Apresiasi Hasil Gambar Anak Bantu Dorong Kreativitasnya
Sumber gambar: hello-pet.com
in

Apresiasi Hasil Gambar Anak Bantu Dorong Kreativitasnya

UGET UGET – Perlakuan orang tua berpengaruh besar terhadap pembentukan karakter anak. Karenanya orang tua sebaiknya memberikan apresiasi pada kreativitas anak ketimbang mengkritik dengan kata-kata yang tidak membangun. Misalnya dengan gambar anak.

Kritik yang diberikan orang tua secara tidak langsung dapat mematahkan kreativitas anak di masa depan. Kita tahu, keterampilan menggambar adalah aktivitas pertama yang anak lakukan sebelum mereka mengenal baca tulis. Sehingga seharusnya ini dipandang sebagai perkembangan yang positif bagi anak. Anak menggambar berdasarkan apa yang dia lihat di sekitarnya.

Sebelum menilai, orang tua harus memahami bahwa menggambar adalah sarana bagi anak untuk mengekspresikan diri. Untuk anak pra-PAUD atau pra-SD biasanya belum memeroleh pengajaran formal mengenai menggambar. Namun keberanian dan keingintahuan anak untuk mewujud nyatakan imajinasinya sendiri penting untuk diapresiasi.

Dikutip dari kompas.com, menurut Hendriana Wedhaningsih, Ketua Program Studi Desain Produk Industri Universitas Paramadina, sayangnya banyak orangtua dan guru langsung memberikan penilaian menjatuhkan. “Kamu gambar apa sih, kok bentuknya aneh?” atau “Kok ibu kamu gambar jelek, yang cantik dong.” Komentar seperti ini secara tidak sadar mungkin dilontarkan para orang tua.

Padahal orang tua seharusnya bisa memahami perbedaan antara kemampuan / logika anak kecil dengan orang dewasa. Toh, ini adalah proses anak belajar. Dengan penilaian seperti ini, orang tua justru menghambat daya eksplorasi anak. Anak jadi takut untuk mencoba menggambar sesuatu yang lebih baik. Sebab orang tua memberikan ekspektasi yang terlalu tinggi pada anak.

“Padahal, kita orang dewasa kalau dikritik, bisa mental block,” begitu kata Hendriana. Maka dari itu penting untuk memberikan apresiasi bagaimanapun hasil gambaran anak. Apresiasi di sini bukan sekadar pujian, apakah itu bagus, menarik, perpaduan warnanya pas. Tetapi lebih dari itu, orang tua wajib menanyakan apa maksud dari gambaran anak.

Dari situ anak akan bercerita mengapa dia menggambar itu, mengapa bentuknya seprti itu, dari mana inspirasinya. Ini malah jauh lebih membangun. Si anak pun akan menceritakan ekspresinya lewat hasil gambarannya.

Orang tua dan guru, harus bisa menunjukkan empatinya. Orang tua tidak boleh merasa paling benar sendiri, dan mengarahkan oh yang benar itu seperti ini lho. Padahal dalam menciptakan hasil karya tidak ada yang benar dan salah. Maka peran orang tua di sini perlu ditegaskan hanya sebagai fasilitator saja.

Menurut Hendriana, indikator penilaian hasil gambar anak bukan dilihat dari kerapihan warna atau garis, melainkan kreativitasnya. Sehingga orang tua dan guru lebih menekankan proses untuk mencapai kreativitas itu.

Kerapihan gambar itu bisa dilatih dan dibenahi seiring berjalannya waktu, berbeda dengan kreativitas anak. Sebab kreativitas itu dibangun dari kepercayadirian untuk berekspresi. Coba saja kita lihat contoh nyatanya di Indonesia.

Anak-anak Indonesia setiap diminta menggambar pemandangan gunung, pasti menggambarkan dua gunung yang ditengahnya terdapat matahari bersinar, disertai sawah di depannya dan burung-burung yang berterbangan. Ini semua adalah hal yang mainstream.

Mengapa harus ada dua gunung? Mengapa matahari harus muncul di tengahnya? Mengapa bentuk hamparan padi hanya sebatas tanda centang? Atau kenapa selalu ada jalan lurus menuju gunung? Ini semua karena anak didoktrin.

Padahal realitasnya, pemandangan sawah jauh lebih kompleks. Tetapi anak diminta menggambar sesederhana yang dia tahu. Sekadar gambar lalu dikumpulkan dan diberi paraf/nilai. Komunikasi antara pendidik dengan anak penting di sini. Cobalah tanyakan lebih dalam, bantu anak mengekspresikan hasil karyanya.

Sumber gambar: hello-pet.com

One Comment

Leave a Reply
  1. Dulu pernah populer istilah “kritik membangun”. Kalau mengkritik, jangan asal kritik, apalagi asal bunyi. Misalnya, kritik bertujuan menjatuhkan orang yang dikritik.

    Kritik membangun adalah kritik yang bisa menunjukkan kekurangan atau kelemehan. Tetapi, bersamaan dengan itu juga bisa memberi semangat untuk berprestasi lebih baik lagi. Misalnya gini: Aduh gambarnya bagus, Nak. Tetapi sebaiknya gambar leher binatang ini jangan besar-besar. Kurangi sedikit biar lebih bagus. Banyak-banyak latihan, ya. Kamu nanti bisa menjadi pelukis besar.

    Komentar tidak melemahkan semangat yang dikritik. Apalahi jika yang dikritik anak-anak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Memanfaatkan Waktu Lalui dengan Baik Sebelum Berlalu

Memanfaatkan Waktu: Lalui dengan Baik Sebelum Berlalu

'KFC Bath Bomb' Aroma Ayam Goreng KFC Adalah Kunci

‘KFC Bath Bomb’: Aroma Ayam Goreng KFC Adalah Kunci