uget uget - Desainer Lokal Sasta Kirana Putri
Sumber gambar: bonvoyagejogja.com
in

Desainer Lokal Sasta Kirana Putri

UGETUGET – Sasta Kirana Putri, desainer lokal kelahiran Yogyakarta, 16 September 1974 ini menekuni karier di dunia desain selama hampir 18 tahun. Sebagian besar baju buatannya berbahan dasar katun dengan teknik cetak batik handstamp. Menurutnya, selain murah dan berisiko rendah, katun juga mudah untuk dijahit. “Bahan tidak terlalu mahal, tetapi jualnya bisa mahal, karena aku menjual ide dan desain,” ungkapnya

Menurut wanita lulusan Hubungan Masyarakat, Komunikasi FISIP UAJY ini, dalam sebuah karya, kreativitas memegang peranan penting. “Bahan boleh sama, tetapi desain bisa diganti sesuka hati, di mix and match (padu padan),” tambahnya. Uniknya, sketsa handstamp yang ia gunakan bukan terbuat dari tembaga, melainkan menggunakan kertas karton. “Namanya juga bisnis, gimana caranya bikin batik yang murah, ini cap non-tembaga cuma Rp 50ribu, kerja sama dengan Omah Kreatif Batik Dongaji.”

Sasta hanya butuh waktu satu hari untuk menyelesaikan satu sketsa handstamp. Desainer beraliran naivisme ini mengaku, mengumpulkan sampah karton dan kertas kalender bekas. “Nilai plusnya ada di sini karena tidak nyampah, kita turut menjaga lingkungan, atau buat dari cup gelas yang tahan panas itu juga bisa,” ungkap wanita yang mempelajari seni desain secara otodidak ini.

Kertas karton dibentuk kemudian ditempel dengan lem G. “Sketsaku dituangkan dalam bentuk handstamp ini.” Proses Sasta dalam mendesain yang cenderung mengalir saja, membuatnya identik dengan aliran naivisme yang tidak memegang aturan baku tertentu. “Aliranku kan naif, kekanak-kanakan, gambarnya lucu, sekenanya gitu loh, bukan realis oh ayamnya harus terlihat seperti ayam asli, bukan,” ungkapnya.

uget uget - Desainer Lokal Sasta Kirana Putri 2
Foto: Mahfud

 

uget uget - Desainer Lokal Sasta Kirana Putri
Foto: Mahfud – Baju-baju karya Sasta Kirana diperagakan oleh pragawati dalam acara Local Trunk Show di Lippo Plaza, 16/9 lalu.

Alirannya menjadikan setiap desain atasan, rok, maupun gaunnya memiliki ciri khas tersendiri. “Ini aku mencoba untuk menciptakan sendiri, ini batik ciri khasku, jadi orang lain nggak akan punya, kita mencoba menjadi lain dari yang lain,” tandas Sasta. Menurutnya, tekstil baju buatannya sendiri yang ia beri nama Sasta Canira ini sudah memiliki keunikannya sendiri karena merupakan buatan tangan manusia (handmade). “Jadi bisa lebih dirasakan,” tambahnya.

Nama Sasta Canira, sendiri diambil dari namanya Sasta dan Canira. Canira diambil dari ca Hanacaraka yang artinya kreativitas dan nira adalah pohon nira. “Jadi kreativitas yang berguna untuk apapun dan siapapun, nira bisa jadi gula jawa, makanan, pewarna kain. Intinya maknanya baik,” tukasnya.

Ia mengaku dalam setiap karyanya, sumber inspirasinya berasal dari lingkungan dan referensi majalah. “Sumber inspirasi itu banyak, pertama dari yang kita lihat sehari-hari, kedua dari sumber referensi bisa tulisan dan visual, misal review dari desainer lain,” ungkap wanita 43 tahun ini.

Model-model desain buatannya biasanya bergaya simpel minimalis yang siap pakai. “Saya bikin yang net-a-porter atau ready to wear dan juga daily to wear, meskipun tidak menutup kemungkinan untuk dipakai di acara resmi ke kantor atau kondangan,” jelasnya.

Wanita ini mengaku saat ini sedang fokus menggarap animal print motif batik ayam. “Sebenarnya nggak cuma hewan buaya, katak, kucing, capung, ada juga tumbuhan, semua bisa nanti berjalan dengan sendirinya.” Baginya, bumi dan seluruh seisinya adalah objek, dan inspirasinya tidak melulu objek tunggal.

uget uget - Desainer Lokal Sasta Kirana Putri 3
Sasta Kirana Putri saat ditemui di kediamannya, Karangjati DK V Jetis RT 05 Desa Tamantirta Kasihan Bantul, DIY (24/9).

Sasta dalam mendesain baju, mengaku tak pernah terjebak dalam suatu masa. “Kadang aku tidak mengikuti tren, tapi justru jadi trendsetter, dan aku itu seniman yang nggak ingin karyanya dijiplak, jadi aku membidik segmen lain supaya tidak ada saingan.” Dalam proses mencipta suatu baju, ia pernah memakai berbagai jenis kain, mulai dari tenun lurik, sibori, blaco, hingga batik. “Jadi dalam satu baju itu tidak cuma batik ayamku saja, tapi dipadu padan dengan dengan kain lain.”

Ia biasa mengikuti acara bertajuk fashion show dan pameran untuk mengenalkan sekaligus memasarkan karyanya. Bila berkunjung ke pasar seni FKY, kita sudah tak jarang melihat produk brand Sasta Canira. “Di sana bisa terjual 50 baju blouse simpel gitu.” Belum lama ini karya-karya Sasta juga didapuk untuk mengisi Local Trunk Show di Lippo Plaza, tepatnya 16 September lalu.

Kala itu, Local Trunk Show menjadi ajang yang bertujuan untuk mendukung karya-karya desainer lokal. “Aku persiapkan tema Bertemu Pagi dan aku keluarkan lima outfit dari bahan dua kain lembaran ukuran 200 x 115 cm, dalam waktu seminggu.” Dari fashion show tersebut, Sasta berhasil menjual 3, sedangkan satu sudah dipesan untuk besok Desember, sisa satu. Dalam acara ini, karya-karya Sasta tampil bersama karya dua desainer lokal lain, Aditya Pangestika dan Elsen Nugroho.

Konsep Bertemu Pagi ia implementasi dalam warna dan motif ayam. “Biru itu simbol langit, terus ada putihnya, lalu kalau pagi unsur dominannya kuning matahari, nah terus kalau pagi kita dibangunkan siapa? Ayam,” ujarnya. Proses pencetakan batik semua ia serahkan ke Omah Kreatif Batik Dongaji, sementara proses penjahitan ia serahkan pada empat karyawannya. “Pembuatan batik itu peralatannya harus lengkap, jadi kerja sama dengan yang punya alat. Menjadi desainer kan tidak harus bisa menjahit, kita bisa bentuk tim, ya punya wilayah masing-masing,” tukasnya.

Cara kerja semacam ini menurutnya menekankan pada pemberdayaan penjahit-penjahit di desanya. “Kita bisa memberdayakan perempuan-perempuan daripada nganggur, mereka mengerjakannya di rumah masing-masing untuk mengurangi risiko perjalanan, hemat bensin, dan lain-lain,” jelasnya

Untuk bisa mendapatkan setelan baju unik minimalis ini, pembeli cukup mengeluarkan uang dengan kisaran Rp 200 hingga Rp 700 ribu saja. “Seorang desainer, khususnya teknik handmade manual, perlu apresiasi lebih dari pembelinya akan proses pengerjaan di baliknya,” tutupnya.

Sumber gambar: Bonvoyagejogja.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

uget uget - Chip Komputer Canggih Intel Bikin Chip Superkonduktor Kuantum

Chip Komputer Canggih: Intel Bikin Chip Superkonduktor Kuantum

uget uget - Makanan Lezat Dan Enak- Sajian Durian Gantalmas

Makanan Lezat Dan Enak: Sajian Durian Gantalmas