Balitbang Kementerian PUPR Gunakan Limbah Sampah Plastik Sebagai Bahan Campuran Aspal Panas
Sumber gambar: www.karetpedia.com
in

Balitbang Kementerian PUPR Gunakan Limbah Sampah Plastik Sebagai Bahan Campuran Aspal Panas

UGET UGET – Limbah sampah plastik menyumbang sebanyak 14% dari total sampah di Indonesia. Tak heran limbah plastik menjadi kebingungan baik oleh Pemerintah, peneliti, akademisi, aktivis lingkungan, hingga masyarakat umum. Limbah plastik menjadi masalah urgent yang harus segera ditangani.

Berbagai upaya telah banyak dilakukan untuk mengurangi pencemaran dan masalah pemanasan global akibat limbah sampah plastik tersebut. Salah satunya datang dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) yang tengah mengembangkan pemanfaatan limbah plastik sebagai campuran aspal panas.

Hasil pemanfaatan ini ternyata sudah diuji coba di beberapa kota besar di Indonesia, yakni Bali, Bekasi, Makassar, dan Surabaya. Dilansir akun Instagram @wowfakta, upaya ini sejalan dengan pernyataan presiden Joko Widodo pada pertemuan KTT G-20 di Harmburg, Jerman pada 8 Juli lalu. Dalam acara tersebut, Jokowi menyampaikan komitmen Indonesia untuk mengurangi sampah plastik laut sebesar 70% dalam jangka waktu hingga tahun 2025.

Seperti di ketahui, banyak pula pihak-pihak tidak bertanggung jawab membuang plastik ke laut. Tindakan tak terpuji ini telah mencemari ekosistem yang hidup di sana. Namun dengan inovasi ini sekiranya laut Indonesia bisa menjadi daya tarik luar biasa. Ekosistemnya sehat dan terjaga, pun enak untuk dipandang dan diekspor lebih dalam.

Rupanya komitmen tersebut telah digiatkan para peneliti di Balitbang Kementerian PUPR. Mereka telah cukup lama melakukan penelitian pemanfaatan limbah plastik sebagai campuran aspal.

Masih dilansir @wowfakta, Kepala Balitbang Kementerian PUPR, Danis Hidayat Sumadilaga mengatakan, pemanfaatan limbah plastik sebagai aspal merupakan salah satu solusi bagi permasalahan sampah plastik.

“Setiap 1 kilometer jalan dengan lebar 7 meter memerlukan campuran limbah plastik 2,5 hingga 5 ton. Jadi bisa dibayangkan apabila hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan di Indonesia yang memiliki jalanan ribuan kilometer,” jelas Danis.

Jumlah sampah plastik di Indonesia tahun 2019 diperkirakan mencapai 9,52 juta ton atau sekitar 14% dari total sampah yang ada. Dengan estimasi plastik yang digunakan 2,5-5 ton/km jalan, maka limbah plastik sekiranya dapat menyumbang kebutuhan jalan sepanjang 190.000 km. Sangat bermanfaat bukan?

Apalagi dalam pemerintahan Jokowi yang begitu menggalakkan pembangunan infrastruktur. Terutama pembangunan jembatan di daerah timur Indonesia. Penelitian ini sekaligus mampu menyelesaikan dua target sekaligus, menyelesaikan permasalahan sampah sekaligus meningkatkan pembangunan infrastruktur.

Namun tak hanya itu, dari dua prestasi ini tentunya akan memunculkan manfaat positif di bidang lainnya. Terbangunnya infrastruktur yang baik sekaligus dapat memangkas jalur distribusi sehingga ongkos bisa ditekan serendah-rendahnya. Pemerintah akan dapat menghemat anggarannya untuk biaya infrastruktur, serta mengalokasikannya untuk kepentingan lain.

Sampah yang berkurang juga dapat menjadi cara menata kembali wajah Indonesia, menjadi lingkungan hijau. Indonesia pun bisa menjadi role model negara dengan sedikit emisi gas rumah kaca.

Sumber gambar: www.karetpedia.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Pentingnya Liburan Bagi Mahasiswa Semester Tua

Pentingnya Liburan Bagi Mahasiswa Semester Tua

Beşiktaş Beruntung Punya Carsi yang Susah Diajak Diam

Beşiktaş Beruntung Punya Carsi yang Susah Diajak Diam