Cerita di Balik Kemenangan AC Milan vs Autria Wina di Europa League
Sumber gambar: facebook A.C. Milan
in

Cerita di Balik Kemenangan AC Milan vs Autria Wina di Europa League

UGET UGET – Lupakan cerita kekalahan AC Milan yang sering dibicarakan akhir-akhir ini. Karena kali ini AC Milan mampu memetik kemenangan besar di Europa League.

Skor 5-1 menjadi hasil akhir pertandingan AC Milan melawan Austria Wina. Kemenangan yang sudah seharusnya didapatkan AC Milan guna mengamankan posisinya di urutan paling atas grub D Europa League.

Ada banyak cerita di balik kemenangan itu, tapi kali ini saya tidak akan membahas tentang taktik bermain Milan ataupun formasi 3-5-2 yang diusung Vincenzo Montella.

Ada tiga hal yang menggelitik di pikiran saya tentang pertandingan AC Milan versus Autria Wina ini. Pertama, tentu tentang keberadaan sang Legenda Milan di stadion, Ricardo Kaka.

Usai memutuskan berhenti bermain di MLS, Ricky (panggilan sayang AC Milan untuk Kaka) terlihat lagi di San Siro. Bahkan ketika half time, dia mengenakan jersey Milan lagi di depan para tifosi yang ada di San Siro. Nama Kaka dengan nomer punggung 22 seperti masa lalunya di sana.

Keberadaan Ricky di San Siro membuat saya berpikir bahwa dia menghadirkan magic dalam pertandingan tersebut. AC Milan yang akhir-akhir ini kesulitan mencetak gol, bisa dengan sigapnya mencetak tiga gol balasan dalam waktu yang singkat. Itu kenapa saya berpikir mungkin saja karena disambangi oleh pemain yang pernah sukses di Milan, penampilan mereka menjadi lebih baik.

Belum lagi di babak kedua, hingga akhir pertandingan pun AC Milan masih terus berkonsentrasi untuk menambah pundi-pundi golnya. Terbukti dengan gol pamungkas Cutrone di menit 90+3 yang menjadikan skor berakhir dengan kedudukan 5-1 untuk Milan. Gol ini mengantarkan Cutrone sebagai pemain paling muda di Europa League yang mencetak dua gol di face grup.

Percaya dengan magic itu atau tidak, yang jelas kehadiran Ricky Kaka memberikan semangat yang tinggi untuk para pemain Milan. Tentu mereka juga ingin memberikan suguhan yang manis untuk peraih Ballon d’Or 2007 tersebut. Dan mungkin mereka juga sudah lelah sakit hati karena kalah. Semoga saja hasil ini berlanjut dengan ada atau tidaknya Ricky di San Siro.

Hal lain yang membuat saya sempat tersenyum heran di pertandingan AC Milan vs Austria Wina ini adalah kegagalan Bonucci menghalau bola pada saat terjadinya gol pertama di pertandingan tersebut yang dicetak pemain Austria Wina.

Bonucci yang gagal dengan perangkap offside-nya itu berusaha menghalau bola yang hampir masuk gawang. Tapi sayang, sliding-nya gagal total dan bola bisa dengan santainya lewat di antara kedua kakinya. Mungkin gol itu tidak akan terjadi seandainya saja kedua kaki Bonucci tertutup saat itu.

Tapi sudahlah. Kita cukup tahu saja kalau defender handal sekelas Bonucci juga tidak luput dari kesalahan.

Hal ketiga yang menggelitik di benak saya dan cukup membuat saya sedih adalah banyaknya kursi kosong di San Siro. Hampir jarang sekali saya melihat hal ini. Tapi mau bagaimana lagi, performa Milan yang kurang apik akhir-akhir ini memang berdampak pada kekecewaan fans yang pada akhirnya memutuskan tidak datang ke San Siro.

Meskipun begitu, masih tetap terdengar dengan jelas sorakan dari Curva Sud yang setia berada di sana. Nyanyian untuk Milan juga masih tetap berkumandang. Meski tidak sebanyak biasanya.

Itulah tiga cerita di balik kemenangan AC Milan melawan Autria Wina versi saya. Semoga saja akan ada cerita lagi di balik kemenangan-kemenangan selanjutnya. Syaratnya AC Milan harus menang dulu pastinya.

Sumber gambar: facebook A.C. Milan

https://www.youtube.com/watch?v=vqrIGu5BHa0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Event Jepang MangaFest 2017 Akan Segera Digelar

Event Jepang MangaFest 2017 Akan Segera Digelar

Berbekal Keyakinannya Pada Sistem Kecerdasan Buatan, Mantan Insinyur Google Ciptakan Agama WOTF dan Robot Tuhan uget uget

Berbekal Keyakinannya Pada Sistem Kecerdasan Buatan, Mantan Insinyur Google Ciptakan Agama WOTF dan Robot Tuhan