Mungkinkah Kebudayaan Kita Menjadi Teori Ilmu Pengetahuan?
Sumber gambar: lulupramahesti.blogspot.co.id
in

Mungkinkah Kebudayaan Kita Menjadi Teori Ilmu Pengetahuan?

UGET UGET – Kebudayaan merupakan tenunan makna yang diteruskan secara historis, terwujud dalam bentuk simbol-simbol yang dengannya manusia berkomunikasi, melestarikan dan memperkembangkan pengetahuan tentang kehidupan dan sikap-sikap terhadap kehidupan (Geertz, 1992: 3). Selain perwujudan-perwujudan konkret, kebudayaan pun mengandung etos dan pandangan dunia masyarakatnya.

Etos adalah sikap dasar terhadap diri sendiri dan dunia yang direfleksikan dalam kehidupan. Sementara pandangan dunia adalah gambaran tentang kenyataan apa adanya, konsep tentang alam, diri dan masyarakat. Pandangan dunia mengandung gagasan-gagasan yang paling komprehensif mengenai tatanan.

Setiap kebudayaan di Nusantara telah melewati rentang historis yang sangat panjang, berinteraksi dengan berbagai peradaban besar dunia, mulai dari agama-agama besar seperti Hindu, Islam dan Kristen; dengan budaya-budaya besar seperti Arab, India, China, dan Eropa. Bisa dikatakan, kebudayaan Nusantara adalah hasil dari penyulingan secara mendalam dari setiap peradaban besar yang pernah berinteraksi dengannya.

Begitu pun dengan etos dan pandangan dunia yang terkandung dalam setiap budaya. Ia berasal dari pemadatan etos dan pandangan dunia dari kebudayaan yang pernah berinteraksi. Oleh sebab itu, di dalamnya terkandung keluhuran dan epistemologi pengetahuan yang tetap berjalan hingga hari ini.

Namun, sayangnya, belum ada satu pun sumbangan kebudayaan Nusantara terhadap dinamika epistemologis. Hingga hari ini, epistemologi yang berkembang dalam ilmu pengetahuan masih terbatas pada epistemologi Barat, yang pada dasarnya juga digali dari kebudayaan mereka. Ilmu pengetahuan kita hanya bisa menjadi konsumen dari epistemologi yang sudah ada.

Tak ada pertimbangan akan keselarasan epistemologi dengan kebudayaan dan pola kehidupan yang berkembang di Nusantara. Akibatnya, ilmu pengetahuan dan para intelektual seakan tidak memiliki peran yang penting dalam perkembangan negara. Mereka seakan tercerabut dari akarnya sendiri.

Maka dari itu, perlu perspektif baru untuk mendekati kebudayaan, bukan sekadar warisan-warisan simbol yang harus dijaga dan dilestarikan. Etos dan pandangan dunia yang terkandung di dalam kebudayaan haruslah digali hingga bisa menjadi bangunan epistemologi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sejarah pengetahuan Barat telah memberikan contoh yang komprehensif dalam hal ini, di mana mereka mampu memindahkan mitos-mitos kuno Yunani ke dalam sistem filsafat dan sains yang sistematis. Perlu meniru Barat dalam hal bagaimana mereka mensistematisasi mitos-mitos dan simbol-simbol makna yang berserakan.

Dengan itu, kampung halaman yang selama ini diidentikkan dengan istilah tradisional dan terbelakang, bisa tampil sebagai alternatif baru dalam ilmu pengetahuan yang semakin terdesak oleh kapitalisme dan pemikiran yang serba praktis. Bagi Indonesia sendiri, epistemologi dari kampung halaman bisa menjadi penghubung antara realitas sosial dan ilmu pengetahuan, akademisi sebagai pemikir yang berguna, dan kampus bisa berfungsi sebagai produsen akademisi bukan sekadar menciptakan sarjana muda yang terkatung-katung dan pengangguran.

Sumber gambar: lulupramahesti.blogspot.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Pedro Paramo dan Jalan Pembebasan Realisme Magis

Pedro Paramo dan Jalan Pembebasan Realisme Magis

Mulai Lelah Kerjain Skripsi? Mungkin Kamu Butuh Short Break

Mulai Lelah Kerjain Skripsi? Mungkin Kamu Butuh Short Break