. “Mereka tetap eksplorasi dari lembar kerja siswa, buku pelajaran. Mereka masih percaya dengan kegiatan riil misal dari teman gereja, buku”.

Pun, informasi yang dibicarakan dalam grup media sosial masih bersifat positif. “Informasinya cerita sharing kehidupan, tapi hoax seperti itu mereka belum ribut,” ujar wanita yang bekerja sebagai karyawan sebuah bank di Yogyakarta ini.

Hal yang paling penting dalam mengawal penggunaan gawai pada anak adalah tidak perlu memaksa ataupun menghakimi. “Sepanjang hal utama sudah dilakukan, boleh pegang gadget. Biasakan terbuka dengan anak, beli kuota itu mahal lho, dan sebagainya.” Terpenting baginya orang tua harus membiasakan anak untuk bicara verbal, bukan nonverbal sehingga HP tidak menjadi pelarian kedua bagi anak.

Sumber gambar: www.pinterest.com

3

No Responses

Show all responses