uget uget - Hegemoni Kebudayaan Jawa di Jogja Java Carnival?

Hegemoni Kebudayaan Jawa di Jogja Java Carnival?

UGETUGET — Apakah hegemoni kebudayaan Jawa memang ada? Topik ini cukup sensitif dan, tentu saja, kontroversial. Tapi, sebuah hegemoni besar pernah direncanakan oleh masyarakat yang mendiami salah satu petak tanah Nusantara.

Percobaan itu dilakukan pada tahun 2011. Waktu itu, sebuah pagelaran bertajuk Jogja Java Carnival diselenggarakan di Yogyakarta. Tidak ada yang luar biasa tentunya. Pagelaran tersebut sudah merupakan acara yang rutin diselenggarakan setiap tahun.

Akan tetapi, ada yang mencolok pada penyelenggaraan kali itu. Tema yang mengusung delapan keajaiban dunia ditampilkan dalam bentuk yang unik dan antik. Terlebih lagi, sajian itu ditampilkan sebagai suatu upaya untuk menunjukan kehebatan kebudayaan Jawa.

Masyarakat Jawa, khususnya Yogyakarta dan Jawa Tengah, mencoba hadir sebagai masyarakat yang luar biasa. Ini seperti yang dilakukan Soekarno saat menjalankan konsep nation buillding untuk Indonesia.

Pada waktu itu, Soekarno menghadirkan Indonesia sebagai bangsa ajaib. Antara lain dengan menjadi tuan rumah Asian Games. Padahal, waktu itu Indonesia belum memiliki infrastruktur olahraga yang memadai.

Tapi, dengan semangat yang dikobarkan Soekarno, rakyat Indonesia bahu-membahu untuk menyukseskan pesta olahraga terbesar se-Asia itu. Soekarno telah berhasil membuat rakyat Indonesia menjadi Bandung Bondowoso: membangun salah satu kompleks olahraga terbesar di dunia pada masanya.

Saya katakan menjadi Bandung Bondowoso, sebab Indonesia mampu menyelesaikan pekerjaan yang mustahil: sebuah kompleks fasilitas olahraga dikerjakan dalam rentang waktu kurang dari empat tahun.

Waktu itu, sebuah hajatan besar diselenggarakan untuk meraih pengakuan dari negara-negara lain tentang kehebatan Indonesia. Lalu, bagaimana hegemoni kebudayaan Jawa yang coba dihadirkan masyarakat Jawa seperti disebut pada awal tulisan ini?

Dalam  Jogja Java Carnival, delapan keajaiban dunia yang ditampilkan adalah versi Jawa. Yang demikian itu tentu sah-sah saja. Tapi, seperti ada yang ingin dipaksakan untuk hadir dan diakui sebagai yang terbaik.

Sudah pasti yang ingin ditonjolkan itu adalah kebudayaan Jawa. Jawa dengan beragam seni, tradisi, dan budaya, yang muncul dengan kompleksitasnya. Jawa adalah yang terbaik dalam hal seni dan budaya. Itu yang paling penting dalam pagelaran.

Dalam pagelaran itu, replika dari delapan keajaiban dunia versi Jawa dihadirkan ke atas panggung. Setiap replika muncul dengan sejarah penciptaannya. Unsur-unsur budaya yang mengarah pada upaya untuk mengagungkan Jawa ditampilkan sedemikian rupa. Jadilah keajaiban dunia tersebut muncul melalui kebudayaan Jawa.

Tapi, tentu ada yang masih terasa ganjil. Untuk apa kebudayaan Jawa dihadirkan sedemikian rupa? Seolah-olah ingin menunjukan bahwa Jawa adalah yang terbaik. Apakah memang ada yang ingin ditunjukkan oleh masyarakat Jawa kepada dunia, seperti Soekarno yang mengingatkan dunia tentang kelahiran bangsa baru, yang diyakininya akan menjadi bangsa besar?

Memperingatkan bukanlah sifat orang Jawa. Ingin diakui juga bukan, apalagi sekadar pamer. Itu semua adalah sifat-sifat yang tentu saja jauh dari falsafah hidup orang Jawa. Kalau begitu, apa yang sebenarnya diinginkan dari penyelenggaraan karnaval ini? Hegemoni kebudayaan Jawa?

Bukankah “hegemoni”, jika dipahami dalam perspektif Gramscian, mengisyaratkan adanya “penindasan yang disetujui oleh korban”? Nah!

Sumber gambar: www.orang-gu.com

Yuk, Dapetin Konten Keren di Email

Kita pilihkan konten yang pasti kamu suka. Masukkan emailmu