Duka Suporter Bola, Duka Indonesia, Duka Manusia
Sumber gambar: Detik.com
in

Duka Suporter Bola, Duka Indonesia, Duka Manusia

UGET-UGET | Saya bukan seorang suporter, pun penggila bola. Saya menulis dan mengutarakan pendapat tanpa mewakili siapapun, atau instasi manapun. Saya adalah manusia, dan sebagai manusia, saya sedih dan merasa kecewa atas kekerasan berujung meninggalnya satu suporter di provinsi yang katanya istimewa, DI Yogyakarta.

Diberitakan, seorang suporter meninggal dunia setelah laga PSIM Yogyakarta melawan PSS Sleman di Stadion Sultan Agung (SSA), Bantul, Kamis (26/7). Pemuda berumur 16 tahun tersebut menghembuskan nafas terakhir di RS Permata Pleret.

Dilansir dari Detik.com, Iqbal dilarikan ke rumah sakit setelah terlibat bentrok dengan sesama suporter usai pertandingan. Menurut kabar yang beredar, korban dikeroyok oleh suporter dari pendukung tim lain. Pengeroyokan tersebut menjadikan luka lebam di mata kiri dan bagian dalamnya.

Tentang Bola dan Suporternya

Saya tidak memahami bagaimana atmosfer para pendukung bola. Bagaimana kefanatikannya terbentuk dari hilir ke hulu, hingga sering menghasilkan beragam bentrok saat bertemu suporter dari klub sepak bola lain. Memang ada, jenis suporter yang malah menjalin hubungan erat dengan suporter lain, namun lebih banyak yang terlibat perseteruan.

Duka Suporter Bola, Duka Indonesia, Duka Manusia
Sumber gambar: Detik.com

Saya pun memahami, sebagai penyuka bola musiman dan tidak memiliki hubungan dengan satu kelompok suporter, saya tidak memiliki hak untuk memprotes maupun melayangkan hujatan kepada mereka yang aktif di dalamnya. Bukan proporsi saya untuk mengomentari dengan kapabilitas dan kapasitas semacam itu.

Namun, saya adalah manusia. Suporter itu juga manusia, pun dengan Muhammad Iqbal yang menjadi korban pengeroyokan kemarin. Dan sebagai manusia pula saya akan mengomentari insiden kemarin sebagai hal yang menyedihkan dan memalukan.

Bagaimana tidak, saat hidup di Indonesia demikian menyenangkan, tak ada kemungkinan kematian akibat faktor alam ataupun sistem pemerintahan, kita malah leluasa melayangkan amarah, pukulan dan dendam atas nama membela nama besar.

Bukankah hidup di Indonesia itu demikian enak dan menyenangkan? Ketika orang-orang dari belahan bumi lain selalu terancam hidupnya akibat peperangan yang tak pernah berhenti, kelaparan, atau pun musim yang terlalu keras bagi kehidupan, kita bisa duduk syahdu sambil menikmati kopi. Tanpa kecemasan besok mau makan apa dan bagaimana hidup akan diolah.

Lalu, apa yang menjadikan Anda berhak untuk memutuskan nyawa seseorang, jika itu adalah urusan takdir dan Tuhan?

Written by Agus A. Pribadi

Penikmat film, sastra, musik dan penyuka bola musiman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Syahrini Lagi, Kontroversi Tiada Henti

Syahrini Lagi, Kontroversi Tiada Henti

Bulan Pesona Lombok-Sumbawa 2018: Keindahan Alam Dipadu Kekuataan Budaya dan Seni

Bulan Pesona Lombok-Sumbawa 2018: Keindahan Alam Dipadu Kekuataan Budaya dan Seni