Fahrenheit 451: Tentang Karya yang Melampaui Zaman
Sumber gambar: indiewire
in

Fahrenheit 451: Tentang Karya yang Melampaui Zaman

UGETUGET – 451 derajat Fahrenheit adalah suhu udara yang dibutuhkan untuk membuat buku terbakar dengan sendirinya. Dan Fahrenheit 451 adalah judul novel fiksi ilmiah karya Ray Bradbury yang diterbitkan pada tahun 1953.

Buku ini berkisah tentang masa depan yang jauh, di mana pemerintah menegakkan sensor ketat atas seluruh karya seni yang dirasa tidak sesuai dengan visi misinya. Setiap karya seni, sebagian besar buku, akan dibakar oleh satuan khusus pemerintah. Karena nilai penting buku yang ditakutkan akan memberikan kebenaran alternatif, dari kebenaran yang disampaikan pemerintah, kita pun bisa memahami urgensi dari satuan ini.

Barangkali, di Indonesia, nilai satuan ini setara dengan satuan anti huru-hara, Densus 88, atau satuan khusus lainnya yang bertujuan sebagai kepanjangan tangan pemerintah dalam menjaga kondisi dan menegakkan peraturan.

Karya dan Konteks Fahrenheit 451

Tahun 1953, tahun buku ini dicetak dan didistribusikan, merupakan tahun yang panas. Dunia sedang terbelah ke dalam 2 kubu, kapitalisme dengan Amerika Serikat sebagai punggawanya, dan Uni Soviet melalui sosialisme. Meski tidak ada perang terbuka sebagaimana perang-perang sebelumnya, bukan berarti kondisi aman. Negara dunia ketiga menjadi ruang pertempuran yang mempertemukan pengaruh serta kekuasaan dari kedua ideologi tersebut. Darah tumpah di segala penjuru bumi.

Fahrenheit 451: Tentang Karya yang Melampaui Zaman
Salah satu adegan dari film Fahrenheit 451 versi Francois Truffaut. (Sumber gambar: cantodosclassicos)

Pada tahun 1966, saat Perang Dingin seakan belum memperlihatkan akhir, salah satu sutradara penggagas Gelombang Baru Prancis (France New Wave), Francois Truffaut, mengadaptasi novel Fahrenheit 451 ke layar lebar. Hasilnya, film ini mendapat sambutan meriah dari publik dan masuk ke dalam nominasi peraih Golden Lion dalam Festival Film Venice.

Meski akhirnya gagal untuk mendapatkan penghargaan tersebut, film ini berhasil menarik perhatian karena relevansi kenyataan yang sebenarnya dengan yang digambarkan di dalam film begitu erat. Seakan-akan, film tersebut menjadi nubuat akan kehidupan masyarakat dalam pemerintahan otoriter dan diktator. Film ini mendapatkan momentumnya.

Kita di Indonesia pun mengalaminya. Model pemerintahan represif dan otoriter. Saya pun tidak perlu berpanjang lebar. Dan film ini termasuk salah satu film adaptasi yang memuaskan, setidaknya bagi saya pribadi. Mengingat kedekatan kondisi film dengan kenyataan pribadi yang saya alami.

Fahrenheit 451 Terkini

Tahun 2018, terhitung 52 tahun dari waktu peluncuran film Fahrenheit 451 dan 65 tahun jarak antara penerbitan bukunya. Kondisi dunia terhitung lebih stabil. Meski ideologi masih digunakan sebagai landasan melancarkan agresi, tapi jika kita membaca lebih detil, apa yang melatarbelakangi setiap serangan hanya minyak.

Dengan kata lain ekonomi. Seperti diktum lama, “jika ingin mengetahui muasal konflik pada zaman ini, telusuri jalur minyaknya”. Hal ini mengisyaratkan, ideologi hanyalah alat. Hanya salah satu metode untuk menyatukan massa dalam satu wadah, untuk kemudian menciptakan friksi pada wadah lain.

Memang masih ada satu pemerintahan otoriter, yaitu Republik Korea Utara. Bukti berupa gambar dan suasana negara pun sudah banyak tersebar di dunia maya. Dan negara ini, tampaknya merupakan representasi langsung atas buku Fahrenheit 451, kondisi di mana kekuasaan negara berefek hingga ke kehidupan personal. Hingga bangunan mental dan cara berpikir penduduknya.

Fahrenheit 451: Tentang Karya yang Melampaui Zaman
Sumber gambar: indiewire

Di tahun ini pula, sutradara Ramin Bahrani meluncurkan Fahrenheit 451 yang tuntas direproduksi. Sutradara yang film-filmnya berulangkali masuk nominasi peraih penghargaan berbagai festival besar di dunia menyadari, betapa kekuatan sebuah cerita mampu menembus zaman, khususnya novel Fahrenheit 451.

Bekerja sama dengan co-writer Amir Naderi, Ramin sukses menghantarkan Fahrenheit 451 agar lebih relevan dan aktual bagi masyarakat terkini. Tidak hanya bahasa, tapi banyak titik plot yang, dengan penuh keberanian tentunya, ia ubah. Bukan tanpa alasan, latar cerita serta kejadian dari novelnya sendiri tampak begitu jauh. Apa yang tertulis, sebagai contoh teknologi, kini sudah bisa kita nikmati dalam kehidupan. Maka, perubahan adalah sesuatu yang pasti, agar visi dari novel tetap tersampaikan secara utuh kepada penontonya.

Setiap perubahan pasti akan melahirkan pro dan kontra. Melahirkan syak wasangka. Begitu pula dengan perubahan yang ada dalam film ini. Terlebih bagi para penggemar karya-karya Ray Bradbury, dan novel Fahrenheit 451 pada khususnya, akan merasa apa yang dilakukan Ramin adalah penghinaan.

Memang, upaya Ramin terlihat gagal pada beberap bagian –terlebih pada wilayah kekuatan alegori dan twist yang porsinya berkurang sangat banyak. Namun bagaimanapun, upaya Ramin tetap layak untuk mendapatkan tepuk tangan. Ia berani dan membuat apa yang ada di zaman lampau, untuk eksis atau ada di zaman kini, dan menjadi relevan untuk dinikmati baik secara isi, bentuk karya, maupun kontekstualitas peristiwanya.

Written by Agus A. Pribadi

Penikmat film, sastra, musik dan penyuka bola musiman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Soal Kasus Pelecehan Via Vallen, Begini Tanggapan Komnas Perempuan

Soal Kasus Pelecehan Via Vallen, Begini Tanggapan Komnas Perempuan

Inilah Pelayan Manusia di Masa Depan: Otomat Sally

Inilah Pelayan Manusia di Masa Depan: Otomat Sally