uget uget - Inovasi Perusahaan Taksi: Konvensional Tidak Sombong Lagi

Taksi Konvensional Sekarang Udah Nggak Sombong Lagi, Kenapa?

UGETUGETInovasi perusahaan taksi seperti Taxi Express mungkin merupakan cara paling ampuh — hingga saat ini — untuk menyelamatkan perusahaan transportasi besar dari “serangan” perusahaan transportasi berbasis online.

Dulu, Taxi Express tergolong “sombong” dalam menyikapi kehadiran layanan ride-sharing di Indonesia, yang dipelopori oleh, antara lain, Uber. Terang saja begitu. Wong layanan industri transportasi taksi merupakan salah satu industri yang menjanjikan keuntungan yang sangat besar.

Tentu kita masih ingat bagaimana konsumen mengantre saat menunggu taksi yang setiap hari selalu bertambah. Bahkan, dulu waktu saya masih kecil, orang naik taksi itu gengsinya berbeda. Mereka lebih bangga ketika bepergian dengan menggunakan taksi dibandingkan dengan menggunakan angkutan umum atau bus.

Sekarang, zaman sudah berubah dan transportasi taksi sudah jadi hal yang umum. Kemudian zaman berubah lagi dengan munculnya taksi online yang mengubah seluruh wajah persaingan transportasi di Indonesia. Taksi online menjanjikan kemudahan bagi pengguna untuk mendapatkan angkutan sekaligus menentukan tarif.

Taksi online sudah merevolusi seluruh tatanan industri. Perannya sangat besar sehingga mampu menciptakan lapangan pekerjaan, tetapi sekaligus juga mampu menutup lapangan pekerjaan, yaitu yang diciptakan oleh industri taksi konvensional. Mau tak mau, inovasi perusahaan taksi harus dilakukan kalau tak ingin tenggelam!

Kini, Taxi Express yang menaungi beberapa merek layanan taksi seperti Taksi Express, Taksi Eagle, dan Taksi Tiara, dan menyasar pengguna dari kelas bawah sampai premium, melakukan inovasinya dengan justru meminta bantuan kepada perusahaan seperti Uber.

Kalau tidak mau berinovasi dan berubah, maka Taxi Express akan terus mengalami kerugian sangat besar karena kehadiran taksi online. Dan sampai artikel ini ditulis, perusahaan taksi itu pun sebenarnya kian hari kian merugi, sampai harus memutar otak bagaimana agar perusahaan bisa bertahan.

Rasanya miris melihat kenyataan seperti ini. Taksi Express merupakan perusahaan transportasi yang besar dengan modal yang besar juga. Akhirnya menjadi seperti ini, bahkan dikabarkan bahwa harga sahamnya turun drastis sampai Rp75 per lembar.

Menurut saya, perubahan itu adalah sesuatu yang adil. Sudah menjadi hal yang alamiah karena memang kebutuhan manusia itu juga berubah. Ini berkaitan dengan adanya taksi online yang lebih memudahkan manusia untuk bepergian. Dan, ini adalah hal yang wajar karena untuk kebaikan kita semua.

Jika tidak mau berubah, maka perusahaan sebesar apa pun akan kolaps. Contohnya adalah Nokia yang tidak mau menggunakan Android dan tetap bersikukuh dengan Symbian. Akhirnya, Nokia sang raja ponsel pun luluh lantak. Untungnya, Nokia menyadari kesalahannya dan bahkan bersedia  membuat smartphone dengan OS Android.

Seperti itulah juga yang sepertinya dilakukan dalam inovasi perusahaan taksi, dalam hal ini Taxi Express. Dulu Taksi Express ini sering menolak pelanggan hanya gara-gara jarak dan kemacetan lalu lintas. Tapi sekarang mereka gantian memohon-mohon untuk mendapatkan pelanggan. Yang penting, Taxi Express sudah berubah.

Inovasi Perusahaan Taksi: Taksi Online Itu Tangguh

Mungkin inovasi perusahaan taksi perlu melihat pengalaman layanan seperti Grab-Car atau Go-Jek.

Uniknya dari taksi online atau ojek online adalah mereka tidak memiliki satu pun kendaraan yang resmi dijadikan alat untuk melayani penumpang. Tapi, produk jasa taksi online pada dasarnya hanyalah aplikasi yang memungkinkan calon konsumen untuk bekerja sama dengan pemilik aplikasi itu.

Gojek sama sekali tidak memiliki alat transportasi seperti motor atau mobil. Tapi, pendapatan mereka sangat tinggi, bahkan nilai perusahaannya jauh lebih besar dibandingkan dengan perusahaan taksi konvensional meskipun taksi konvensional memiliki ribuan unit alat transportasi.

Hebatnya, revolusi transportasi online ini membuat pemerintah pusing karena belum bisa menarik pajak dari sistem bisnis seperti ini. Di sini, saya melihat startup mengalahkan perusahaan besar yang sudah berdiri kokoh puluhan tahun!

Inovasi Perusahaan Taksi: Ribut Soal Peraturan

Saya kira inovasi perusahaan taksi konvensional sebaiknya tidak melakukan perubahan yang disertai dengan langkah “tidak sehat”, yaitu dengan menyerang eksistensi taksi online.

Tapi, itulah yang justru dilakukan. Perusahaan taksi konvensional selalu mendesak pemerintah untuk menurunkan aturan yang tegas untuk mengatur cara kerja taksi online. Menurut saya ini adalah suatu bentuk pembatasan revolusi dan kemudahan.

Sungguh naif. Taksi konvensional mendesak pemerintah hanya karena ingin mengamankan unit bisnisnya saja, agar taksi online berhenti beroperasi, dan akhirnya mereka kembali memuncaki bisnis transportasi di Indonesia.

Padahal, perubahan adalah suatu keniscayaan. Apakah peraturan bisa membatasi perubahan? Tentu saja tidak. Jika dikekang di Indonesia, perubahan akan tetap terjadi di tempat lain, dan Indonesia akan menjadi negara tertinggal!

Akan lebih bijak jika taksi konvensional mulai berbenah dan berpikir agar bisa bertahan dengan kondisi online seperti ini. Saya yakin mereka masih memiliki modal yang cukup tinggi untuk berbenah dan berinovasi, terutama dengan memanfaatkan potensi bisnis online.

Seperti yang dilakukan oleh Yellow Pages yang saat ini mulai memutuskan untuk menghentikan cetak bukunya dan kemudian beralih ke sistem online. Tentu saja dengan menyediakan sebuah website yang bisa diakses dari seluruh dunia.

Tidak usahlah kita meributkan peraturan yang di dalamnya ada udang di balik batu, yang dalam jangka panjang hanya akan merugikan kita!

1

Yuk, Dapetin Konten Keren di Email

Kita pilihkan konten yang pasti kamu suka. Masukkan emailmu