Es Lilin Jadul dari Bantul Sampai Alun-Alun Kidul uget uget

Es Lilin Jadul dari Bantul Sampai Alun-Alun Kidul

UGETUGET – Terik matahari mulai silih berganti menuju senja. Semangat tinggi mbah Jumiyo jualan es lilin dengan mengayuh sepeda ontel, meski terik matahari menyambar kulit sawo matangnya. Sekitar setengah tiga sore, Ia mulai kayuh setiap uliran pedal ontelnya dari perbatasan Bambanglipuro dan Pandak sampai ke Alun-alun Kidul. Tak ada kata mengeluh yang keluar dari mulut mbah Jumiyo. Ia lakukan demi menghidupi keluarganya.

Mbah Jumiyo hanya tinggal bersama istri dan cucunya. Ketiga anaknya justru berada jauh darinya. Anak pertamanya berada di Kediri, sedangkan kedua anak lainnya berada di Kalimantan dan Kediri. Ketiga anaknya pernah menyarankan mbah Jumiyo untuk istirahat. Dengan kata lain, berhenti berjualan.

Mengingat usianya hampir satu abad, tepatnya 92 tahun. Usia itu sudah masuk kategori usia rawan. Tubuh sudah tidak sekuat sewaktu masih usia 20 tahunan, segala penyakit juga mudah menyerang kapan saja. Segala kemungkinan mbah Jumiyo tiba-tiba sakit atau jatuh dari sepedanya bisa terjadi. Inilah yang membuat ketiga anaknya khawatir, sehingga melarang mbah Jumiyo berjualan lagi.

Namun, justru mbah Jumiyo merasa tubuhnya masih sehat. Secara fisik, badan pendeknya mbah Jumiyo nampak sedikit gemuk, terutama di bagian perutnya. Kuat berjalan ke sana ke sini tanpa bantuan alat. Langkah kakinya masih nampak gagah tanpa kesulitan sedikitpun. Kulit tangan dan wajahnya juga tidak nampak ada kerutan, layaknya seorang kakek yang masih muda di bawah 70 tahun.

Mungkin tak apa jika mbah Jumiyo berjualan di daerah dekat rumahnya. Namun, kenyataannya mbah Jumiyo justru memilih sendiri menawarkan dagangannya ke Alun-alun Kidul. Menurut mbah Jumiyo, di Alun-alun Kidul banyak orang atau ramai, jadi bisa laku banyak. Kalau dibanding dengan di Pasar Gabusan itu sepi. Hanya ketika ada pameran, barulah mbah Jumiyo menawarkan dagangannya di sana.

Istilah es lilin memang tidak asing ditelinga anak-anak zaman dulu. Zaman dulu minuman ini menjadi minuman idola. Namun, sekarang sudah sulit ditemukan penjual minuman es ini, seiring merebaknya jajanan instan. Bahkan, jajanan waktu SD ini sudah tidak banyak lagi ditawarkan di SD, SMP, atau keliling di setiap rumah warga.

Es lilin bisa dianggap jajanan jadul. Sampai-sampai dagangan mbah Jumiyo ditulis Es Lilin Jadul dan Es Jadul. Kata jadul kepanjangannya jaman dulu. Artinya, mbah Jumiyo ini menjual jajanan zaman dulu. Jajanan yang sekarang ini tidak terlalu diminati banyak orang.

Sudah menghabiskan waktu 5 tahun, mbah Jumiyo berani menjajakan es lilin di Alun-alun Kidul. Ia tidak merasa khawatir sedikitpun jika dagangannya tak laku. Dengan membawa enam kotak tempat es lilin, tak tentu ia bisa menjual habis. “Kalau habis ya alhamdulillah, kalau tidak ya dimasukkan ke freezer.”

Namun, sebenarnya mbah Jumiyo menjual es lilin sejak tahun 1970-an. Pada tahun itu, mbah Jumiyo baru mengambil es lilin dari penjual lain. Kemudian, ia tawarkan keliling di setiap SD. Namun, semenjak di SD dibangun kantin sendiri dan dilarang penjual lain yang tanpa izin untuk masuk ke lingkungan SD, barulah mbah Jumiyo bergeser ke Alun-alun Kidul. Sejak itu pula mbah Jumiyo membuat es lilin sendiri.

Barang dagangan boleh jadul, tapi penghasilan takkan pernah mandul. Selama mampu mengayuh, selama itu pula kebutuhan ia dan istrinya masih terpenuhi. Menjajakan es lilin di usia senja menjadi pilihannya. Tidak ada yang mampu menghentikannya sampai takdir menentukan.

Sumber gambar: hello-pet.com

Yuk, Dapetin Konten Keren di Email

Kita pilihkan konten yang pasti kamu suka. Masukkan emailmu