Film Laga Kolosal Indonesia Tutur Tinular
Sumber gambar: dustsplat.deviantart.com
in

Film Laga Kolosal Indonesia Tutur Tinular Bermuatan Sejarah

UGETUGET – Serial drama dengan muatan cerita sejarah banyak ditemui di pertelevisian Indonesia, salah satunya adalah film laga kolosal Indonesia Tutur Tinular. Cerita-cerita sejarah merupakan bagian dari kekayaan budaya. Indonesia adalah negara yang terkenal dengan keanekaragaman budaya yang dimilikinya, sehingga pantaslah bila kita menyebut budaya sebagai salah satu identitas bangsa ini. Budaya sebagai salah satu identitas bangsa berarti mencerminkan jati diri masyarakat Indonesia. Budaya dan sejarah dianggap sebagai satu aspek yang mewarnai perjalanan bangsa ini.

Sinetron drama kolosal dapat menjadi sarana pembelajaran bagi masyarakat Indonesia khususnya generasi penerus bangsa untuk mengenal sejarah bangsanya sendiri. Drama yang tampil di televisi juga merupakan salah satu wahana untuk mendidik masyarakat dalam bersikap dan berperilaku agar sesuai dengan tatanan norma dan nilai budaya masyarakatnya.

Namun sayangnya, banyak alur cerita dari drama tersebut justru melenceng dari kisah sejarah senyatanya di Indonesia. Padahal tayangan drama maupun sinetron merupakan cerminan kehidupan nyata dari masyarakat sehari-hari (Niensi, 2012, hal. 6-7). Dari situ, kita dapat menilik bahwa kondisi drama kolosal bermuatan sejarah di pertelevisian Indonesia masih sering mempermainkan identitas bangsanya sendiri.

Kondisi tersebut diperparah dengan terciumnya maksud media menggunakan cerita sejarah untuk mendapatkan keuntungan melalui rating acara yang tinggi. Kita perlu mengingat bahwa televisi merupakan lembaga yang tak lepas dari kepentingan bisnis sehingga segala hal yang disuguhkan media mungkin saja sudah dimodifikasi sedemikian rupa sesuai dengan keinginan pemilik media. Norma dan kaidah budaya dapat saja dilanggar, cerita sejarah yang konvensional dipermak dan dipadupadankan dengan kebudayaan Barat agar terlihat modern, segala tokoh bisa dimasukkan ke dalam alur cerita, dan sembarang efek visual bisa saja diselipkan untuk menimbulkan kesan lebih dramatis.

Menurut Agung Laksono, konsep sukses dalam dunia bisnis tidak memberi peluang untuk menimbulkan kontroversi di kalangan penontonnya. Program yang sukses menjaring banyak penonton hingga diminati para pemasang iklan adalah program-program yang disukai oleh segala lapisan umur dan kelas sosial (dalam Mulyana & Ibrahim, 1997, hal. 309).

Media tentunya akan berusaha menyajikan tayangan yang sesuai dengan selera dan keinginan masyarakat. Setidaknya media sudah memberikan kesan bahwa mereka telah mengutamakan publiknya sesuai dengan tujuan utama dari media massa. Namun nyatanya, bangsa kita sendiri telah ‘menyembelih’ sejarahnya sendiri sebelum akhirnya dijadikan komodifikasi.

Semua itu menjurus pada representasi media, yaitu bagaimana cerita sejarah dipresentasikan kembali oleh media. Keberhasilan media dalam melakukan representasi hingga diminati oleh banyak khalayak disumbang oleh bagaimana media mencemarkan (baca: memanfaatkan) kesenangan khalayak pada cerita sejarah. Media melihat itu sebagai peluang untuk meraup keuntungan.

Sayangnya, terkadang representasi media akan cerita sejarah melenceng sehingga berpotensi menyesatkan generasi muda terhadap pemahaman sejarah Indonesia. Tidak hanya itu, nilai-nilai normatif yang dijunjung sejak dulu lama kelamaan akan semakin pudar. Alangkah lucunya bila pemahaman sejarah tiap generasi bangsa ini berbeda. Maka, penonton juga perlu turun tangan dalam mengawal pertelevisian Indonesia.

Ketika Ekses Permainan Representasi Sudah Kebablasan

Istilah representasi secara luas mengacu pada penggambaran kelompok-kelompok dan institusi sosial. Representasi juga berkaitan dengan penghadiran kembali (re-presenting) yang mana itu bukan merupakan gagasan asli atau objek fisikal asli, melainkan sebuah versi yang dibangun darinya (Burton, 2007, hal. 43).

Drama sejarah hasil representasi media dikatakan melenceng bila itu tidak lagi bersifat mendidik dan tidak lagi sesuai dengan kebudayaan masyarakatnya. Maka, kita dapat menuding bila kandungan nilai-nilai sosial dari muatan televisi yang tersosialisasikan itu sudah tidak sejalan dengan nilai-nilai yang disosialisasikan oleh institusi sosial yang konvensional.

Drama Tutur Tinular (TT) versi 2011 merupakan representasi dari sandiwara radio karya S. Tidjab yang ditayangkan di Indosiar. Tayangan tersebut ternyata menuai banyak kecaman. Ada beberapa hal yang membuat para pecinta TT geram karena representasi media tidak sesuai dengan cerita asli dan harapan pihak-pihak terkait. Pertama masalah kemunculan tokoh-tokoh seperti Respati atau Byakta dan Laksmi yang mendominasi karakter utama. Padahal tokoh tersebut sebenarnya tidak ada dalam cerita TT.

Selain itu, kemunculan Batman semakin memperparah alur cerita. Padahal (lagi) karakter Batman jelas bukan berasal dari cerita sejarah Indonesia. Begitu pula dengan penggunaan bahasa gaul, seperti lo, gue, cowok jelas tidak mencerminkan bahasa era Singhasari dan Majapahit. Bila representasi masa lampau sama halnya dengan masa kontemporer, lalu indikator apa yang kita gunakan untuk melihat bahwa suatu bangsa telah berkembang dan berubah? Maka, kesalahan representasi itu dirasa dapat memengaruhi persepsi khalayak akan budaya kala itu.

Dalam drama TT juga ditemui cagak yang terbuat dari batu bata berwarna merah, jalan-jalan telah banyak diaspal, dan beberapa kali terlihat menara pemancar telepon seluler. Dalam cuplikan Youtube yang berjudul ‘Tutur Tinular versi 2011 (Balada Dangdut India Abad 21)’ juga ditemukan penggunaan musik pop dan dangdut sebagai backsound dalam drama TT. Padahal TT menceritakan kisah zaman Hindu-Budha dan kemunculan kedua aliran musik tersebut berbeda zaman dengan masa Hindu-Budha, ditambah lagi alunan musik dangdut tersebut terdengar menggunakan instrumen yang bisa dikatakan kekinian.

Sebaiknya pembuat program menunjukkan kesungguhan dan ketelatenannya dalam menggarap representasi cerita sejarah tersebut karena itu menyangkut aspek penting dari suatu negara, yakni identitas bangsa. Media diharapkan bersikap serius karena sejatinya televisi bukan tempat untuk bermain-main. Bukan pula tempat untuk mencoba-coba. Media sebagai lembaga yang sangat esensial harus bertindak secara bijaksana dan dewasa dalam menyediakan tayangan bagi masyarakatnya.

Romantisme yang Tampan dan yang Cantik

Adegan romantisme seolah-olah tak pernah absen dari tayangan drama di Indonesia. Bahkan itu sering dianggap sebagai daya pikat dari suatu tayangan karena romantisme selalu menampilkan hal yang indah-indah sekaligus dapat mempermainkan emosi penontonnya. Drama bermuatan sejarah pun tak pelak dari incaran media untuk diselipkan adegan romantis.

Dalam sinetron TT misalnya, tampak saat Arya Kamandanu menggoda dan kemudian mengelus-elus pipi Nari Ratih. Episode TT yang tayang pada tanggal 14 November 2011 juga menampilkan potongan adegan sensual yang memperlihatkan Byakta sedang mencium bagian belakang leher Dewi Sambi dan Dewi Sambi pun terlihat menikmatinya lalu memeluk tubuh Byakta.

Drama TT yang tayang di Indosiar ini bila dicermati cukup eyecatching. Anna Gilbert yang berperan sebagai Ratih misalnya, ia merupakan perempuan berdarah Indonesia-Amerika. Di sini cerita sejarah dari Indonesia direpresentasikan melalui tokoh yang berwajah bule dan agaknya tidak masuk akal.

Selain itu para pemeran lelakinya juga terlihat tampan, berhidung mancung, dengan postur tubuh yang proporsional. Tokoh pemeran dalam drama ini rata-rata adalah mereka yang memiliki face menjual. Yang menjadi kekhawatiran adalah jika itu justru mengaburkan isi cerita yang ingin disampaikan karena penonton lebih fokus pada keindahan paras pemerannya. Media dalam hal ini juga seolah-olah merepresentasikan bahwa lelaki tampan dan wanita cantik memang ditakdirkan untuk menjadi pasangan.

Para pemain hadir di layar kaca dengan full make up yang justru tidak sesuai dengan konteks cerita. Tayangan sekelas kolosal seharusnya memunyai cukup banyak waktu dan biaya untuk membuat make up character yang sesuai dengan cerita agar konteks masa lampaunya lebih mengena. Para pemeran wanita dalam TT juga terlihat menggunakan eyeshadow berwarna biru−yang bila meminjam kata-kata andalannya Syahrini−cetar membahana. Gaya berias semacam itu juga kurang memperhatikan kondisi kala itu. Itu semua membuat tayangan kurang bisa  menghadirkan kembali suasana cerita sejarah zaman dulu.

Orang akan membangun kembali identitas mereka dan membentuk pemahaman dalam pikiran mereka sendiri mengenai gambaran sejarah Indonesia masa lalu hanya dengan menonton acara televisi. Dalam hal ini, Production House (PH) dari suatu program televisi sebaiknya memperhitungkan segala dampak yang dapat muncul oleh karena eksplorasi cerita. Pengeksplorasian cerita sejarah yang benar-benar melenceng dari cerita aslinya dapat berpengaruh terhadap apa yang tertanam dalam benak penonton.

Dengan begitu, PH perlu berhati-hati dalam merepresentasikan suatu program. Bila perlu sebelumnya mereka sudah melakukan riset pada beberapa pihak, seperti budayawan atau para tokoh sejarah, masyarakat, penggemar setia TT, atau narasumber lainnya yang tahu banyak mengenai cerita sejarah TT agar nantinya eksplorasi cerita dapat dipertanggungjawabkan.

Kesenangan Khalayak: Nostalgia dan Recall

Cerita sejarah memiliki keterkaitan dengan masa anak-anak karena saat itulah dongeng, sejarah, dan mitos dibisikkan ke telinga kita sebagai cerita pengantar tidur di malam hari. Cerita sejarah memiliki nilai pikat yang tinggi karena penonton diajak untuk bernostalgia sambil lalu memanggil kembali situasi zaman dulu. Selain itu, terdapat beberapa manfaat dari menonton drama sejarah diantaranya, 1) memberikan kesadaran waktu mengenai dunia dengan segala perubahan, pertumbuhan, dan perkembangannya; 2) memberikan pelajaran yang baik untuk menilai peristiwa mana yang menghasilkan prestasi maupun kegagalan; 3) memperkokoh rasa nasionalisme; 4) memberikan ketegasan identitas nasional dan kepribadian suatu bangsa; 4) sumber inspirasi menumbuhkan cita-cita masa depan; dan 5) sarana rekreatif karena berasal dari kisah nyata yang menarik dan gaya bahasa yang memikat (Mustopo, 2005, hal. 13-14). Bila drama sejarah yang disuguhkan tidak sesuai dengan cerita aslinya, maka itu sudah menjadi nilai minus dalam menemukan manfaatnya.

Cerita bermuatan sejarah tidak mungkin ditolak oleh masyarakat karena itu merupakan kekayaan budaya masyarakat Indonesia. Itu memunculkan kesempatan bagi media untuk memberikan apa yang menjadi kesenangan masyarakat. Para pembuat program kemudian berlomba-lomba mengangkat cerita sejarah ke dalam sebuah bentuk drama. Program-program televisi merupakan sebuah produk yang kemudian dipasarkan. Produk-produk tersebut seringkali dinilai hanya dari sisi kemenarikan, konsumsi, dan provitabilitasnya (Burton, 2007, hal. 359). Kemudian yang menjadi permasalahan adalah orang seringkali mengabaikan nilai-nilai dari isi yang ditayangkan. Suatu program dibuat semenarik mungkin tanpa mempedulikan batas eksplorasi cerita. Di sini kesenangan khalayak dicemarkan hanya demi kepentingan kapitalis.

Hakikat kesenangan bagi khalayak televisi bergantung pada apa yang mengalihkan perhatian mereka (Burton, 2007, hal. 359). Meskipun terdapat beragam stasiun televisi yang memungkinkan penonton untuk memilih tayangan, namun para pembuat program justru lebih gencar lagi mencari peluang untuk menyedot perhatian penonton dengan melakukan segala trik dan segala intrik-intriknya, termasuk memanfaatkan apa yang menjadi kesenangan khalayak. Pengangkatan cerita sejarah mungkin tidak menarik bagi kaum muda, tetapi pembuat program terus memutar otak dengan menggunakan pemeran yang tampan, efek visual yang keren layaknya film Harry Potter, dan lain sebagainya. Efek visual dalam film TT yang mungkin membuat orang terkaget-kaget bahkan terperanjat adalah ketika sebuah telur emas menetas dan mengeluarkan bayi bersayap yang langsung bisa terbang. Alangkah baiknya bila penggunaan efek visual tetap memperhatikan logika berpikir.

Televisi memang berpengaruh pada sikap, pandangan, persepsi, sampai perilaku pemirsanya. Kebanyakan pemirsa TV bersikap pasif sehingga sering terpaku dan hanyut dalam dramatisasi tayangan televisi (Mulyana & Ibrahim, 1997, hal. 175). Televisi memang bukan manusia, tetapi ia mampu menciptakan dan memainkan kebudayaan secara halus. Cerita sejarah dikemas dengan begitu apik hingga pada akhirnya dikonsumsi oleh khalayak. Melalui media, khalayak membangun makna. Pemaknaan individu satu dengan lainnya saja bisa berbeda, apalagi jika media keliru dalam merepresentasikan sesuatu. Media sebagai institusi dengan sasaran khalayak yang luas harus berhati-hati dalam memproduksi tayangan. Di samping itu kita sebagai penonton juga harus menjadi khalayak yang aktif.

Khalayak aktif berarti terdapat perilaku interaktif, seperti berkomentar dan berdiskusi mengenai program yang tengah ditayangkan. Proses mental khalayak tetap aktif pada saat menonton televisi. Itu dapat dilihat dari bagaimana khalayak menguraikan kode televisi (decoding), membaca teks, dan melibatkan pemahaman pada kode-kode yang beraneka ragam (Burton, 2007, hal. 356). Khalayak mungkin saja tetap duduk, tetapi bukan berarti ia tidak aktif. Jangan biarkan kecintaan kita terhadap cerita sejarah dinodai oleh para pembuat program yang jail.

Kita perlu menghargai setiap sejarah dan budaya bangsa sebagai kekayaan yang harus dijaga dan dilestarikan. Ray Sahetapi pernah mengatakan, “Bangsa yang besar itu tidak mengkhianati sejarahnya. Tapi sekarang kita sudah sering mengkhianatinya”. Setiap bangsa pasti memunyai masa lalu. Menjaga cerita sejarah agar tetap pada pakemnya mungkin adalah salah satu cara kita untuk menghargai perjalanan bangsa ini dari dulu hingga sekarang. Sejarah bukan untuk dilupakan, melainkan untuk dikenang dan dijadikan pelajaran berharga.

Rujukan:
Burton, G. (2007). Membincangkan televisi: sebuah pengantar kepada kajian televisi. Yogyakarta: Jalasutra.
Hidayati, N. (2012). Konstruksi makna pada pesan drama kolosal Tutur Tinular versi 2011 di masyarakat desa Roomo kecamatan Manyar kabupaten Gresik (Undergraduate thesis, UIN Sunan Ampel Surabaya). Diakses dari digilib.uinsby.ac.id/9715/.
Mulyana, D. & Ibrahim, I. S. (1997). Bercinta dengan televisi: ilusi, impresi, imaji sebuah kotak ajaib. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Mustopo, M. H. (2005). Sejarah. Yogyakarta: Yudhistira.

Sumber gambar: dustsplat.deviantart.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

ponsel lokal indonesia ponsel digicoop

Ponsel Digicoop Banting Harga, Jadi Rp 300.000 Dengan Android 6.0

Permainan Mengasah Otak Segitiga Tak Mungkin Escher uget uget

Permainan Mengasah Otak: Segitiga Tak Mungkin Escher