Ngepop

Jaran Goyang Nella Kharisma Mengguncang Dunia

UGET UGET – Bila berbicara tentang dangdut, pasti jaran goyang Nella Kharisma yang terbesit di pikiran. Tetapi jangan lupa, sosok legendaris Oma Irama alias Bang Haji tetap tak tergantikan dalam sanubari.

Ideologi Bang Haji ternyata tidak berjalan seirama dengan fenomena dangdut koplo. Bahkan, aksi para biduanita yang sering goyang, sawer, dan penonton yang rusuh, membuat Benny Soebardja, pelopor majalah musik Aktuil, menjuluki musik dangdut sebagai musik tai anjing.

Mungkin itu juga yang menjadi sebab kenapa majalah musik seperti Rolling Stone jarang mengangkat fenomena dangdut. Di tahun 2007, pada edisi ke-32, majalah ini menuai kontroversi karena memasukkan album Begadang – Oma Irama dalam 150 Album Indonesia Terbaik.

Dengan segala pernak-pernik polemiknya, maka jadilah saya pemuja dangdut yang kepo. Kalau mau jujur, sebenarnya saya kenal dangdut sejak kecil. Sebab di masa kecil saya, film-film Oma Irama dan A. Rafiq masih banyak diputar di televisi.

Tetapi Oma Irama tetap menjadi nomor satu di hati. Jika boleh dikatakan, musik dangdut selain Oma Irama pada masa itu hanya terdiri dari tiga komposisi musik, yaitu Arab, India, dan Melayu. Sedangkan Bang Haji memberikan nuansa rock yang gahar cum penuh semangat dan identik dengan anak muda.

Jadilah saya pemuja dangdut sekte Soneta, dengan Bang Haji Oma Irama sebagai Imam Besarnya. Tetapi hal ini tak bertahan lama. Karena sebagai anak muda generasi ’90-an, selera saya yang masih labil digempur oleh berbagai aliran musik, seperti hair metal dan punk rock. Penghianatan ini berlangsung selama satu dekade lebih.

Hingga akhirnya di tahun 2008, saya terselamatkan oleh teknologi yang bernama YouTube. Berkat bantuan teknologi ini, saya kembali lagi ke jalan dangdut, tetapi lebih radikal. Teman-teman saya kebanyakan yang berasal dari Jawa Timur mengatakan bahwa dangdut iku yo pantura. Dari statement itu, semangat saya terpercik untuk berselancar di dunia maya, mencari tahu tentang “dangdut pantura” ini.

Walaupun beberapa tahun sebelumnya terjadi polemik antara Inul Daratista dan Bang Haji, tetapi media televisi maupun media massa lainnya sama sekali tidak menyebut tentang genre dangdut yang dibawa Inul. Setelah saya pelajari, ternyata Inul adalah refleksi dari sub genre dangdut pantura itu.

Gairah dangdut saya tak terbendung, mulailah saya kenal dengan grup-grup dangdut pantura, macam Monata, Relaxa, Palapa, Sera, dan sebagainya. Saya menemukan kembali ruh dangdut. Dimana ruh dangdut awal yang dibawa oleh sang Imam Besar adalah pemberontakan.

Seorang teman yang berasal dari tlatah Majapahit, Dendy pernah berkata, “awakmu deloken, sesok dangdut bakal munggah neng kancah nasional. Dangdut iku musik pop Indonesia sing saktemene”. Ia mengatakan hal itu pada tahun 2009.

Dendy merupakan pecinta musik yang gagal menjadi musisi dan terjerumus ke dalam program studi sastra. Bukannya sedih, ia justru semakin membara. Cita-cita untuk menjadi Arya Dwi Pangga, si pendekar syair berdarah, membawanya menjadi murid pencak silat. Kini ia menjadi seorang penjaga cahaya (baca: fotografer).

Baginya, pencak silat adalah jalan kependekaran, puisi adalah jalan kepenyairan, dan fotografi adalah cahaya. Ketiga-tiganya melebur, menjadi jalan sunyi.

Realitas perkembangan dangdut di tahun 2017 ternyata melebihi perkiraan Dendy. Setelah beberapa tahun tak bersua, kami bertemu di sebuah warung kopi di Yogyakarta. Saat itu, lagu yang sedang diputar adalah milik Nella Kharisma yang berjudul Jaran Goyang.

“Apa salah dan dosaku sayang, cinta suciku kau buang-buang. Lihat jurus yang kan kuberikan, jaran goyang, jaran goyang. Sayang janganlah kau waton serem, hubungan kita semula adem. Tapi sekarang kecut bagaikan asem, semar mesem, semar mesem.”

Kuping kita berdua kaget. Karena beat lagu ini sangat asik. Selain itu, permainan bunyi setiap kata dan kalimatnya pun sangat menarik. “Asem, lagune puuenaakk tenan. Tapi sek, mosok Nella Kharisma? Lagune iki mirip kaya NDX pa Pendoza,” ucap Dendy.

Sebagai kawula Mataram, saat membicarakan NDX, Pendoza, tidak bisa tidak harus merujuk kepada Jogja Hip Hop Foundation. Grup ini telah menginspirasi banyak anak muda Jogja, khususnya pecinta hip hop. Grup ini juga berhasil merevitalisasi sub genre hip hop khas Jogja, yaitu hip hop Basa Jawa.

Tetapi yang menjadi titik perhatian saya justru bukan mereka, tetapi Andi Mbendol. Siapakah Andi Mbendol? Banyak orang yang tidak memperhatikannya. “Sapa kuwi Andi Mbendol?”  tanya Dendy. Nama Andi Mbendol muncul sebagai pencipta lagu Jaran Goyang dalam video Nella Kharisma. Selain itu, saat NDX A.K.A Familia diwawancara oleh Andy F. Noya, nama Andi Mbendol sempat muncul.

“Andi Mbendol ki otak alias dalang di balik fenomena hip hop dut a.k.a hip hop dangdut.” Selain itu mungkin juga banyak yang tidak tahu tentang siapakah penyanyi awal (baca: asli) Jaran Goyang? Saya cuma tinggal cari saja unggahan video paling lama yang berhubungan dengan Jaran Goyang.

Saya pun menemukan nama Cornelius & Junior yang berada di bawah naungan Crazygila Music Production sebagai penyanyi pertama Jaran Goyang.  Saya dan Dendy pun terdiam. Kami menjadi semakin yakin bahwa dari Yogyakarta lah semua perubahan akan bermula.

Sumber gambar: www.dunialiriklagu.info

Bagikan artikel ini:

Leave a Comment

Pingin konten seru tiap hari?

Dapetin konten menarik di emailmu

Makasih bro, tunggu konten dari kami ya

Ada kesalahan, coba ulangi lagi