Sensasi Kenikmatan Pulu Golla di Pematang Sawah
Sumber gambar: sajiansedap.grid.id
in

Sensasi Kenikmatan Pulu Golla di Pematang Sawah

UGET UGET – Di mana letak kenikmatan suatu makanan? Bagiku, mungkin juga kamu, kenikmatan itu kadang-kadang tidak terletak pada apa yang kita masukkan ke dalam mulut, melewati tenggorokan. Hal-hal kecil dari proses pembuatannya, suasana, tempat, dan orang yang menemani, membuat suatu makanan yang sederhana menjadi spesial.

Begitulah aku merindukan Pulu Golla, begitu ia disebut dalam bahasaku, Bahasa Duri, yang merupakan salah satu dari tiga bahasa daerah di Enrekang, Sulawesi Selatan. Kamu mungkin punya nama lain untuk itu, beras ketan yang disajikan dengan kuah gula merah yang telah dicairkan.

Sederhana. Bahkan orang yang baru belajar masak pun bisa menyajikannya. Tak ada resep yang spesial, cukup beras ketan, di tempatku dinamakan Pulu Mandoti yang sangat harum meski tak dicampur dengan apapun. Gula merahnya, adalah gulah merah hasil sulingan dari air pohon aren. Gula ini tidak terlalu manis seperti halnya gula merah yang disuling dari kelapa, namun ada rasa pahit sekaligus harum.

Pulu Golla akan terasa lebih nikmat bagiku ketika ia disajikan setelah menanam padi di sawah. Di tempatku, penanaman padi dilakukan pagi hari secara bergotong-royong. Untuk menghindari bibit padi layu yang dicabut sore kemarin, maka harus ditanam sebelum matahari terik.

Pagi-pagi sekali ketika suasana belum terang sepenuhnya, semua laki-laki, kecuali yang sedang bersekolah, akan turun ke sawah, sementara airnya yang begitu dingin (desaku berada 1.100 meter di atas permukaan laut) menyentuh hingga beberapa senti di atas mata kaki.

Lain halnya ibu-ibu yang membawa peralatan masak sendiri dari rumah masing-masing, berkumpul di rumah orang yang sawahnya sedang ditanami padi itu sejak dari malam hari. Karena proses pematangan beras ketan yang lebih lama dari beras biasanya, maka beras ketan tersebut akan dimasak pada malam hari. Paginya, ibu-ibu yang ada di dapur cukup mencairkan gula merah.

Semua harus cepat dan singkat. Sebab, penanaman padi yang dikerjakan bergotong-royong tidak pernah lebih dari satu jam, seberapa besar pun sawahnya. Setelah memasak, ibu-ibu itu memindahkan masakan ke dalam wadah yang besar, lantas setiap orang menjunjung satu wadah.

Mereka akan melewati pematang-pematang sawah dan sampai tepat sebelum para lelaki selesai menanam padi. Lantas mereka akan membagi-bagi beras ketan ke dalam satu porsi berwadah piring. Gula merah yang telah mencair dan masih panas di wadah yang lebih ceruk, kadang-kadang gelas cangkir atau mangkuk. Keduanya ditempatkan berjejeran.

Aku dan laki-laki lainnya, setelah selesai, akan membasuh tangan dan kaki seadanya, meski kadang kurang bersih, lalu berkerumun mengambil satu piring nasi ketan dan satu mangkuk gula merah. Lantas kami akan duduk berjejer di atas pematang sawah, dan makan dengan cara masing-masing.

Hawa dingin, suasana yang penuh tawa, di tengah sawah, menikmati Pulu Golla terasa menjadi sangat spesial. Tanpa lauk apapun, tanpa bumbu yang macam-macam, harumnya Pulu Mandoti dan gula merah bercampur.

Setelahnya, kami akan berjalan masing-masing ke sawah sendiri, dengan kerinduan Pulu Golla yang akan kami temui lagi esok hari di sawah yang berbeda. Dan kenikmatan itu tak pernah membuatku bosan, bahkan jika satu bulan penuh akan sarapan dengan Pulu Golla.

Sumber gambar: sajiansedap.grid.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Sebuah Kota di China Berikan Spesifikasi Tinggi Seorang Sarjana untuk Pekerjaan Manajer Toilet Umum

Sebuah Kota di China Berikan Spesifikasi Tinggi Seorang Sarjana untuk Pekerjaan Manajer Toilet Umum

Cowok Angkuh Adalah Manusia Paling Angker Di Mata Cewek

Cowok Angkuh Adalah Manusia Paling Angker Di Mata Cewek