Ngepop

Estehanget: Kesatria Musik Gamelan Javanese

UGETUGET – Sebagai kesatria musik gamelan Javanese, perjalanan Estehanget sangat menarik untuk diikuti.

Kelompok ini terdiri dari banyak orang. Ada Madek Monsterkata, Faruk Blackpowder, dan masih banyak yang lainnya. Pertama kali saya melihat perform mereka justru melalui video pementasan yang dimiliki oleh Himpunan Mahasiswa Prancis (Hiper) UNY. Judul pementasannya adalah Jonggrang.

Dalam pementasan yang mengambil kisah Rara Jonggrang tetapi dipentaskan dengan menggunakan Bahasa Prancis tersebut, teman-teman Estehanget berperan sebagai pengisi ilustrasi musik alias penabuh gamelan. Tentu saja dengan langgam khas musik gamelan javanese.

Dari situlah saya mulai berkenalan dengan Madek Monsterkata. Saya masih ingat betul saat pertama kali ikut latihan bersama kelompok ini di Tembi Rumah Budaya.

Sepulang latihan, biasanya mereka selalu menyempatkan diri ke angkringan di dekat makam para raja Imogiri. Wedang bajigurnya sangat enak!

Cah-cah ki akeh-akehe justru basic’e seni rupa. Dha nduwe kumpulan, jenenge Paguyuban Sidji,” ucap Madek.

Pernyataan tersebut saya buktikan sendiri, karena beberapa bulan kemudian kami bertemu di sebuah tempat penjualan bahan dan alat sablon legendaris di Yogyakarta, Wijaya. Kebetulan saya juga pernah bekerja menjadi sabloner.

Grup Estehanget ternyata juga pernah tampil di Haul Chairil Anwar KMSI UNY di tahun 2009. Kalau tidak salah ingat, juga ada grup Zoo yang terkenal dengan album Trilogi Peradaban, turut meramaikan acara tersebut.

Saat ini, Estehanget gamelan sudah mendirikan sebuah tempat usaha kreatif mereka sendiri di daerah Sriharjo, Bantul. Tempat ini mereka namai sebagai Gazebo Estehanget.

Di proses kreatifnya, mereka juga pernah beberapa kali membuat video performance. Ada satu video yang mereka namai sebagai “estehanget project # 1”. Konsep videonya sederhana, tetapi ditampilkan secara menarik dan mistik.

Ada seorang Jawa yang bermahkotakan kenong gamelan. Ia mengenakan surjan dan menggunakan jarik dengan motif poleng. Sangat gagah dan menyimbolkan sifat kesatria.

Lalu ada tiga orang yang mengenakan topeng asing, ingin merebut mahkota kenong gamelan tersebut. Dari proses mengendap-endap, hingga rebutan secara langsung pun tak dapat terhindarkan. Orang Jawa itu pun harus kehilangan mahkotanya.

Tetapi, seperti kisah klasik lainnya, sang Jawa ini pun berhasil merebut kembali mahkota kenong gamelannya. Adegan itu membuat saya tersenyum puas dan bangga. Seperti halnya nama Estehanget, yang ternyata merupakan singkatan dari Esemmu tansah angangeni ati (senyummu selalu membuat hati rindu).

Dengan tagline: gamelan itu baik.

Persis kaya esemmu, Dik, dan kamu itu baik.

Leave a Comment

Pingin konten seru tiap hari?

Dapetin konten menarik di emailmu

Makasih bro, tunggu konten dari kami ya

Ada kesalahan, coba ulangi lagi