Kenapa Sih Orang Indonesia Menggunakan Social Media Untuk Jualan? Apa Benar Begitu Penggunaanya?
Sumber gambar: blog.webcertain.com
in

Kenapa Sih Orang Indonesia Menggunakan Social Media Untuk Jualan? Apa Benar Begitu Penggunaanya?

UGET UGET – Peradaban sebuah bangsa memiliki percepatan tersendiri. Seperti zaman ketika internet sedang booming di Amerika. Kalau tidak salah ketika tahun 1998, waktu itu internet sedang naik daun di Amerika. Perkembangannya sangat drastis dan internet digunakan untuk berbagai macam kebutuhan hidup, seperti transaksi bisnis. Dan pada tahun itu juga raksasa e-commerce seperti Amazon juga lahir.

Tetapi pada zaman itu belum ada yang disebut dengan social media. Media sosial awal adalah Myspace dan Friendster pada saat itu. Mereka lahir setelah tahun 2000-an. Kini sudah banyak media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan sebagainya. Saya pribadi membuat akun Facebook pertama kali pada tahun 2008.

Yang ingin saya ceritakan adalah keunikan iklim e-commerce di Indonesia. Menurut saya fenomena yang ada di Indonesia ini sangat unik sekaligus menggelikan. Sementara iklim e-commerce di luar negeri sudah sangat maju dengan hadirnya website e-commerce dengan teknologi luar biasa yang memudahkan konsumen untuk membeli barang-barang secara online sekaligus membayar transaksi tersebut.

Tapi fenomena yang ada di Indonesia malah sebaliknya. Di Indonesia seseorang lebih nyaman berbelanja dan berinteraksi melalui media sosial. Beberapa waktu lalu Facebook merajai sosial media yang digunakan oleh orang-orang Indonesia untuk berjualan. Kemudian trend ini bergeser ke Instagram. Jutaan orang berbondong-bondong membuka toko online di Instagram. Mereka menawarkan berbagai macam produk mulai dari perhiasan sampai dengan kendaraan.

Yang jadi masalahnya bukanlah Instagram, tetapi kenapa orang-orang Indonesia malah lebih suka berbelanja online dengan mengetahui informasi dari Instagram. Bahkan mereka sendiri lebih nyaman ketika browsing produk di Instagram bukan di website. Seperti kita ketahui bersama bahwa Instagram adalah sosial media berbasis gambar. Karena berbasis gambar ini, oleh orang-orang Indonesia dijadikan media untuk promosi produk. Padahal, awal mula Instagram membuat media sosialnya adalah untuk berbagi foto.

Kalau sejak awal Instagram ingin membuat platform e-commerce, tentu saja mereka akan memberikan satu kolom untuk menyisipkan harga. Tapi nyatanya tidak. Sampai saat ini Instagram malah mempertahankan fitur untuk mengedit foto dengan berbagai efek cahaya.

Jika Instagram ingin serius di bidang e-commerce, tentu saja fitur retouching foto ini ditiadakan. Alasannya sederhana yaitu fitur ini akan mempengaruhi keadaan sebenarnya dari gambar produk. Efeknya adalah konsumen merasa ditipu.

Sebagai contoh: ketika seseorang menjual kaos, warna aslinya adalah putih tetapi karena diedit dengan fitur Instagram tadi maka kaosnya tidak lagi berwarna putih. Ada warna lain yang ikut campur di dalamnya. Dan ketika konsumen membeli produk tersebut dia akan protes kenapa tidak sesuai dengan yang ada di etalase Instagram.

Melihat fenomena seperti ini, saya juga heran dengan tingkah laku konsumen di Indonesia. Seharusnya ada tempat yang lebih baik untuk berjualan secara online yaitu tempat sebenarnya adalah website. Platform website menyediakan tempat yang luas untuk berkreasi dan menyediakan teknologi yang tepat untuk transaksi sepenuhnya secara online.

Mungkin saja Indonesia belumlah sampai pada waktunya. Orang-orang Indonesia masih terlalu awam jika harus berurusan dengan transaksi online sepenuhnya. Mereka masih harus diyakinkan dengan cara chatting langsung kepada online shop bersangkutan. Menurut saya, mereka masih ragu dan takut tertipu. Padahal, saat ini banyak sekali online shop berbasis website yang tidak menipu.

Saya masih menunggu masyarakat Indonesia sadar akan kegunaan sosial media dan terdidik untuk menggunakan website sebagai sarana transaksi online.

Bagaimana brand besar menggunakan sosial media?

Yang saya maksud brand besar seperti Nike dan McDonald. Bagaimana mereka menggunakan media sosial untuk membesarkan perusahaannya dan menarik lebih banyak konsumen? Apakah mereka berjualan secara langsung di media sosial seperti Instagram?

Tentu saja tidak. Mereka menggunakan media sosial untuk membentuk brand, memperkenalkan produknya kepada konsumen baru ataupun yang lama. Bahkan mereka bisa memberikan promo atas produk baru tersebut. Dan jika konsumen ingin mendapatkan produknya maka dia bisa menghubungi dealer terdekat ataupun transaksi melalui website.

Media sosial itu seperti sebuah tempat yang dikerumuni banyak orang, kemudian kamu bisa memperkenalkan brand atau produk kepada komunitas tersebut, tetapi ‘haram’ hukumnya ketika kamu langsung berjualan di dalamnya, meskipun kamu sendiri memiliki banyak follower. Itulah yang dilakukan oleh pengguna media sosial di luar negeri. Semua transaksi keuangan pasti melalui website. Dan sudah tidak ada lagi komunikasi melalui pesan singkat. Semua pesan atau komunikasi pasti melalui website.

Suatu teknologi memang tidak bisa dipaksakan. Indonesia belum siap dengan hadirnya teknologi seperti itu, tapi saya yakin Indonesia akan segera siap. Itu bisa diketahui dari banyak pihak yang mendidik masyarakat Indonesia tentang bagaimana menggunakan media sosial ke arah yang lebih cerdas.

Sumber gambar: blog.webcertain.com

Written by Bimo

Web developer, menggunakan CakePHP sebagai inti pengembangan situs dan wordpress untuk bermain blog. Kadang-kadang menulis, coding. Suka bersepeda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Lupa Saat Memasuki Ruangan Baru? Mungkin Kamu Mengalami Doorway Effect

Lupa Saat Memasuki Ruangan Baru? Mungkin Kamu Mengalami Doorway Effect

Hidup Kita Harus Bisa Menginspirasi Orang Lain

Hidup Kita Harus Bisa Menginspirasi Orang Lain