Festival Budaya Lembah Baliem 2018: Peperangan dalam Festival di Papua
Sumber gambar Salam Papua
in

Festival Budaya Lembah Baliem 2018: Peperangan dalam Festival di Papua

UGET-UGET | Provinsi Papua menyimpan banyak misteri dan keindahan. Selain dikenal karena Freeport, yang merupakan tambang emas terbesar di Indonesia, provinsi ini juga memiliki kekayaan aneka ragam satwa, tanaman, dan ragam upacara tradisional.

Salah satunya adalah Lembah Baliem yang terletak di Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua. Lembah yang berada di bawah Pegunungan Jayawijaya ini menjadi tempat bagi penyelenggaraan festival tahunan yang disebut dengan Festival Budaya Lembah Baliem.

Festival Budaya Lembah Baliem 2018: Peperangan dalam Festival di Papua
Sumber gambar: Duta Wisata

Dalam festival ini, semua suku yang asli Papua yang tinggal di sekitar Wamena dan Lembah Baliem, seperti Suku Dani, Suku Lani dan Suku Yali, akan berkumpul,

Diselenggarakan setiap tahun, para suku asli Papua tersebut akan mempersembahkan berbagai macam sajian pertunjukan. Di antaranya adalah tarian tradisional, kuliner tradisional, hingga simulasi peperangan antar suku.

Festival Budaya Lembah Baliem 2018

Pada awalnya, festival ini adalah sebuah event di mana suku-suku yang tinggal di sekitar Wamena dan Lembah Baliem akan berkumpul di Lembah Baliem untuk melakukan simulasi perang. Untuk menambah kekuatan ‘realitas’ dalam simulasi tersebut, ada pula skenario pemicu perang, seperti penculikan warga, pembunuhan anak suku atau penyerbuan ladang yang baru dibuka.

Dalam atraksi tersebut, kita bisa melihat banyaknya sisi positif yang ditunjukkan dari festival ini. Dengan menyisipkan skenario dalam simulasi perang, bisa dimaknai sebagai keteguhan hati dari masyarakat suku adat untuk menjaga tradisi di dunia yang semakin modern ini.

Festival Budaya Lembah Baliem 2018: Peperangan dalam Festival di Papua
Sumber gambar Salam Papua

Diselenggarakan sejak tahun 1989, festival ini sukses mencuri perhatian wisatawan mancanegara. Dan tahun ini Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB 2018) akan diselenggarakan di Distrik Walesi, Kabupaten Jayawijaya, pada tanggal 8 hingga 10 Agustus mendatang.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, dalam FBLB 2018, akan diadakan simulasi peperangan yang digelar selama dua hari berturut-turut. Menampilkan sekitar 26 kelompok yang terdiri dari 30-50 pejuang, adegan pertempuran ini akan diiringi dengan musik tradisional Papua, Pikon.

Alat musik Pikon adalah alat musik yang terbuat dari kulit kayu dan akan menghasilkan suara saat ditiup. Suara yang dihasilkan bersifat menenangkan. Kini, hanya sedikit warga Papua yang bisa memainkan alat musik ini, karena untuk memainkannya dibutuhkan keahlian khusus.

Selain peperangan, festival yang bertujuan untuk memperkenalkan dan melestarikan nilai dan budaya suku asli penghuni Lembah Baliem ini akan diramaikan dengan berbagai macam pertunjukkan tradisional lainnya.

Di antaranya adalah tarian tradisional, balap babi, lempar Tombak Rotan Puradan, permainan Tombak Sikoko, pertunjukkan musik tradisional Papua, dan masih banyak lagi.

Selain itu, Anda juga bisa merasakan bagaimana sensasi saat mengenakan kostum tradisional Papua dan Koteka sehingga bisa mengikuti jalannya Festival.

Written by Agus A. Pribadi

Penikmat film, sastra, musik dan penyuka bola musiman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Terdengar Unik, 5 Lagu Indonesia Ini Liriknya Diubah dalam Bahasa Jepang oleh Hiroaki Kato

Terdengar Unik, 5 Lagu Indonesia Ini Liriknya Diubah dalam Bahasa Jepang oleh Hiroaki Kato

Anak Jaman Sekarang Makin Cerdas, Maka Bunda Juga Harus Lebih Cerdas

Anak Jaman Sekarang Makin Cerdas, Maka Bunda Juga Harus Lebih Cerdas