Inovasi Mahasiswa Indonesia Demi Selamatkan Kamu dari Bahaya Cahaya Gawai
Sumber gambar: Tokopedia
in

Inovasi Mahasiswa Indonesia Demi Selamatkan Kamu dari Kecanduan Cahaya Gawai

UGET-UGET | Pendar cahaya di kegelapan sering kali unik dan asik dinikmati di rumah. Biasanya, kita pun menggunakan fosfor jika ingin menambahkan sensasi pendar cahaya di kamar pribadi. Tak cuma kamar, pendar cahaya pun bisa ditemukan di gelang, aksesori dinding, hiasan, sampai lensa kontak.

Pada umumnya, pendar cahaya bisa terjadi akibat unsur fosfor yang dicampurkan dalam bahan. Namun, tiga mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (F-MIPA) Universitas Brawijaya punya cara lain untuk menciptakan pendar cahaya di tinta bolpoin. Dan keunikan itulah yang membuat inovasi dari ketiga mahasiswa ini layak untuk diangkat ke publik. Mereka adalah Novia Rosa Damayanti, Renaldy Fredyan dan Mey Yuliana.

Ketiga mahasiswa ini menemukan bahwa beberapa jenis bakteri mampu memancarkan cahaya. Bakteri itu disebut dengan bakteri bioluminesensi. Contoh dari bakteri ini yang telah diteliti adalah genus Vibrio (V. harveyi, V. fischeri, V. cholera), Photobacterium (P. phosporeum, P. leiognathil), Xenorhabdus (X. lumiescens), Alteromonas (A. haneda) dan Shewanella.

Habitat dari bakteri-bakteri itu pun mudah dijangkau. Kamu bisa menemukannya pada sejumlah spesies laut. Sedangkan, cara memperolehnya, perlu dilakukan proses isolasi, pemurnian dan dikulturkan – proses untuk mengambil satu sel dari satu jaringan dan ditumbuhkan dalam kondisi yang terkontrol dan aseptik.

Inovasi Mahasiswa Indonesia Demi Selamatkan Kamu dari Bahaya Cahaya Gawai
Sumber gambar: Tokopedia

Lokasi isolasi bakteri dilakukan dengan beberapa sampel dan tempat yang berbeda. Sampel utama adalah cumi-cumi, lumpur laut dan air laut. Sedangkan untuk sampel sendiri didapat dari dua tempat berbeda, yaitu pantai utara Lamongan dan pantai utara pesisir Pulau Sempu, Kabupaten Malang.

Dalam pengujiannya, Novia menjelaskan bahwa masing-masing sampel diisolasi sebanyak tiga kali pada setiap tempat. Pengujian awal menggunakan sinar ultraviolet sebagai salah metode untuk mengukur pendar sampel. Setelah itu, dilakukan pemurnian dan pengkulturan untuk menumbuhkan bakteri bioluminesensi.

Untuk saat ini, jenis bakteri yang bisa digunakan adalah photobacterium phosporium. Nantinya, bakteri tersebut akan dikondisikan layaknya cairan yang berwarna. Cairan itu bisa digunakan sebagai tintsa bercahaya pada bolpoin.

Demi mengurangi penggunaan ponsel pintar 

Dilansir dari Tempo.co, motivasi awal dari ketiga mahasiswa itu dalam melakukan penelitian ini adalah kekhawatiran mereka terhadap penggunaan gawai pintar yang menjangkiti generasi milenial saat ini. Menurut mereka, jika mata terlalu banyak menatap layar, akan menyebabkan mata kering dan mudah terpapar berbagai penyakit.

“Perangkat ini sangat membantu mobilitas pekerjaan manusia, seperti membaca dan menulis. Namun, pencahayaan dari perangkat tersebut bersifat radiasi yang merusak mata dan membuat mata cepat lelah,” jelas Novia.

Menurut laporan yang diterbitkan oleh Natonal Library of Medicine National Institute of Health, 60 juta orang di dunia mengalami mata kering. Sementara itu, untuk kasus Indonesia, prevalensi kelainan ini mencapai 30,6 persen dari jumlah penduduk.

Nah, berawal dari kegelisahan itulah ketiga mahasiswa ini merelakan waktu dan sumber daya untuk mencoba memperkenalkan kembali kebiasaan menulis menggunakan bolpoin. Mereka beranggapan, dengan membiasakan diri menulis, bisa mengurangi resiko mata kering seperti yang diderita orang-orang dengan intensitas menatap layar dalam waktu lama.

Nah, untuk kamu yang sering bermain gawai sebelum tidur, ada baiknya mulai mengganti dengan kegiatan lain. Salah satunya barangkali kamu bisa mulai mengembangkan kebiasaan menulis buku harian, dengan menggunakan bolpoin berpendar cahaya produkan ketiga mahasiswa ini tentunya.

Biru Samudra

Written by Biru Samudra

Penikmat film, sastra, musik dan penyuka bola musiman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Comments

comments

Setelah Gerhana Bulan Merah Darah, Minggu Malam Besok ada Fenomena yang Tak Kalah Indah

Setelah Gerhana Bulan Merah Darah, Minggu Malam Ini ada Fenomena yang Tak Kalah Indah

MIEFF 2018: Seni, Budaya, Tradisi dan Alam dalam Satu Ruang