Generasi Milenial tentang Zaman Milenial
Sumber gambar: id.bookmyshow.com
in

Generasi Milenial tentang Zaman Milenial

UGET UGET – Bagi kita, generasi milenial sering disebut Gen-Z, Kids Zaman Now, atau Generasi Micin. Nah, di Amerika sana, mereka menyebutnya Baby Boomer: generasi yang meledak-ledak, atraktif dan revolusioner. Lewat media sosial, mereka mampu mengekspresikan apa saja dan melabrak segala yang membelenggu gerak-geriknya.

Begitulah citra yang dihadirkan Upi Avianto dalam film terbarunya, My Generation. Secara garis besar, film ini bercerita tentang empat pemuda generasi milenial Jakarta yang kaya, merasa bahwa segala aturan yang diwariskan orangtua dan guru tidak relevan lagi kebutuhan mereka.

Cara melabrak tradisi itu timbul serta-merta, dibantu media sosial yang siap menampung apa saja, serta kekayaan yang memuluskan segala keinginan. Sebuah kamera sudah siap untuk menampung perkataan dan amarah mereka dan diunggah ke Youtube. Protes itu mendapat dukungan dari warganet dan menjadi viral di dunia maya. Tentang kekangan orang tua, tentang kebiasaan mengajar para guru, menjadi objek yang empuk.

Orang tua keempat pemuda itu tahu dengan tingkah anaknya di dunia maya. Ganjarannya, mereka tidak diperbolehkan mengikuti liburan sekolah di Bali. Dari peristiwa ini, setiap scene berjalan mengikuti benturan yang tengah terjadi antara orang tua dan anak, antara generasi masa lalu dengan generasi milenial.

Secara konsep, Upi menghadirkan citra milenial secara menyeluruh, setelah melakukan riset selama dua tahun untuk membuat film ini. Pemilihan kostum dengan warna yang mencolok, pencahayaan kamera yang juga dengan warna yang memekakkan mata, sebagai pertanda betapa fashion dan pemilihan warna zaman milenial mewarisi budaya populer dari Andy Warhol. Jika kita perhatikan foto-foto yang beredar di dunia maya, hampir semuanya berwarna kontras; jika bukan penuh warna, sekalian hitam putih.

Tak jauh berbeda dengan musik. Jika dalam pemilihan warna yang mencolok, pemilihan musik jatuh pada Mario Zwinkle, Funk Yeah: genre hip-hop, plus DJ dan saxophone ala blues; tiga genre yang disatukan dalam satu musik yang membuatnya penuh warna.

Bahkan, Upi pun melabrak tema yang sering ia angkat dalam film-film sebelumnya yang terkesan romantis tentang percintaan dan persahabatan. Upi bereksperimen untuk menggarap hubungan generasi masa lalu dengan zaman milenial, yang dicitrakan lewat hubungan yang pelik antara anak dan orang tua. Pemilihan warna, musik, kostum, semuanya dikontraskan oleh Upi.

Tapi kontras yang selalu diposisikan sebagai oposisi biner, harus terlihat berbeda, tetap menjadi ciri khas Upi, bahkan bisa dikatakan warisan dari generasi masa lalu yang pernah membesarkan Upi. Dampaknya, dalam beberapa hal, terutama kostum, terlihat dilebih-lebihkan, juga terhadap norma yang berjalan di negeri ini dikontraskan dengan norma yang menurut Upi tumbuh di generasi milenial.

Saya sendiri, yang tumbuh sebagai manusia milenial, ketika menontonnya melongo. “Iya pa, apa bener begini?” Kontras yang bertebaran di mana-mana, serasa malah kadang-kadang berlebihan. Itu karena saya, walaupun orang milenial, tetapi bukan milenial Jakarta sebagai objek utama Upi.

Tapi sepertinya, tak akan terlalu berbeda milenial kere dan milenial kaya, toh semuanya berasal dan bermain di dunia maya.

Sumber gambar: id.bookmyshow.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Atif dan Peristiwa Sehari-Hari yang Harus Ditulis

Atif dan Peristiwa Sehari-Hari yang Harus Ditulis

BRI Microfinance, Kemudahan Transaksi Perbankan Penduduk Desa

BRI Microfinance, Kemudahan Transaksi Perbankan Penduduk Desa