Ngepop

Keluh-Kesah Penerjemah Cerpen Novel Indonesia

UGETUGET – Selain terkenal sebagai kota pendidikan dan budaya, Yogyakarta juga terkenal sebagai kota penerbit. Pastinya, kota ini juga memiliki banyak penulis dan penerjemah. Khususnya penulis dan penerjemah cerpen novel Indonesia.

Bahkan, penerbitan buku indie pun semakin marak di kota ini. Harusnya, pertumbuhan dan perkembangan ini menjadi kabar gembira bagi para penulis, khususnya penerjemah. Sayangnya, nasib berkata lain.

Ternyata penerjemah cerpen novel Indonesia mengalami tekanan mental yang luar biasa dahsyat. Jika bisa diibaratkan, mungkin tekanan itu akan membuat para penerjemah menjadi Super Saiyan.

Kebetulan saya juga mempunyai beberapa teman yang menjadi penerjemah cerpen-novel Indonesia. Biasanya mereka juga curhat ke saya. Menurut mereka ada empat hal menjengkelkan yang sering ditemui.

  • Harga

Para klien atau pengguna jasa penerjemah pasti selalu meributkan hal yang satu ini. Prinsip ekonomi menawar semurah-murahnya benar-benar mereka praktikkan dalam kasus ini.

Orang-orang sering berkata, “nerjemahin segitu aja kok mahal sih Mas? Nggak bisa lebih murah lagi?”. Dude, ketahuilah, pertanyaan ini terasa sangat menyakitkan bagi para penerjemah.

  • Waktu Pengerjaan

Biasanya, sebelum terjalin kesepakatan soal harga, para klien juga akan menanyakan perihal waktu pengerjaan. Harga sering ditentukan dari cepat atau lambatnya waktu pengerjaan. Dan tentu saja, pengguna jasa pasti ingin hasil yang cepat dengan kualitas yang bagus.

  • Bahan Garapan Setengah Jadi

Fenomena ini juga kerap menimpa para penerjemah. Pengguna jasa biasanya tidak menyiapkan bahan garapan yang sudah jadi, melainkan yang setengah jadi.

Maksud dari bahan setengah jadi adalah penggunaan bahasa dari bahan garapan tersebut kacau balau. Baik itu Bahasa Indonesia-Bahasa Inggris atau Bahasa Inggris-Bahasa Indonesia. Sehingga penerjemah harus membetulkan struktur kalimat dalam dua bahasa.

Dampaknya, penerjemah mengalami dilema. Karena jika ia membetulkan struktur kalimat di bahan garapan tersebut, maka waktu yang diperlukan akan lebih lama. Tetapi jika tidak dibetulkan, maka hasil terjemahan yang berkualitas pun kemungkinan besar akan sirna.

  • Klien Memberi Tekanan

“Mas/Mbak, bisa cepat tidak ya?” tanya klien.

“Bisa Mbak/Mas. Tetapi harganya beda. Kalau pengin cepet, harganya jadi … (sebut harga)”.

“Halah Mas/Mbak, kok selisihnya jauh banget ta?”.

Saya sendiri berpendapat bahwa klien kurang memahami bahwa si penerjemah pun adalah manusia. Ia mempunyai waktu yang sama dengan manusia yang lain, yaitu 24 jam dalam sehari. Itu pun harus ia bagi dengan kegiatan-kegiatan yang manusiawi, seperti makan, minum, berak, bahkan menghayal.

Sedangkan dari sudut pandang klien sendiri mungkin menganggap bahwa waktu (yang cuma 24 jam itu) adalah hak mutlaknya. Maka ia pun merasa lumrah jika memosisikan dirinya sebagai tiran.

Sumber gambar: keajaibanmenulis.com

Bagikan artikel ini:

Leave a Comment

Pingin konten seru tiap hari?

Dapetin konten menarik di emailmu

Makasih bro, tunggu konten dari kami ya

Ada kesalahan, coba ulangi lagi