Fiesta dan Travelling yang Tak Sia-Sia
Sumber gambar: www.lib.udel.edu
in

Fiesta dan Travelling yang Tak Sia-Sia

UGET UGET – Putu Wijaya pernah bercerita. Suatu kali ia ditugaskan berkunjung ke luar negeri dengan biaya penuh dari pemerintah. Perjanjiannya, Putu Wijaya harus menulis sebuah karangan tentang negara tersebut. Pulang dari luar negeri, ia ditagih tulisan. Lantas Putu Wijaya menyodorkan foto-foto dari kameranya selama berada di luar negeri. “Ini apa?” “Bagan tulisan,” kata Putu Wijaya.

Foto fungsinya beragam, tapi intinya adalah memindahkan peristiwa yang bergerak ke dalam wadah yang tak bergerak. JIka kini lebih sering digunakan sebagai dokumentasi, para penulis menggunakannya sebagai bahan dan data untuk tulisan.

Foto adalah pengganti catatan harian yang seringkali tak lengkap, karena memang kodrat manusia yang cepat melupakan. Lewat foto, bahkan sekuel-sekuel kecil dari peristiwa akan terekam dengan baik. Suasana jalan raya, warung kopi, raut wajah, bentuk tubuh, semuanya sangat membantu dalam membangun karakter tokoh dan tempat di dalam tulisan.

Ernest Hemingway, novelis terbesar Amerika, adalah salah satu penulis yang rajin berfoto dan menjadikannya bahan utama dalam tulisan. The Old Man and the Sea misalnya, bahkan Hemingway memiliki sebuah foto di laut Kuba sambil berdiri di samping ikan marlin yang menjadi tangkapan terakhir lelaki tua dalam novelnya. Hemingway pun melakukan perjalanan laut sebagaimana yang dilakukan lelaki tua.

Jauh sebelumnya, dalam novel pertama yang ia tulis, Fiesta, yang kini baru diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Bentang Pustaka. Hemingway memiliki dokumentasi foto dari tempat-tempat, tokoh, serta semua peristiwa yang ia tuliskan di dalam novelnya.

Bahkan alur dalam novel ini benar-benar pernah dilakukan oleh Hemingway. Sebelum Fiesta ditulis, Hemingway telah berangkat ke Pamplona Spanyol, kota di dalam Fiesta, sebanyak tiga kali. Pertama di tahun 1923 ia berangkat bersama istrinya untuk menyaksikan adu banteng. Di tahun 1924, ia dan istrinya berangkat kembali ke Pamplona bersama kawan-kawan penulisnya.

Kunjungan ketiganya lantas dijadikan alur cerita dalam Fiesta. Ia bersama Duff Twysden (tokoh Brett Ashley dalam Fiesta), Harold Loeb (sebagai Robert Cohn), dan Pat Guthrie (sebagai Mike Campbell). Ceritanya pun sama. Sekumpulan penulis-penulis expatriate Amerika yang berkumpul di Paris dan bepergian ke Spanyol untuk menyaksikan perayaan Fiesta, festival adu banteng tahunan.

Kisahnya tentang percintaan yang begitu rumit. Jake Barnes, Mike Campbel, dan Robert Cohn memperebutkan cinta Lady Ashley yang tak mau terikat pada pernikahan. Walaupun tokoh Aku dalam novel ini adalah Jake Barnes, tetapi cerita lebih menyorot Lady Ashley yang diperebutkan. Mike sendiri adalah tunangan Ashley yang beranggapan bahwa membebaskannya berkencan dengan siapapun merupakan bukti cinta. Sementara Robert Cohn rela memutuskan pacarnya demi mendapatkan cinta Ashley.

Di luar dugaan, Ashley lebih mencintai seorang pemuda belia bernama Pedro Romero, seorang matador dalam perayaan Fiesta adu banteng. Tapi akhirnya, Ashley dan Romero tidak bersatu. Ashley tetap mempertahankan prinsipnya untuk tidak menjalin hubungan.

Dalam novel ini, Hemingway—yang memang merupakan penggemar fanatik adu banteng—dengan piawai merajut simbolisme pertarungan manusia-banteng ke dalam karakter dan kehidupan tokoh-tokohnya. Di tengah pesta pertunjukan darah dan kematian , mereka ditantang untuk mempertahankan makna perburuan kesenangan, perebutan cinta, dan apa yang sesungguhnya berarti untuk mereka.

Novel ini melambungkan nama Hemingway, sekaligus salah satu jalannya mendapatkan penghargaan bergengsi sastra dunia, Nobel Prize. Novel yang menjadi pijakan awal dalam menulis, yang dengan lihai memakai peristiwa kesehariannya menjadi sesuatu yang bernilai.

Tidakkah kamu ingin memotret sebagaimana Hemingway dahulu? Dengan kamera ponsel yang selalu kamu bawa, bekukanlah peristiwa agar tak sia-sia. Darinya, bisa lahir peristiwa baru yang lebih indah dari apa yang telah kamu datangi serta alami.

Sumber gambar: www.lib.udel.edu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Menulis Cara yang Dianjurkan untuk Berefleksi Atas Kegagalan

Menulis: Cara yang Dianjurkan untuk Berefleksi Atas Kegagalan

Belajar Bahasa Inggris Jauh Lebih Fun Melalui Musik

Belajar Bahasa Inggris Jauh Lebih Fun Melalui Musik