Menikmati Coto Makassar Rasa Jogja
Sumber gambar: cookpad.com
in

Menikmati Coto Makassar Rasa Jogja

UGET UGET – Bagaimana jadinya jika dua kebudayaan dengan cita rasa berbeda menyatu di dalam mangkuk makanan? Datanglah ke Jogjakarta. Layaknya miniatur Indonesia, di sana akan kau temukan berbagai macam masakan dari penjuru nusantara.

Tentu saja dengan cita rasa yang berbeda. Tidak melulu mempertahankan resep, makanan-makanan di Jogja telah mengalami inovasi untuk menyesuaikan dengan lidah orang Jawa. Apa pun yang kau makan, pasti telah dibarengi dengan identitas Jogja. Entah masakannya yang lebih dominan manis, hingga kerupuk yang menjadi ciri khas masakan Jawa.

Coto Makassar misalnya. Di Jogja, kau akan dapati warung Coto Makassar di berbagai tempat, mulai dari makanan ala warung mahasiswa yang murah meriah, ataukah makanan ala kafe yang harganya selangit.

Bagi mahasiswa sepertiku, yang punya kantong tipis, terdapat beberapa warung yang cocok untuk kau datangi. Namun dari beberapa tempat itu aku rekomendasikan Warung Coto Kriuk di Jalan Pandean Raya Glagahsari. Suasananya sederhana. Namun tidak dengan rasa dan improvisasinya.

Warung ini buka dari pukul tujuh pagi hingga sepuluh malam. Namun layaknya coto yang sejatinya makanan siang, lebih baik datang di waktu istirahat siang perkantoran. Di tengah terik Jogja yang semakin gerah, warung ini menyediakan Es Pisang Ijo, minuman khas Makassar yang berbahan utama pisang dan sirup. Beruntung sirup yang dipakai adalah sirup DHT, khas Makassar juga. Pasti langsung membuat badan dan hatimu segar. Harganya pun sangat murah, hanya enam ribu rupiah per porsi.

Setelah segala penat diterbangkan segarnya Es Pisang Ijo, lantas pesanlah Coto Makassar. Di sini sangat murah. Coto Daging hanya delapan ribu rupiah per porsi (bandingkan, di Makassar paling murah lima belas ribu rupiah). Tidak membuat kantongmu kering, kan. Nah, tambahlah dengan memesan seikat dua ikat buras. Sebab, Coto Makassar yang hanya berisi kuah dan daging, tentu tidak akan membuatmu kenyang.

Jika di Makassar sana, sangat jarang kau temui Coto Makassar yang dimakan dengan buras. Biasanya ketupat. Nah, yang paling unik dari coto kriuk ini adalah penambahan peyek, kerupuk yang lebih identik dengan masakan Jawa. Bagiku, yang berasal dari lumbung Coto Makassar, tentu penambahan peyek adalah semacam “Jawanisasi” Coto yang terbilang unik.

Tidak sampai di situ. Jika pada umumnya Coto Makassar mempertahankan aroma daging yang kuat, di tempat ini akan kau temui daging dengan aroma lebih lembut. Lantaran orang Jawa yang terbiasa merendam daging terlebih dahulu selama berjam-jam dengan menggunakan daun pepaya.

Daging yang lembut, kuah yang lebih manis, dan peyek yang membuat Coto Makassar lebih kriuk, begitulah Warung Coto Kriuk ini melakukan inovasi terhadap Coto Makassar, demi menyesuaikan lidah orang Jogja.

Menarik untuk dinikmati. Bagi kamu yang pernah mencicipi Coto Makassar yang “asli”, tidak adanya salahnya mencoba sensasi baru. Namun sepertiku yang telah merantau dan menetap di Jogja, rasanya adalah suatu kenikmatan tersendiri melihat bagaimana orang-orang Jogja bisa menyantap Coto Makassar dengan lahap.

Sumber gambar: cookpad.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Ingat Beda Racun, Beda Gejala, Beda Cara Memberikan Pertolongan Pertama pada Anak

Ingat: Beda Racun, Beda Gejala, Beda Cara Memberikan Pertolongan Pertama pada Anak

Cara Jitu Hadapi Pertengkaran Buat Kesepakatan Bagaimana Treatment Penyelesaian Masalah Kalian

Cara Jitu Hadapi Pertengkaran: Buat Kesepakatan Bagaimana Treatment Penyelesaian Masalah Kalian