Hari Kartini, Hari Malahayati, Arung Pancana Toa
Sumber gambar: id.wikipedia.org
in

Hari Kartini, Hari Malahayati, Hari Arung Pancana Toa

UGET UGET – “Tiada awan di langit yang tetap selamanya. Tiada mungkin akan terus-menerus terang cuaca. Sehabis malam gelap gulita lahir pagi membawa keindahan. Kehidupan manusia serupa alam.” Begitu kata Raden Ajeng Kartini dalam salah satu suratnya kepada temannya yang berada di Belanda.

Ia tuliskan dalam Bahasa Belanda. Ia salah satu perempuan yang kala itu berpikiran jauh ke depan, di mana ia telah memikirkan bagaimana memajukan perempuan. Lantas ia menulis dan berbalas surat dengan kawannya di Belanda, yang kemudian surat-surat itu dibukukan. Begitu juga, ia telah memikirkan untuk membikin suatu lembaga pendidikan untuk memajukan perempuan di masa itu.

Kartini dikenang karena kemajuan pemikirannya. Ia hidup di penghujung abad 19, namun memikirkan hal-hal yang seharusnya dipikirkan perempuan di abad 20. Begitulah ia harus dikenang, begitulah ia dijadikan patokan dari kebangkitan perempuan.

Namun Kartini tidak sendirian. Tidak hanya satu perempuan di antara jutaan perempuan di Indonesia yang memiliki visi jauh ke depan. Ada Cut Nyak Dien, Malahayati, atau Arung pancana Toa.

Hari Kartini, Hari Malahayati, Hari Arung Pancana Toa
Sumber gambar: satujam.com

Cut Nyak Dien, pahlawan yang lebih tua dibanding Kartini, tidak hanya pandai menulis dan mengurung diri di dalam kamar. Ia adalah pejuang dan menjadi salah seorang Pahlawan Nasional Indonesia dari Aceh yang mengangkat senjata melawan Belanda pasa masa Perang Aceh. Ia tak ubahnya seorang lelaki perkasa di medan perang, sehingga harus ditangkap dan diasingkan ke Jawa.

Ada pula Laksamana Malahayati yang hidup jauh sebelum Kartini dan Cut Nyak Dien, pada abad 16 Masehi. Dia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana Panglima Rahasia dan Panglima Protokol Pemerintah dari Sultan Saidil Mukammil Alauddin Riayat Syah IV.

Malahayati memimpin 2.000 orang pasukan Inong Balee (janda-janda pahlawan yang telah meninggal) berperang melawan kapal-kapal dan benteng-benteng Belanda, sekaligus membunuh Cornelis de Houtman dalam pertempuran satu lawan satu di geladak kapal.

Hari Kartini, Hari Malahayati, Arung Pancana Toa
Sumber gambar: id.wikipedia.org

Di Sulawesi, seorang putri bangsawan pun pernah melakukan sesuatu yang bahkan sampai hari ini tak ada satu orang pun yang mampu melakukannya. Dialah Arung Pancana Toa Colliqpujie. Dia adalah perempuan yang mengumpulkan cerita-cerita rakyat yang bertebaran di berbagai daerah di Sulawesi selama 20 tahun, lantas mengumpulkannya dalam sebuah judul buku, La Galigo.

Cerita ini dikumpulkan dalam 13 jilid buku, dan mendapatkan rekor dari UNESCO sebagai buku cerita terpanjang di dunia.

Hari Kartini, Malahayati, Arung Pancana Toa
Sumber gambar: indonesiaproud.wordpress.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Boriska, Saksi Peradaban Alien di Planet Mars

Boriska, Saksi Peradaban Alien di Planet Mars

Waduk Sermo, Oase di Tengah Bukit

Waduk Sermo, Oase di Tengah Bukit