Hiburan Ngabuburit? Madiun Punya Gaya Sendiri
Sumber gambar: Kompas
in

Hiburan Ngabuburit? Madiun Punya Gaya Sendiri

UGETUGET – Barangkali banyak dari kita mengalaminya, waktu terasa berjalan sangat lambat saat berbuka puasa. Wajar kiranya jika kita melihat berbagai macam jenis keramaian di seluruh pelosok berkaitan dengan kegiatan ngabuburit. Ada yang hanya menunggu begitu saja di rumah, ada yang memilih untuk menunggu bersama teman-teman, pun ada yang menghabiskan waktunya untuk menambah pahala puasa dengan ibadah-ibadah sunah.

Sepanjang hal itu positif, mengapa tidak? Karena contoh negatif juga ada. Di desa saya , di wilayah pedalaman Kabupaten Magelang, anak muda desa menggunakan waktu ngabuburit dengan mengadakan perlombaan balap liar. Seperti tidak mengenal takut, perlombaan itu dilakukan di jalan yang berada di tengah pematang sawah dengan kondisi jalan berkelok-kelok. Meskipun aspal jalan terhitung rata dan hadiah yang menanti di setiap balapan juga terhitung besar, tetap saja tidak sebanding dengan keselamatan yang dipertaruhkan.

Ngabuburit di Pinggir Rel Kereta

Pepatah lama berkata, “lain padang lain ilalang. Lain kandang, lain isinya”. Setiap daerah memiliki ciri khas sendiri-sendiri yang menjadikannya berbeda. Dalam hal tradisi ngabuburit, Madiun punya gaya sendiri. Setiap harinya, setiap 2 jam sebelum waktu berbuka, masyarakat memadati pinggir rel kereta api. Untuk apa? Untuk ditonton. Apa asiknya? Ah, hanya mereka yang tahu tentunya.

Sebagaimana anak-anak pantura yang suka meminta klakson telolet dibunyikan, kita pun tidak memahami keasikannya. Hingga saat “Om Telolet Om” menjadi virallah, kita paham apa artinya.

Hiburan Ngabuburit? Madiun Punya Gaya Sendiri
Sumber gambar: Kompas

Saat tidak ada kereta lewat, orang tua akan membiarkan anaknya untuk bermain dekat dengan rel. Sebaliknya, saat gemuruh suara kereta mendekat, mereka akan meminta anak-anak untuk menyingkir. Ada tiga kereta api reguler yang melewati jalur rel Kota Madiun setiap menjelang Maghrib.

Dilansir dari Kompas.com, Dwi Supriadi, warga Madiun, menjelaskan dirinya sudah melakukan kegiatan ini sejak kecil. “Biasanya awal puasa itu banyak sekali yang datang. Biasanya banyak sepeda motor parkir tersusun rapi di pinggir rel kereta bersama pemiliknya.”

Warisan Turun Temurun

Ternyata, ngabuburit di pinggir rel kereta bukanlah hal baru bagi warga Madiun. Menurut Iwan Widyatmoko, warga Madiun, tradisi ini sudah berlangsung sejak dirinya masih kecil. Pria berumur 42 tahun ini menuturkan, bahwa dirinya saat ini pun selalu mengajak anak dan istri ngabuburit di pinggir rel kereta, sebagaimana dulu dirinya diajak oleh orang tuanya ketika kecil.

“Saya masih ingat saat itu masih duduk di bangku sekolah SD. Almarhum ayah saya sering mengajak nonton kereta untuk menghabiskan waktu saat buka puasa” ungkapnya.

Lalu, apa hal menarik lain yang ada di daerahmu? Barangkali jika kamu berkenan, bisa membagikan pengalaman ngabuburit di web ini.

Biru Samudra

Written by Biru Samudra

Penikmat film, sastra, musik dan penyuka bola musiman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Comments

comments

5 Perawatan Kecantikan yang Bisa Dilakukan di Rumah

5 Perawatan Kecantikan yang Bisa Dilakukan di Rumah

Jangan Lewatkan Momen Buka Puasa Bersama Keluarga, Kamu Bisa Menyesal Nantinya

Jangan Lewatkan Momen Buka Puasa Bersama Keluarga, Kamu Bisa Menyesal Nantinya