Fenomena Workspace Transition di Era Baru Berbisnis, Generasi X, Y, Z (Milenial) Dituntut Sigap
Sumber gambar: www.pexa.com.au
in

Fenomena Workspace Transition di Era Baru Berbisnis, Generasi X, Y, Z (Milenial) Dituntut Sigap

UGET UGET – Perkembangan teknologi memunculkan ekses baru adanya pergeseran kerja (shifting jobs). Dalam menghadapi fenomena ini, agen generasi x, y, z (milenial) dituntut untuk mempersiapkan diri menjadi pribadi yang berkualitas. Social Entrepreneur (Sociopreneur) atau bisnis tanpa modal menjadi fenomena baru dalam dunia kerja masa kini.

Dalam rangka mempersiapkan mahasiswanya, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) UGM bersama Keluarga Alumni Fisipol Universitas Gadjah Mada (Kafispolgama) mengadakan acara bertajuk I-Talk #1: What We Can Do to Make The World Better dengan subtema “Find Your Own Path: Adaptasi Tantangan Global Melalui Aksi Lokal” diselenggarakan di Auditorium FISIPOL UGM, Sabtu (16/12).

Kegiatan ini menjadi yang pertama kalinya diadakan dan rencananya akan diikuti kegiatan reguler, dengan maksud untuk menjadikan anak muda sebagai agen dunia yang lebih baik. Para alumni pun diajak kembali ke kampus untuk memberikan coaching clinic.

Penanggung jawab I-Talk, Ian Agisti Dewi Rani mengatakan, “Acara ini bertujuan untuk membantu menemukan idealisme dalam menjawab tantangan global melalui aksi individual. Selain itu kami juga berharap I-Talk dapat membuka perspektif atas pilihan-pilihan karir melalui sharing pengalaman alumni, sehingga mahasiswa siap memasuki pasar tenaga kerja.”

Dikutip dari buku “Defining the social in social entrepreneurship: Altruism and Entrepreneurship” milik Wee Liang Tan dkk, Sociopreneurship adalah kewirausahaan berbasis sosial. Seseorang atau organisasi dengan jiwa entrepreneur yang mampu menggerakkan masyarakat untuk meningkatkan kemampuannya agar dapat berdaya saing. Kewirausahaan sosial lebih ditujukan untuk kepentingan dan kemakmuran masyarakat, bukan sekadar memaksimalkan keuntungan pribadi.

Erwan Agus Purwanto, Dekan Fisipol UGM melihat sebuah tantangan baru ke depan dengan munculnya masyarakat digital, di mana teknologi telah memporak-porandakan bisnis kerja dan alur produksi kerja. Ini menjadi landasan kuat UGM getol dalan menghadapi situasi ini.

Menteri Sekretaris Negara RI, Pratikno yang turut mengisi acara tersebut menunjukkan fenomena workspace transitions di era disruption ini, yang mana telah terjadi penggeseran dunia kerja. Bahkan menurutnya, perubahan ini jauh lebih besar pengaruhnya dari sekadar digital, karena sifatnya yang mampu memporak-pondakan (disruption), yang mampu mengubah baik diri dan waktu kita.

Pratikno melihat ini sebagai sebuah revolusi industri yang ditengarai dari dua indikatornya, di mana penggunaan internet yang luar biasa berkembang dan munculnya kecerdasan buatan (artificial intelligent). Ini membuat pekerjaan manusia dapat digantikan dengan teknologi dan ini mencipta situasi yang disebut disruption.

Disruption membuat organisasi korporasi yang mapan sekalipun bisa bangkrut. Seperti yang terjadi pada kamera kodak yang dengan sombongnya tetap bertahan pada produknya. Sikapnya yang kekeuh dan tak ingin menerima digital kala itu. Ini yang kemudian membawa Kodak pada kebangkrutannya. Begitu pula Nokia yang tak ingin menerima sistem Android kala itu, akhirnya juga terseok dilindas derasnya arus perkembangan teknologi.

Dari situ, kita bisa melihat bahwa di balik banyaknya lapangan pekerjaan yang diciptakan dengan teknologi, ada pula sektor-sektor yang sudah tak mampu lagi bertahan. Disruption sekaligus menuntut kita untuk berbisnis dengan cara-cara baru. Dalam bidang pertanian misalnya dengan urban farming, atau dalam ranah pendidikan dengan dibukanya media open online courses. Kita harus gesit dan sigap menanggapi situasi ini.

Sumber gambar: www.pexa.com.au

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Jokowi Anugerahkan Satya Lencana Kebaktian Sosial untuk Pendonor Golongan Darah 100 Kali

Jokowi Anugerahkan Satya Lencana Kebaktian Sosial untuk Pendonor Golongan Darah 100 Kali

Lagu Lawas yang Melampaui Zaman dan Masih Enak Didengar

Lagu Lawas yang Melampaui Zaman dan Masih Enak Didengar