Civitas Akademika Tanggapi dan Diskusikan Rapor 3 Tahun Pemerintahan Jokowi JK
Sumber gambar: www.penyalainews.com
in

Civitas Akademika Tanggapi dan Diskusikan Rapor 3 Tahun Pemerintahan Jokowi-JK

UGET UGET – Pemerintahan dengan akademik menjadi dua dunia yang sering kali tidak terkoneksi. Civitas akademika merupakan ranah riset yang isinya berupa pemikiran reflektif, sehingga momennya akademik. Berbeda dengan pemerintahan yang ranahnya adalah pengambilan kebijakan, di mana isinya berupa negosiasi, dan momennya adalah momen politik. Dua dunia ini memang sejatinya merupakan dualitas yang berbeda. Namun melalui diskusi publik, “Telaah Kritis 3 Tahun Pemerintahan Jokowi-JK,” yang diadakan Rabu (20/12) kemarin, dua dunia itu semakin menemukan titik terang kesinambungannya.

Dari tulisan saya terkait rapor 3 tahun pemerintahan Jokowi-JK, beberapa civitas akademika dari UGM, UMY, UIN, tak ketinggalan perwakilan dari media, bupati, turut diundang sebagai penanggap. Alfath Bagus, Presiden Mahasiswa BEM KM UGM 2017 mewakili mahasiswa, memberikan kritiknya pada menurunnya indeks demokrasi, politik identitas, pengawasan lembaga penegakan hukum, dan efektivitas pemilu.

Di sini menarik menurut saya, di mana dia menyinggung mengenai jargon, “Saya Indonesia, Saya Pancasila.” Bangsa Indonesia terdiri dari latar belakang berbeda, namun ada simpul yang menyatukan. Maka penting untuk menekankan identitas kekitaan, daripada keakuan. Biaya pemilu yang cukup tinggi juga diharapkan bisa melibatkan masyarakat dan menghasilkan orang-orang terbaik pula.

Tanggapan juga muncul dari Bupati Kulonprogo, Hasto Wardoyo, yang belakangan ini menggebrak lewat revolusi kecil-kecilannya lewat program Bela Beli Kulonprogo. Menanggapi pemaparan Yanuar, Hasto menyarankan beberapa hal. Pertama terkait revolusi mental. Dia menilai nawacita baik untuk dibuatkan program, karena selama ini kita cenderung mendeskripsikan sendiri-sendiri. Selama ini revolusi hanya terkait inovasi, belum sampai pada mengubah mindset. “Nantinya kita akan menemukan treatment, stunting bisa diatasi dengan revolusi makan ikan. Sehingga tidak perlu beli daging beku dari Australia. Ibu hamil tidak butuh lemak jenuh, lebih baik menggantinya dengan lele,” ujarnya.

Civitas Akademika Tanggapi dan Diskusikan Rapor 3 Tahun Pemerintahan Jokowi-JK
Foto: Elisabet Selsyi – ugetuget.com

Achmad Nurmandi, Wakil Rektor UMY juga menginginkan adanya konsolidasi pemerintahan. Sudah kah pemerintahan Jokowi-JK kerja bersama? menjadi pertanyaan mendasar. Dia menginginkan aktor-aktor pemerintahan bergerak cepat. “Pemerintah luput mengawasi pejabat di bawah presiden dalam mengelola anggaran negara, seperti direktur, deputi, dirjen, padahal di situ sering muncul penyakit (korupsi),” ujarnya. Dia pun menegaskan upaya pembangunan manusia khususnya di timur Indonesia. “Kenapa tidak bangun orang Papua lewat sepak bola, sebab kita tahu sendiri kalau lewat pendidikan agak sulit,” tambahnya.

Pemimpin Redaksi Harian KR, Otto Lampito juga mengutarakan pengamatannya terhadap pemerintahan Jokowi-JK. Dia melihat fenomena kegaduhan di era sekarang, tak lagi hanya disebabkan oleh mahasiswa maupun LSM, melainkan juga dari legislatif dan yudikatifnya. Masa pemerintahannya juga cenderung membangun keberagaman. “Pak Jokowi juga pandai mengenai medsos. Jokowi kerap membuat kejutan untuk media. Pernikahan anaknya, antara Jawa-Batak juga mengubah kultur,” paparnya. Strategi menaikkan dan menurunkan harga BBM dengan cepat juga menarik menurutnya, “ini membuat orang repot mau demo.”

Alimatul Qibtiyah, Wakil Dekan 2 Fakultas Dakwah & Komunikasi UIN YK, memberikan penekanan terkait porsi perempuan pada kabinet. “Kuota 30% perempuan harus merealisasikan bahwa dia memang punya kualitas.” Begitu pula dengan naiknya angka perceraian gugat cerai. “Ini perlu diurai terkait isu sertifikasi guru, kemandirian ekonomi, relasi kuasa yang tidak sempurna dipaparkan,” ujarnya. Sebab, menurutnya perempuan bekerja masih dimaknai sebagai upaya kompetisi untuk mendominasi laki-laki.

Berbeda dengan Rimawan Pradiptyo, Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM menilik kembali, kesiapan Indonesia untuk melakukan reformasi agar dapat bertahan 1000 tahun mendatang. “Apakah pegangannya cukup kuat Indonesia dapat bertahan dengan wilayah seluas ini? Pilihannya, kita mau melakukan reformasi ke dalam atau tercerai berai dan mengalami syok besar seperti yang dialami Perancis,” ujarnya. Untuk itu, kita bisa belajar dari dua negara yang kuat referendum, yakni Kanada & Inggris. Dia juga mengapresiasi upaya Jokowi untuk membangun infrastruktur. “Padahal kita tahu infrastruktur baru bisa dinikmati 7-10 tahun ke depan.”

Banyak hal yang didiskusikan dan ditampung oleh Deputi II Kepala Staf Kepresidenan (KSP) untuk diteruskan pada Jokowi-JK dan segenap jajarannya. Dari diskusi tersebut, Yanuar menyimpulkan, dunia akademik bisa menjadi pertimbangan dalam pengambilan keputusan dan pembuatan kebijakan, berdasarkan data dan bukti. Strategi ekonomi dan budaya sehebat apapun kalau kita tidak bisa mengedepankan basis data (evidence based), semuanya percuma.

Sumber gambar: www.penyalainews.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Tantangan Pemain Muda untuk Tandingi Kehebatan Legenda

Tantangan Pemain Muda untuk Tandingi Kehebatan Legenda

Quality Time untuk Diri Sendiri Waktunya bersolilokui

Quality Time untuk Diri Sendiri, Waktunya Bersolilokui