Festival Pacu Jalur Tradisional 2018
Sumber gambar: idntimes.com
in

Festival Pacu Jalur Tradisional 2018: Berbasis Tradisi, Terkenal di Luar Negeri

UGET-UGET | Setiap tahun, masyarakat Indonesia selalu mendapatkan berita negatif perihal Provinsi Riau. Maraknya penebangan dan pembakaran hutan yang menghasilkan kabut hingga ke negeri seberang, sering menjadikan nama Indonesia buruk di hadapan netizen.

Dikenal sebagai salah satu provinsi terkaya di Indonesia, wilayah Riau banyak menghasil sumber daya alam, terutama minyak bumi, gas alam, karet, kelapa sawit dan perkebunan serat. Dilansir dari Wikipedia, akibat penebangan hutan yang tak terkontrol, luas hutan di wilayah ini berkurang secara signifikan. Pada tahun 1982, wilayah hutan di provinsi ini seluas 78% dari luas keseluruhan provinsi. Dan pada tahun 2009, hanya tinggal 22% saja.

Tapi sudahlah, hentikan yang buruk-buruk. Dan kita sebagai masyarakat ada baiknya berdoa dan berharap, semoga pemerintah pusat dan setempat segera bertindak untuk menghentikan penyusutan wilayah hutan ini.

Sekilas Tentang Festival Pacu Jalur

Terlepas dari itu semua, wilayah ini juga kaya akan nilai-nilai tradisi dan budaya. Salah satu tradisi uniknya yang kini menjadi ikon pariwisata provinsi Riau adalah Festival Pacu Jalur Teluk Kuantan atau lebih dikenal dengan Festival Pacu Jalur Tradisional. Dalam festival ini, pengunjung bisa menyaksikan keseruan kala melihat kapal berukuran 25 hingga 40 meter digunakan untuk lomba mendayung.

Festival Pacu Jalur Tradisional 2018
Sumber gambar: idntimes.com

Festival ini merupakan adat yang sudah turun temurun diselenggarakan di Kabupaten Kuantan Singingi, Riau. Dimulai sejak ratusan tahun yang lalu, festival ini selalu diselenggarakan setiap tahun dan bertahan hingga sekarang. Pelaksanaan Pacu Jalur sendiri untuk memperingati dan memeriahkan hari besar umat Islam, seperti Maulid Nabi, Idul Fitri atau tahun baru Muharam (1 Sura).

Pada mulanya, Pacu Jalur hanya diselenggarakan di desa-desa yang terletak di sepanjang Sungai Kuantan. Berisikan 50 sampai 60 orang pendayung pada setiap kapal, untuk mencari pemenang dalam perlombaan ini menggunakan sistem gugur.

Festival Pacu Jalur Tradisional 2018

Dilansir dari Kompas.com, Bupati Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Provinsi Riau, Mursini mengungkapkan bahwa Festival Pacu Jalur Tradisional (FPJT) ini sudah masuk dalam kalender pariwisata tradisional. FPJT menjadi kegiatan seni budaya kearifan lokal yang baiknya terus dijaga dan dilestarikan.

“Festival Pacu Jalur tidak hanya sekadar perlombaan, tetapi merupakan budaya kebanggaan masyarakat Provinsi Riau, khususnya masyarakat Kuantan Singingi. Festival ini berupa kompetisi mendayung di sungai dengan menggunakan sebuah perahu panjang yang terbuat dari kayu pohon. Ini perpaduan antara unsur olahraga, seni dan olah batin,” jelas Mursini seperti dilansir dari CNNIndonesia.

Akibat jumlah peserta yang selalu meningkat setiap tahunnya, Pemerintah Kuansing menjadikan Festival Pacu Jalur diselenggarakan melalui tahap seleksi dalam tingkat rayon. Ini untuk memberi kesempatan pada warga setempat untuk ikut unjuk gigi pada acara puncak yang juga melibatkan peserta dari luar Riau dan mancanegara.

“Terbagi dalam 4 rayon, 4 kecamatan, telah dilaksanakan dari 6 hingga 29 juli. Selanjutnya, rangkaian pelaksanaan pacu jalur event nasional untuk pacu jalur mini tradisional dihelat di Tepian Narosa Teluk Kuantan, 19-21 Agustus dan pacu jalur tradisional dihelat di Tepian Narosa Teluk Kuantan, 23-26 Agustus,” kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Parbud) Kuansing, Marwan.

Written by Biru Samudra

Penikmat film, sastra, musik dan penyuka bola musiman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Usia 81 Tahun Malah Angkat Beban. Uniknya Nenek Ini

Usia 81 Tahun Malah Angkat Beban. Uniknya Nenek Ini

Hot Water Challenge, Challenge Berbahaya Setelah Kiki dan Zoom Challenge

Hot Water Challenge, Challenge Berbahaya Setelah Kiki dan Zoom Challenge