Fotografi dan Perlawanan
Sumber gambar: evanforget.deviantart.com
in

Fotografi dan Perlawanan

UGET UGET – Beberapa waktu lalu, di laman Instagram, seseorang memposting foto ibu yang menangis sambil menggendong bayinya yang telah meninggal. Lantaran ia tak mampu menyewa jasa ambulan yang terlalu mahal, anaknya dipulangkan dari rumah sakit menggunakan kendaraan umum. Foto ini langsung viral, membuat para pemangku kebijakan turun tangan.

Juga, empat puluh lima tahun lalu, di tengah perang yang berkecamuk di Vietnam, sebuah asosiasi fotografi perang mengambil foto seorang anak kecil yang masih berusia sembilan tahun berlari sambil menangis, sementara bajunya terbakar. Foto tersebut mengubah paradigma masyarakat luas tentang perang Vietnam; perang bukan sekadar kekuasaan, melainkan bencana kemanusiaan.

Tahun lalu, Facebook melarang peredaran foto ini, namun mendapatkan tanggapan yang luas dari masayarakat. Hal ini menandakan, foto tersebut telah menjadi salah satu bagian yang tak terlupakan dari perang Vietnam.

Dalam Draw Your Weapons, Sarah Sentilles mencoba mengarahkan kita bahwa, sebuah lensa foto, bukan semata-mata tentang keindahan, eksistensi, dan dokumen. Dalam perang, foto adalah peluru yang ditembakkan, melawan peluru yang keluar dari senapan.

Buku ini ditulis dengan gaya kolase, yang sedang berkembang di Amerika Serikat. Disarikan dalam bentuk narasi, memuat bagian-bagian yang seakan tidak saling berhubungan, anekdot, masa lalu pengarang, kutipan dari disiplin yang beragam, imajinasi, pertanyaan, dan data.

Fotografi dan Perlawanan
Sumber gambar: evanforget.deviantart.com

Gaya tulisan ini memadukan sekaligus antara repetisi dan generalisasi, ambiguitas dan kontradiktif. Tulisan ini menantang kita untuk berpikir secara mendalam, tidak hanya menjadi pembaca yang dikekang oleh pengertian-pengertian yang sudah jelas di dalam tulisan.

Dimulai dengan narasi tentang bagaimana ia mulai tertarik pada fotografi dan meninggalkan masa lalunya: Sarah Sentilles adalah mahasiswa doktoral di bidang teologi Harvard University, ketika, di tahun 2004 tersebar foto Ali Shallal Al-Qaisi, tahanan yang disiksa dan dibunuh di penjara Abu Ghraib Irak. Ali memakai pakaian serba hitam, berdiri di atas bangku kecil, wajahnya ditutupi tudung, berdiri sebagaimana adegan penyaliban Yesus. Foto tersebut membangkitkan rasa empati yang begitu tinggi, mengalahkan adegan penyaliban Yesus (hal. 3-5).

Kita akan melihat ketegangan teologis yang dialami Sarah, yang terus mempertanyakan peran agama di tengah perang yang terus berkecamuk. Tak ada yang baru dalam pandangannya tentang perang. Perang itu mengerikan, tetapi juga menghasilkan sesuatu yang indah.

Kekuatan utama dari buku ini adalah pemaduan antara fotografi dengan berbagai disiplin keilmuan. Sarah Sentilles menyajikannya dengan puitis dan provokatif. Menggabungkan teori filsafat dan dogma agama. Kita akan dibawa pada suatu dunia, ketika perkataan Yesus disandingkan dengan Roland Barthes, Colin Powell, Susan Sontag, Lucretius, Virginia Woolf, dan Hannah Arendt.

“Penemuan fotografi bukan semata penemuan teknologi,” tulisnya, “bukan hanya pengenalan mesin baru; melainkan penemuan senjata baru (hal. 57).” Senjata yang sangat halus. Foto bisa mengarahkan kita untuk membenci atau mencintai. Ia bisa mengeksploitasi sekaligus melindungi, menerangi dan mengaburkan, mengkritik dan mengangkat. Foto bisa mengatakan yang sebenarnya atau menutupinya.

Fotografi melahirkan masyarakat baru. “Seseorang bisa saja mengambil gambar dari sebuah peristiwa biasa; tapi bisa juga mengambil gambar dari orang-orang dan peristiwa yang lalim. Dengan kamera, bahkan orang biasa sekali pun diberikan sarana untuk menginisiasi perubahan (hal. 129).”

Bagi Sarah, berkoar-koar menentang peperangan tidaklah cukup, selama posisi kita sebagai masyarakat biasa. Kata-kata, bisa didengar, namun tidak memiliki kemampuan untuk menggerakkan keadaan. Sarah mengalihkan perhatiannya pada kekuatan transformatif yang dimiliki oleh seni dan seniman. Seni, yang dalam diamnya, mampu mengarahkan masyarakat luas.

Buku Draw Your Weapons merupakan ajakan: Jadikanlah kameramu sebagai senjata. Sebab, pertarungan dunia hari ini bukan sekadar mengokang senjata dan menjatuhkan bom. Fotografi dapat meledak lebih besar dibanding bom nuklir. Lewat secarik gambar, objek fisik mampu dibawa ke dalam sebuah dunia yang sebelumnya tidak ada. Dunia, di mana hal-hal yang terlihat sederhana dan tak diperhitungkan, mampu memberikan dampak besar bagi masyarakat luas.

Buku ini sangat direkomendasikan untuk pembaca di negeri kita. Negeri, di mana fotografi masih dianggap sebagai gaya hidup. Negeri, yang telah memasuki pertarungan imaji lewat media sosial; namun hanya segelintir orang yang menyadarinya. Buku ini mengajarkan kita, bahwa dunia itu bisa dibuat, dikondisikan, dan dihancurkan. Tidak perlu menjadi politikus atau tentara, sebab, lewat fotografi, kita bisa andil dalam perputaran dunia itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Pi tentang Pencarian dan Keangkuhan

Pi tentang Pencarian dan Keangkuhan

Punya Cewek Manja Tak Selamanya Merepotkan Kok

Punya Cewek Manja Tak Selamanya Merepotkan Kok