Interaksi Model Rumah Modern: Rumah Berpagar Beling di Desa
sumber gambar: http://makassar.tribunnews.com
in

Interaksi Model Rumah Modern: Rumah Berpagar Beling di Desa

UGETUGET – Model rumah modern saat ini sudah merambah di pedasaan. Terutama model rumah berpagar beling. Sudah diketahui khalayak bahwa ungkapan Y.B. Mangunwijaya Jangan pagari rumahmu dengan beling, tetapi pagarilah rumahmu dengan piring merupakan nasihat bagi mereka yang menyekat rumahnya dengan pagar tertutup.

Pembangunan rumah modern yang berpagar telah merambah ke daerah pedesaan terutama pinggiran kota. Hal itu berarti akan lebih banyak orang berdiam diri di rumah daripada berinteraksi dengan lingkungan sekitar, terutama tetangga dekat.

Terbukti bahwa interaksi antara orang yang memiliki rumah berpagar dengan rumah tanpa pagar cenderung introvert. Mereka lebih banyak menghabiskan kegiatannya di dalam rumah. Kalaupun menghabiskan waktu di luar rumah bukan dengan tetangganya, melainkan dengan teman sekolah, teman kerja, atau teman yang jarak antara rumahnya jauh. Rumah berpagar telah membatasi ruang interaksi antarsesama untuk menjalin silaturahmi.

Selama ini, masyarakat bangga menyekat rumahnya dengan pagar. Bahkan dibuat pagar yang menjulang tinggi sampai menutupi dinding rumah. Mereka beranggapan semakin tinggi pagar rumah, semakin tinggi status sosialnya. Masalahnya, anggapan tersebut berdampak buruk bagi kerukunan bertetangga. Masyarakat seharusnya membangun rumah tanpa pagar.

Rumah berpagar dapat menghambat interaksi mereka di masyarakat. Interaksi tersebut dipengaruhi oleh perilaku yang buruk. Mereka justru memerlukan ruang terbuka seperti fasilitas layanan publik untuk merangsang kepekaan dan kepedulian di masyarakat.

Kecenderungan masyarakat modern sekarang ini menganggap pembangunan rumah berpagar akan terhindar dari segala bentuk kriminalitas. Mereka sebenarnya belum mengerti betul dampak dibangunnya rumah berpagar.

Salah satu alasan dihindari pembangunan rumah berpagar adalah adanya fakta di suatu daerah yang rumahnya berpagar dapat mengubah perilaku di masyarakat. Misalnya, suatu penelitian menunjukkan bahwa rumah berpagar dapat membatasi interaksi sosial. Peneliti dari Universitas Mercu Buana, Jakarta, melakukan observasi selama satu minggu di dalam dan luar masyarakat perumahan untuk mengetahui respon dan persepsi masyarakat tentang pagar rumah.

Setelah seminggu, hasil menunjukkan bahwa 93,3% masyarakat di luar perumahan setuju jika dinding batas dapat membatasi interaksi sosial. Dinding batas membuat ketidaktahuan siapa yang berada di balik dinding tersebut. Jika tidak tahu, bagaimana bisa kenal dan bagaimana ingin terjadi suatu interaksi.

Kemudian, pembangunan rumah berpagar tidak mengurangi kejahatan kriminalitas. Masyarakat di luar perumahan sebanyak 20% menyatakan setuju bahwa dinding batas rumah dapat melindungi masyarakat dari tindakan kriminal/kejahatan. Sedikitnya masyarakat yang menyatakan setuju dikarenakan ada atau tidak adanya dinding sama sekali tidak berrpengaruh terhadap keamanaan di lingkungan mereka.

Penelitian lain menunjukkan bahwa interaksi sosial yang kurang di antara mereka yang rumahnya berpagar dengan masyarakat di lingkungan sekitarnya akan berpotensi terjadi konflik. Potensi konflik tersebut merupakan salah satu bentuk konflik tertutup yang sebenarnya tidak tampak, tetapi terus berkembang. Konflik tertutup dicirikan oleh adanya tekanan yang tidak tampak dan tidak sepenuhnya terangkat di permukaan.

Sering kali, pihak yang berkonflik tidak menyadari adanya potensi konflik. Potensi konflik pada mereka dipicu oleh ketidakseimbangan struktural akibat munculnya segregasi sosial dan pemikiran kelas sosial yang berbeda. Dengan begitu, mereka seharusnya membangun rumah tanpa pagar.

Pengaruh rumah berpagar tidak hanya terbatas pada pembangunan di daerah kota, tetapi justru pada daerah desa, tepatnya pinggiran kota. Mereka yang membangun rumah berpagar di desa menganggap bahwa pembangunan rumah berpagar tersebut tidak memengaruhi pola interaksi dengan penduduk desa. Anggapan tersebut bisa menjadi bumerang bagi mereka.

Dilihat dari segi perilaku, mereka yang membangun rumah berpagar di desa akan membatasi diri dengan masyarakat luar. Buktinya, perilaku mereka cenderung apatis kepada tetangga dekat. Mereka tidak tegur sapa ketika bertemu. Padahal, perilaku tegur sapa berguna mempererat silaturahmi. Hal itu justru penting. Namun, bagi mereka perilaku tegur sapa dianggap bukan hal yang lazim dilakukan.

Selanjutnya, mereka akan tertinggal dari budaya yang ada di lingkungan sekitarnya. Budaya di daerah desa umumnya masih sangat kental, sehingga mereka yang tidak membuka diri dengan lingkungannya akan buta budaya, khususnya budaya sopan santun. Di daerah desa tampak orang-orang yang membangun rumahnya berpagar, kurang bisa mengikuti budaya di sana. Akibatnya, mereka dijauhi oleh masyarakat setempat.

Kemudian, adanya status sosial yang berbeda antara mereka dengan penduduk asli akan memengaruhi pemikiran mereka. Status sosial yang berbeda membangun pemikiran bahwa penduduk asli di desa tersebut tidak setara kedudukannya dengan mereka. Hal tersebut menggambarkan bahwa rumah yang berpagar menunjukkan status sosialnya tinggi, khususnya rumah berpagar tinggi dan tertutup.

Akibatnya, mereka berperilaku individual, tidak ramah, tidak toleran, dan rasa egoisnya tinggi. Dengan begitu, pembangunan rumah di daerah desa seharusnya tidak berpagar agar terjalin silaturahmi dengan penduduk asli. Harapannya, mereka dapat mengenal budaya, sehingga kesenjangan sosial di antara mereka akibat status sosial yang berbeda akan berkurang.

Dengan begitu, perlu ditanamkan pemikiran bahwa rumah modern yang berpagar memengaruhi interaksi dan perilaku dengan masyarakat sekitar, khususnya masyarakat di desa. Justru interaksi dengan masyarakat di desa harus terbuka dengan budaya di sana agar terjalin silaturahmi dan terhindar dari kesenjangan sosial yang berujung pada suatu konflik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Generasi Micin Ternyata Sudah Ada Sejak Dulu, Ini Nenek Moyangnya uget uget

Generasi Micin Ternyata Sudah Ada Sejak Dulu, Ini Nenek Moyangnya

makan ayam dengan sabun colek

Orang Greget : Makan Ayam Goreng Dengan Sabun Colek